SURABAYA – Nama perempuan itu adalah Lidya Latina, kerap dipanggil Cece Lidya, oleh kerabat dan sahabatnya. Dia sangat dikenal di kalangan aktivis maupun pelaku politik.
Apalagi saat menjabat Ketua Aliansi Relawan Jokowi (ARJ) Jawa Timur yang merupakan wadah berhimpun relawan pemenangan Jokowi pada Pilpres 2019. Wajah Lidya, yang cantik, ramah, dan mudah bergaul, membuat dirinya dikenal berbagai kalangan.
Pembawaannya yang ringan tangan, juga membuat dia dipercaya menjadi pengurus berbagai organisasi. Di antaranya sebagai pengurus Badan Kebudayaan Nasional (BKN) DPD PDI Perjuangan Jatim.
Kehadiran Lidya, di setiap acara pasti membawa suasana ceria bagi teman-temannya.
Namun beberapa waktu lalu, Lidya tidak bisa lagi menghadiri acara dan berkumpul lagi dengan kawan-kawan. Dia terpapar covid-19.
Varian Delta telah menyerang dia dan keluarganya. Suami dan 3 anaknya tertular, sehingga kondisinya menjadi kluster keluarga.
“Setelah menjalani swab di sebuah klinik, hasilnya 3 anak saya dan suami positif covid-19, saya sendiri masih negatif,” ungkap Lidya Latina, kepada bisnissurabaya.com, belum lama ini.
Sebagai warga yang baik, Lidya segera melapor kepada Ketua RT terkait kondisi keluarga nya, keesokan harinya didatangi oleh Satgas Covid 19, diminta menyerahkan KTP dan hasil swab. Kedatangan Satgas tersebut, dimanfaatkan oleh Lidya, untuk bertanya perihal obat.
Karena selama ini perempuan penyuka seni tersebut tidak pernah mendapat obat dokter. Dia hanya membeli obat sebagaimana yang dianjurkan teman- temannya saja. Tetapi petugas mengatakan tidak ada obat.
Karena suaminya mengatakan obat yang beli tidak membawa perubahan apapun, maka Lidya membawa suaminya itu ke puskesmas. Tapi sampai di sana sekira jam 15.00 WIB sudah tutup.
Lidya minta dibuatkan resep kepada dokter puskesmas, dan keesokan harinya ada petugas tenaga kesehatan yang mengirim obat. Kemudian dia dan keluarganya diminta kembali datang ke puskesmas untuk tes PCR.
“Saya datang pukul 08.00 WIB dan dapat antrian nomor 45. Karena badan saya drop, saya nunggu di dalam mobil,” jelas pengagum Ahok ini.
Ketika Lidya, menanyakan obat untuk dirinya, petugas mengatakan sudah habis. Akhirnya dia minta dibuatkan resep, dan dia berusaha mencari di apotek, tapi obat yang dimaksud tidak ada.
“Bayangkan saja, saya punya uang tetapi obat tidak ada di apotek se Surabaya,” tambah pengusaha penjual mobil ini.
Atas bantuan teman-teman nya Lidya, mendapatkan obat yang diinginkan. Tetapi kondisi perempuan itu makin parah karena tiba-tiba mengalami sesak nafas. Berkat kesigapan keluarga, dia bisa terselamatkan dengan bernafas menggunakan oksigen.
Masalah kembali muncul, karena oksigen sudah langka di pasaran. Lagi- lagi pertolongan Allah muncul pada saat yang tepat. Ada teman dari suaminya yang pengurus Walubi yang bersedia meminjamkan tabung oksigen seharga Rp 11 juta.
Walaupun ada oksigen, kondisi Lidya tidak makin membaik. Karena setelah dicek di laboratorium, paru- parunya terdapat pneumonia.
Perempuan penghobi bola inipun mendatangi beberapa rumah sakit, tetapi ditolak dengan berbagai alasan.
“Setelah saya telpon ketua saya di PDI Perjuangan Jawa Timur, akhirnya saya diarahkan untuk dirawat di RS. Haji,” tambah penyuka musik rock ini.
Untuk syarat bisa dirawat di RS Haji, Lidya harus menyertakan hasil PCR dari puskesmas.
Dia sudah dirawat selama 5 hari disana, tetapi hasil PCR baru keluar 12 hari kerja. Sementara anak-anaknya yang juga terpapar covid 19 sudah sembuh.
Penanganan puskesmas yang dirasa lambat ini membuat jiwanya terusik. Dia membayangkan banyak pelaku isolasi mandiri di rumah yang akhirnya meninggal dunia karena perawatan yang tidak maksimal. Tetapi untuk bisa dirawat di rumah sakit, juga tidak mudah.
Karena selain masalah rujukan, hasil tes, oksigen, ketersedian tempat tidur masih menjadi kendala. Perempuan kelahiran Surabaya ini, menjalani tes PCR ke 2 bersama sekitar 50 pasien lain di RS Haji.
Disana dia bisa merasakan kinerja tenaga kesehatan yang disana. Mereka tidak hanya tanggap, tetapi penuh perhatian, pasien diantar satu persatu menuju ruang tes dengan menggunakan kursi roda. Lidya saat itu sudah memasuki 8 hari masa perawatan.
Sampai sekarang, hampir. 4 minggu berjalan, hasil tes PCR tak kunjung selesai. Padahal anak-anaknya sangat membutuhkan surat keterangan tersebut.
Menyikapi keadaan tersebut, Ketua Foreder Jatim ini ingin memberikan masukan kepada Pemerintah Kota Surabaya dan instansi terkait, tentang Rumah Sehat yang digagas beberapa waktu yang lalu, terutama berkaitan ketersediaan tenaga kesehatan harus mumpuni dan humanis.
Kini Lidya, sudah sembuh dan menjalankan Isoman di rumah. Dia berharap, agar di musim Pandemi covid 19 ini pelayanan harus dipermudah, tidak boleh subtansial dikalahkan prosedural. (red)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS