Minggu
12 Juli 2026 | 3 : 25

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Koperasi yang Tumbuh dari Kebutuhan akan Lebih Kuat dan Berkelanjutan

pdip-jatim-260306-sub

SURABAYA – Di tengah masifnya pembentukan lebih dari 80 ribu Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), tokoh gerakan koperasi nasional Sri Untari Bisowarno mengingatkan bahwa masa depan koperasi Indonesia tidak ditentukan oleh banyaknya koperasi yang berdiri, melainkan oleh cara koperasi itu lahir. Sebab, koperasi yang tumbuh dari kebutuhan anggotanya akan memiliki daya hidup yang jauh lebih kuat dibanding koperasi yang sekadar dibentuk untuk memenuhi target program.

Menurutnya, ada perbedaan mendasar antara koperasi yang lahir karena kebutuhan dan koperasi yang lahir karena program.

Yang pertama biasanya tumbuh pelan. Anggotanya sedikit, modalnya terbatas, tetapi rasa memiliki sangat kuat. Yang kedua sering lahir dengan gegap gempita, dibentuk dalam waktu singkat, memiliki target yang jelas, tetapi belum tentu mampu bertahan ketika program berakhir.

“Persoalan mendasar koperasi hari ini bukan soal jumlah, tetapi bagaimana koperasi itu lahir. Apakah lahir dari kebutuhan anggotanya atau hanya karena program,” kata Untari, Minggu (12/7/2026).

Pandangan tersebut muncul di tengah masifnya pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Pemerintah mencatat lebih dari 80 ribu koperasi telah berbadan hukum sebagai bagian dari strategi memperkuat ekonomi desa dan ketahanan pangan nasional.

Bagi Untari, gagasan menjadikan koperasi sebagai arus utama pembangunan ekonomi patut diapresiasi. Bahkan, rencana menjadikan koperasi sebagai penyalur berbagai kebutuhan dan barang bersubsidi dinilainya sebagai langkah strategis yang dapat memperkuat ekonomi rakyat.

Namun, menurut mantan Ketua Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) tersebut, ide besar membutuhkan fondasi yang sama besarnya.

Fondasi itu, menurut Ketua Komisi E DPRD Jatim tersebut, bukan terletak pada besarnya anggaran atau cepatnya pembentukan koperasi, melainkan pada rasa memiliki yang tumbuh dari para anggotanya.

Hakikat koperasi, kata Untari, sejak awal dibangun di atas prinsip self help through mutual help—menolong diri sendiri melalui kerja sama. Karena itu koperasi lahir dari orang-orang yang memiliki kebutuhan yang sama, lalu bersama-sama mendirikan, memiliki, mengelola, sekaligus mengawasi usahanya.

“Itu yang menjadi fondasi utama. Orang-orang berkumpul karena memiliki kebutuhan yang sama, kemudian mendirikan perusahaan yang mereka miliki, kelola, dan awasi bersama,” ujarnya.

Sejarah koperasi Indonesia pun memperlihatkan pola yang serupa. Untari menyebut sejumlah koperasi yang mampu bertahan lintas generasi, seperti Kospin Jasa, Koperasi Pondok Pesantren Sidogiri, hingga Koperasi Setia Budi Wanita (SBW). Semuanya tumbuh dari kebutuhan riil anggotanya, bukan karena target administratif.

Sebaliknya, koperasi yang lahir sebagai bagian dari program pemerintah menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ia menilai pola tersebut berulang sejak era reformasi. Pergantian pemerintahan sering diikuti lahirnya program pembentukan koperasi baru, sementara pembinaan jangka panjang justru kurang mendapat perhatian.

Menurut Untari, sedikitnya terdapat lima persoalan yang kerap muncul, yakni koperasi tidak lahir dari kebutuhan masyarakat, lemahnya ikatan sosial antaranggota, semangat gotong royong bergeser menjadi sekadar memenuhi administrasi program, ketergantungan terhadap siklus politik, serta minimnya pendidikan dan penguatan kapasitas pengurus.

Padahal, koperasi tidak pernah dibangun dalam waktu singkat.

“Koperasi tidak bisa dibangun dalam waktu singkat. Yang dibutuhkan adalah keberlanjutan. Pendidikan anggota, penguatan manajemen, dan pendampingan harus terus dilakukan,” tegas politisi PDI Perjuangan tersebut.

Ia menilai proses pembentukan KDKMP yang berlangsung dalam waktu relatif singkat membuat banyak pengurus belum memiliki pengalaman maupun bekal perkoperasian yang memadai. Di sejumlah daerah, koperasi bahkan belum berkembang karena keanggotaannya masih terbatas pada pengurus dan pengawas.

Karena itu, Untari mengingatkan agar keberhasilan gerakan koperasi tidak diukur dari banyaknya koperasi yang dibentuk.

Ukurannya jauh lebih sederhana, tetapi jauh lebih penting: apakah koperasi benar-benar hidup, memberi manfaat ekonomi bagi anggotanya, dan mampu bertahan melewati pergantian generasi.

“Kalau anggota merasa memiliki, koperasi akan dijaga oleh anggotanya sendiri. Di situlah koperasi sejati lahir,” pungkasnya.

Barangkali di situlah ukuran paling sederhana sebuah koperasi. Bukan seberapa cepat ia dibentuk atau berapa banyak yang berdiri, melainkan seberapa lama ia mampu hidup, tumbuh bersama anggotanya, dan tetap memberi manfaat ketika sebuah program telah lama berakhir. (yols/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KABAR CABANG

Penyegaran Pengurus Ranting PDIP di Jember Diarahkan Perkuat Manfaat bagi Masyarakat

DPC PDI Perjuangan Kabupaten Jember mulai melakukan penyegaran kepengurusan ranting. Restrukturisasi organisasi ...
KRONIK

Koperasi yang Tumbuh dari Kebutuhan akan Lebih Kuat dan Berkelanjutan

SURABAYA – Di tengah masifnya pembentukan lebih dari 80 ribu Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), tokoh ...
RUANG MERAH

Stop Stigma “Dua Kaki”, saatnya Bicara Solusi untuk Rakyat

Oleh Ony Setyawan* DI TENGAH derasnya dinamika politik nasional, PDI Perjuangan kembali menjadi sorotan. Salah satu ...
KABAR CABANG

Selorejo Awali Musyawarah Ranting PDIP di Kabupaten Blitar, Guntur Wahono: Jadi Contoh Konsolidasi Partai

BLITAR – Perjuangan Kabupaten Blitar memulai Musyawarah Ranting (Musran) dari Kecamatan Selorejo yang menjadi ...
KABAR CABANG

Perkuat Struktur Partai, DPC Kabupaten Pasuruan Gelar Musran di 4 Kecamatan

KABUPATEN PASURUAN – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Pasuruan secara serentak menggelar ...
KRONIK

Ribuan Umat Hindu Hadiri Piodalan, Senduro Jadi Simbol Keberagaman di Lumajang

LUMAJANG – Menjaga kerukunan tidak hanya diwujudkan melalui ajakan untuk saling menghormati, tetapi juga dengan ...