TUBAN — Riuh rendah suara ayam saling bersahutan dari area belakang sebuah rumah sederhana di Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Di antara deretan kandang kayu yang tertata rapi, Suyati (42) tampak cekatan memeriksa deretan telur yang baru saja dipanennya pagi itu.
Siapa sangka, dari lahan sempit di belakang rumah dan berawal dari sekadar usaha sampingan penambah penghasilan warung kopi, perempuan yang akrab disapa Aku Yati ini kini sukses mengelola peternakan Ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) hingga beromzet menjanjikan.
Perjalanan berdikari ini bermula pada Februari 2025. Saat itu, Suyati yang sehari-hari menjaga warung kopi merasa tergerak untuk mencari peluang ekonomi baru demi menopang kebutuhan keluarga. Dorongan kuat itu muncul usai ia aktif mengikuti berbagai kegiatan di partainya, PAC PDI Perjuangan Soko, yang kerap menyuarakan pentingnya kemandirian pangan berbasis kerakyatan.
”Awalnya saya cuma jualan di warung kopi agar ada tambahan income. Lalu saat ikut acara partai, saya sangat termotivasi mendengarkan cerita teman sesama peternak yang bisa berkembang pesat,” kenang Suyati saat berbincang, Sabtu (3/10/2026).
Pilihan Suyati jatuh pada Ayam KUB—jenis ayam kampung hasil seleksi Kementerian Pertanian yang dikenal punya produktivitas tinggi. Modal awalnya terbilang sederhana: hanya dua paket berisi 2 ekor jantan dan 10 ekor betina.
Namun, ketekunan Suyati membuahkan hasil. Dari 12 ekor ayam tersebut, populasi ternaknya kini berkembang pesat hingga mencapai ratusan ekor dengan 100 ekor di antaranya dijadikan indukan aktif.
Tak Sekadar Ayam Biasa
Keputusan Suyati memilih jenis KUB bukan tanpa alasan. Ayam jenis ini memiliki performa bertelur luar biasa, yakni mencapai 160 hingga 180 butir per tahun untuk satu induk. Sifat mengeramnya yang sangat rendah—hanya sekitar 10 persen—membuat siklus bertelur tidak gampang terputus.
Selain itu, masa panen dagingnya tergolong cepat, yakni 2 hingga 2,5 bulan dengan bobot mencapai 0,8 sampai 1 kilogram per ekor. Daya tahan tubuhnya yang kuat terhadap penyakit membuat usaha skala rumahan ini relatif aman bagi pemula.
Kini, Suyati tak hanya menjual telur untuk kebutuhan lauk, adonan kue, atau bahan jamu masyarakat sekitar. Didorong oleh Ketua DPC PDI Perjuangan Tuban, Ony Setiawan, Suyati memberanikan diri melangkah lebih jauh: meracik pakan mandiri menggunakan mesin serta menetaskan bibit ayam (Day Old Chick/DOC) sendiri.
”Telur laku keras, DOC juga selalu dicari warga sekitar Soko karena bibitnya unggul. Senang sekali, dari kandang belakang rumah bisa bantu ekonomi keluarga tanpa harus meninggalkan warung kopi,” tuturnya tersenyum.
Jatuh Bangun Menjinakkan Tantangan
Tentu perjalanan Suyati tak selamanya berjalan mulus. Di awal usahanya, ia sempat dibuat pusing oleh teknis penetasan. Mengatur suhu mesin tetas yang tepat menjadi ujian berat yang harus ia pelajari secara otodidak.
Ia juga pernah merugi ketika anak-anak ayamnya mati mendadak akibat cuaca ekstrem dan keterlambatan pemberian vitamin. Belum lagi tekanan fluktuasi harga pakan pabrikan yang kerap menggerus margin keuntungan.
Namun, alih-alih patah semangat, kegagalan itu ia jadikan pelajaran berharga. Suyati terus mengulik resep pakan racikan sendiri dari bahan lokal hingga berhasil menekan biaya operasional dengan signifikan.
”Kalau ditekuni, ayam KUB ini rezekinya nyata. Dukanya jadi pelajaran, sukanya jadi tambahan berkah untuk keluarga,” pungkas Suyati penuh optimisme.
Kisah Suyati menjadi cermin nyata bagaimana semangat berdikari yang ditanamkan dari ruang-ruang diskusi mampu menjelma menjadi aksi nyata, membawa kemandirian pangan, dan menggerakkan roda ekonomi dari tingkatan paling dasar: rumah tangga.(dian/hs)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS













