BOJONEGORO – Guna memperkokoh barisan dan menjaga kesinambungan sejarah perjuangan partai, jajaran kader, tokoh, serta senior PDI Perjuangan se-Daerah Pemilihan (Dapil) IV Kabupaten Bojonegoro menggelar pertemuan konsolidasi lintas generasi.
Kegiatan yang berlangsung di Desa Celebung, Kecamatan Bubulan, Kabupaten Bojonegoro, Jumat (3/7/2026) tersebut dihadiri oleh Anggota DPRD Kabupaten Bojonegoro dari Fraksi PDI Perjuangan Amin Thohari, pengurus PAC, serta para tokoh senior dari Kecamatan Kedungadem, Sugihwaras, Bubulan, dan Sekar.
Pertemuan ini dirancang sebagai momentum penting untuk mempererat konsolidasi ideologi sekaligus menyatukan gerak langkah kader ke dalam satu komando.
Selain menjadi wadah penyelarasan program kerakyatan—mulai dari gotong royong, pemberdayaan UMKM, pertanian, hingga pendidikan politik—forum ini juga difungsikan untuk memperkuat silaturahmi dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat.
Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Bojonegoro, Amin Thohari, menegaskan bahwa agenda ini merupakan jembatan “sambung batin” yang krusial bagi internal partai agar kader-kader muda dapat menyerap langsung spirit pergerakan dari para pendahulu.
”Pertama, menyambung batin antara kader muda, kader senior, dan para tokoh agar estafet perjuangan tidak putus. Kedua, menyamakan langkah agar di Dapil IV ini kita bergerak, berjuang, dan menang bersama,” kata Amin saat memberikan sambutan.
Amin menambahkan, kekuatan utama partai berlambang banteng moncong putih tersebut terletak pada kedekatannya dengan akar rumput.
”Kader PDI Perjuangan lahir dari rakyat dan harus kembali mengabdi kepada rakyat,” ujarnya.

Menyalakan Kembali “Api” Marhaenisme
Suasana konsolidasi terasa khidmat saat salah satu tokoh senior PDI Perjuangan dari Kecamatan Bubulan, Mbah Nasir, membagikan rekam jejak sejarahnya. Mbah Nasir, yang telah mendedikasikan dirinya pada partai sejak dilakukan fusi partai politik pada 1973.
”Saya ingat betul suasana tahun 1973 itu. Kami harus keliling desa, berkumpul di balai-balai untuk menjelaskan kepada rakyat bahwa PDI ini bukan partai baru, melainkan rumah lama (PNI) dengan nama baru,” kenang Mbah Nasir.
Menurutnya, esensi pergerakan pada masa itu murni didasarkan pada keteguhan prinsip untuk bertahan di tengah tekanan politik, bukan sekadar perebutan jabatan struktural atau kekuasaan.
”Perjuangan PDI di tahun 1973 itu perjuangan ideologi. Perjuangan untuk tidak punah dan untuk tetap menyalakan api Marhaenisme. Alhamdulillah, api itu tidak padam. Sebagai kader lama, siang maupun malam saya siap bergerak jika dibutuhkan untuk kepentingan partai,” tegasnya.
Mendengar wejangan tersebut, Amin Thohari menyampaikan rasa hormat dan apresiasi yang mendalam atas loyalitas tanpa batas yang ditunjukkan para senior.
Bagi generasi penerus, rekam jejak tersebut merupakan kompas utama dalam menjalankan instruksi partai di tengah masyarakat.
”Apresiasi tertinggi kami sebagai kader muda kepada para senior partai. Melalui pertemuan ini, kami bisa menyerap langsung nilai-nilai perjuangan terdahulu. Sudah saatnya kita mengembalikan banteng ke dalam kandang,” tutur Amin.
Sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan konsistensi pengabdian yang telah diberikan selama puluhan tahun, acara konsolidasi ini ditutup dengan penyerahan tali asih kepada para tokoh senior Partai se-Dapil IV Bojonegoro, dilanjutkan dengan sesi foto bersama.(dian/hs)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS









