Selasa
27 Oktober 2026 | 11 : 35

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Mbah Jenggot, Penjaga Langen Tayub Tuban yang Bertahan di Antara Panggung dan Perjuangan Hidup

pdip jatim 261027 cucuk lampah 1

Sejak 2001, Suparminto setia menjadi cucuk lampah seni Langen Tayub. Ketika tanggapan ramai, ada penghasilan untuk keluarga. Namun, saat panggung sepi, ia kembali menjadi buruh demi menyambung hidup.

TUBAN – Tidak semua orang yang menjaga kebudayaan berdiri di atas panggung, mengenakan busana indah, lalu mendapat tepuk tangan penonton. Sebagian justru bekerja di balik layar, memastikan pertunjukan tetap berjalan, para seniman berkumpul, dan tradisi yang diwariskan leluhur tidak kehilangan tempat dalam kehidupan masyarakat.

Suparminto, yang lebih dikenal dengan panggilan Mbah Jenggot, adalah salah satunya.

Sejak 2001, ia menekuni dunia seni Langen Tayub di Kabupaten Tuban. Lebih dari dua dekade berlalu, kesetiaannya terhadap seni tradisi itu tetap terjaga. Bukan sekadar sebagai penampil, melainkan sebagai pramuniaga seni, atau cucuk lampah, sosok yang menjadi penggerak sekaligus penghubung agar sebuah pertunjukan dapat terlaksana.

Di balik sebuah pementasan Langen Tayub, ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Ada penari yang perlu disiapkan, pengrawit yang menghidupkan irama gamelan, pesinden yang melantunkan gending Jawa, serta berbagai unsur lain yang mesti berjalan beriringan.

Di antara semua itu, Mbah Jenggot mengambil peran untuk memastikan pertunjukan bisa berlangsung. Ia mencari tanggapan, menghubungkan para pelaku seni, menyiapkan kebutuhan pementasan, hingga membantu mengatur jalannya acara.

Pekerjaan itu mungkin tidak selalu terlihat oleh penonton. Namun, tanpa orang-orang yang mengurusnya, sebuah pertunjukan tradisional tidak mudah diwujudkan.

Bagi Mbah Jenggot, itulah bagian dari pengabdian yang telah ia jalani selama bertahun-tahun.

***

Menjadi pelaku seni tradisional bukan berarti hidup selalu dekat dengan kemeriahan. Ada masa ketika tanggapan datang berturut-turut. Ada pula waktu ketika panggung sunyi dan penghasilan dari seni tak bisa diandalkan.

Mbah Jenggot memahami betul perubahan itu.

Ketika pertunjukan ramai, ia bersyukur karena penghasilan yang diperoleh bisa membantu memenuhi kebutuhan keluarganya. Tetapi saat undangan pementasan sepi, ia harus mencari pekerjaan lain.

Tidak ada pilihan untuk berhenti memenuhi kebutuhan rumah tangga hanya karena panggung sedang tidak memanggil.

“Ketika ramai tanggapan, ya alhamdulillah bisa untuk keluarga. Tapi ketika sepi job, sepi tanggapan, saya juga seperti masyarakat biasa, harus jadi pekerja buruh,” ungkapnya.

Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan gambaran panjang tentang kehidupan para pelaku seni tradisional.

Di satu sisi, ada kecintaan terhadap kebudayaan yang membuat mereka bertahan. Di sisi lain, ada kebutuhan sehari-hari yang tak bisa menunggu sampai pertunjukan berikutnya digelar.

Saat tidak ada tanggapan, sebagian pelaku seni harus bekerja sebagai buruh serabutan, kuli bangunan, atau mengambil pekerjaan lain yang tersedia. Mereka kembali menjalani pekerjaan fisik demi memastikan dapur keluarga tetap mengepul.

Mbah Jenggot pun menjalani kenyataan serupa.

Di sinilah perjuangan seorang penjaga tradisi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mempertahankan kesenian, tetapi juga dengan upaya mempertahankan kehidupan keluarganya.

Kecintaan terhadap seni tidak serta-merta menghapus kebutuhan ekonomi. Sementara kebutuhan ekonomi tidak selalu mampu memadamkan kecintaan seseorang terhadap kebudayaan yang telah puluhan tahun menjadi bagian hidupnya.

Mbah Jenggot memilih tetap bertahan.

***

Bagi Mbah Jenggot, Langen Tayub bukan sekadar hiburan yang hadir ketika masyarakat menggelar hajatan atau acara tertentu. Kesenian ini merupakan bagian dari warisan budaya leluhur yang memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat Tuban.

Di dalam pertunjukan Langen Tayub, berbagai unsur seni bertemu. Ada gerak tari, lantunan gending Jawa, iringan gamelan, serta interaksi antara penampil dan masyarakat yang menyaksikan.

Cucuk lampah menjalankan peran sebagai pemandu dan penghidup suasana. Ledhek atau waranggana menampilkan tarian, pesinden melantunkan tembang, sementara para pengrawit menghidupkan pertunjukan melalui permainan gamelan.

Setiap unsur memiliki peran masing-masing. Semuanya saling melengkapi untuk membentuk satu kesatuan pertunjukan.

Di balik kesenian itu, terdapat pula ruang perjumpaan sosial yang mempertemukan masyarakat. Kebersamaan dan gotong royong menjadi bagian dari kehidupan yang menyertai penyelenggaraan pertunjukan.

Bagi Mbah Jenggot, menjaga Langen Tayub berarti ikut merawat bagian dari identitas masyarakat Tuban.

Namun, pelestarian budaya tentu tidak cukup hanya dengan mengingat masa lalu. Kesenian tradisional membutuhkan ruang untuk terus dipentaskan, pelaku yang bersedia menjalaninya, serta perhatian agar keberlangsungannya tetap memungkinkan.

Tanpa itu semua, tradisi berisiko semakin jauh dari kehidupan masyarakat yang mewarisinya.

***

Sebagai kader PDI Perjuangan Kabupaten Tuban, Mbah Jenggot menyampaikan apresiasi kepada Anggota DPRD Jawa Timur dari Fraksi PDI Perjuangan, Ony Setyawan, yang membidangi urusan terkait seni dan pariwisata melalui Komisi B.

Ia juga mengapresiasi perhatian terhadap Langen Tayub melalui sejumlah pagelaran yang digelar di Tuban bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Menurutnya, kegiatan semacam itu memberi ruang bagi kesenian tradisional untuk kembali tampil di hadapan masyarakat. Pertunjukan bukan hanya menjadi kesempatan bagi penonton untuk menikmati warisan budaya, tetapi juga membuka peluang bagi para pelaku seni untuk kembali bekerja.

“Harapan saya, seni Langen Tayub ini terus hidup, dan pelaku seninya juga bisa hidup sejahtera. Perhatian dari Pak Ony Setyawan sebagai anggota DPRD Provinsi bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemprov Jatim yang beberapa kali mengadakan pagelaran Langen Tayub di Kota Tuban sangat kami apresiasi,” ujarnya.

Harapan itu menyentuh persoalan mendasar dalam pelestarian kebudayaan: bagaimana menjaga kesenian agar tetap hidup tanpa mengabaikan kesejahteraan orang-orang yang merawatnya.

Sebab, sebuah pagelaran memang dapat menghidupkan panggung untuk satu malam. Namun, kehidupan para senimannya berlangsung setiap hari. Mereka tetap harus memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk ketika tidak ada undangan pertunjukan.

Karena itu, perhatian terhadap seni tradisional juga perlu memberi tempat bagi keberlangsungan hidup para pelakunya. Ruang pertunjukan, kesempatan berkarya, dan dukungan terhadap ekosistem kesenian menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya agar tidak berhenti sebagai kenangan.

Bagi Mbah Jenggot, harapan itu bukan sesuatu yang muluk. Ia hanya ingin Langen Tayub tetap dikenal masyarakat, terus mendapat kesempatan untuk dipentaskan, dan para pelakunya dapat menjalani kehidupan dengan lebih sejahtera.

***

Sejak 2001, Mbah Jenggot telah melewati banyak musim dalam perjalanan Langen Tayub Tuban. Ia mengetahui bagaimana rasanya ketika tanggapan ramai, sekaligus memahami beratnya hari-hari ketika tidak ada panggung yang bisa diandalkan.

Namun, kesetiaannya terhadap seni tradisi itu belum berakhir.

Ia tetap menjadi bagian dari orang-orang yang bekerja agar Langen Tayub dapat terus hadir di tengah masyarakat. Di sela pengabdiannya, ia juga harus menjalani kenyataan sebagai pekerja yang mencari nafkah dari pekerjaan apa pun yang tersedia.

Kisah Mbah Jenggot memperlihatkan bahwa pelestarian kebudayaan tidak selalu berlangsung dalam sorotan lampu panggung. Ada perjuangan yang lebih sunyi, dijalani oleh orang-orang yang namanya mungkin tidak banyak dikenal, tetapi perannya penting bagi keberlangsungan sebuah tradisi.

Mereka menjaga kesenian bukan hanya dengan keterampilan, melainkan juga dengan kesabaran dan kesediaan untuk terus bertahan.

Dan selama Langen Tayub masih memiliki tempat di hati masyarakat Tuban, perjuangan orang-orang seperti Mbah Jenggot tetap layak mendapat perhatian.

Sebab, menjaga warisan leluhur bukan hanya tentang mempertahankan sebuah pertunjukan agar tidak hilang. Lebih dari itu, menjaga kebudayaan juga berarti memastikan orang-orang yang merawatnya memiliki kesempatan untuk terus hidup bersama kesenian yang mereka cintai. (dian/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

MILANGKORI

Mbah Jenggot, Penjaga Langen Tayub Tuban yang Bertahan di Antara Panggung dan Perjuangan Hidup

Sejak 2001, Suparminto setia menjadi cucuk lampah seni Langen Tayub. Ketika tanggapan ramai, ada penghasilan untuk ...
SEMENTARA ITU...

Doding Rahmadi Ajak Rider Trail Perkuat Gotong Royong, Bantu Pembangunan Masjid di Trenggalek

TRENGGALEK – Hobi memacu adrenalin di jalur perbukitan dan hutan bisa berjalan beriringan dengan kepedulian sosial. ...
KRONIK

Atasi Kelangkaan Solar, Pemkab Bangkalan Terbitkan Edaran Khusus BBM Petani

BANGKALAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan terbitkan edaran khusus memprioritaskan alokasi Bahan Bakar ...
KRONIK

Polusi Surabaya Makin Parah, Wali Kota Eri Bongkar Penyebabnya

SURABAYA – Kondisi udara Kota Surabaya belakangan ini menjadi perbincangan hangat warganet. Sebagian dari mereka ...
EKSEKUTIF

Mas Dhito Tegaskan Pelaku Bullying di Kediri Bisa Di-DO, Guru dan Orang Tua Diminta Terlibat

KEDIRI – Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana menegaskan tidak akan memberikan ruang bagi tindakan perundungan ...
LEGISLATIF

Fraksi PDIP DPRD Jatim Dukung Perpres Ojol, Dewanti Desak Juknis Transparan

SURABAYA – Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur mendukung penerapan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 27 Tahun ...