Soekarno Fun Run 2026 di Jember tidak hanya menghadirkan ribuan pelari, tetapi juga menyisakan cerita tentang kepedulian lingkungan dan solidaritas sosial. Kardus bekas logistik dikumpulkan untuk disumbangkan kepada pemulung, sementara panitia memastikan kawasan acara kembali bersih.
JEMBER – Jarum jam menunjukkan pukul 10.30 WIB.
Matahari mulai naik lebih tinggi di langit Jember. Panasnya perlahan menggantikan udara sejuk yang sejak subuh menemani ribuan orang berlari.
Di sepanjang rute Soekarno Fun Run 2026, keramaian mulai menghilang.
Tidak ada lagi pelari yang beradu cepat.
Tidak ada lagi suara aba-aba.
Tidak ada lagi derap sepatu yang sejak pukul lima pagi memecah jalanan kota.
Yang tersisa hanya bekas-bekas sebuah perayaan.
Botol air mineral kosong.
Kemasan suplemen.
Kardus-kardus logistik.
Dan jejak keringat dari 1.127 peserta yang datang dari berbagai kota, mulai Banyuwangi, Probolinggo, Sidoarjo hingga Jember sendiri.
Namun pagi itu, ada pemandangan yang menarik perhatian.
Garis finis memang telah sepi.
Tetapi pekerjaan belum selesai.
***
Satu per satu panitia dan anggota Satgas PDI Perjuangan mulai menyisir jalanan.
Mereka membawa kantong plastik berukuran besar.
Membungkuk.
Memungut.
Lalu berjalan lagi.
Membungkuk kembali.
Memungut lagi.
Tidak ada sorak sorai.
Tidak ada kamera yang terus menyorot.
Yang ada hanyalah kesadaran sederhana bahwa sebuah acara besar tidak boleh meninggalkan kota dalam keadaan kotor.
Botol-botol bekas dimasukkan ke kantong.
Kemasan makanan dikumpulkan.
Setiap sudut lintasan diperiksa.

Mereka memastikan jalan yang sejak pagi dipenuhi ribuan orang bisa kembali seperti semula.
Bersih.
Rapi.
Seolah tak pernah menjadi arena sebuah hajatan besar.
“Kami ingin memastikan setiap jengkal lintasan kembali bersih seperti semula,” kata Widarto.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tetapi di baliknya ada cara pandang yang menarik.
Bahwa sukses sebuah acara tidak hanya diukur dari ramainya peserta.
Tidak hanya dari panggung yang megah.
Tidak pula dari jumlah sponsor yang terlibat.
Melainkan juga dari bagaimana penyelenggara meninggalkan jejak yang baik setelah semuanya selesai.
***
Tetapi cerita pagi itu ternyata tidak berhenti pada urusan sampah.
Di tengah proses bersih-bersih, ada instruksi lain yang diberikan.
Kardus-kardus bekas logistik jangan dibuang.
Jangan pula dihancurkan.
Kumpulkan.
Pisahkan.
Simpan dalam kondisi utuh.
Perintah itu membuat tumpukan kardus perlahan menggunung di salah satu sudut lokasi.
Bukan untuk dibakar.
Bukan pula untuk masuk tempat pembuangan akhir.
Kardus-kardus itu memiliki tujuan lain.
Mereka akan diberikan kepada para pemulung.
***
Bagi sebagian orang, kardus bekas hanyalah sampah.
Tetapi bagi sebagian lainnya, itu adalah sumber penghasilan.
Ada tangan-tangan yang setiap hari berkeliling kota mencari benda-benda yang masih memiliki nilai jual.
Ada keluarga yang menggantungkan kebutuhan dapur dari hasil menjual barang bekas.

Karena itulah, ribuan kardus bekas air minum dan logistik acara tidak dianggap sebagai limbah.
Mereka dipandang sebagai rezeki yang bisa diteruskan kepada orang lain.
Mungkin nilainya tidak besar.
Mungkin hanya beberapa puluh ribu rupiah.
Tetapi bagi sebagian orang, jumlah itu bisa berarti makan siang, uang sekolah anak, atau sekadar tambahan biaya hidup hari itu.
***
Di sekitar lokasi, para pelaku UMKM juga mulai membereskan dagangannya.
Sejak pagi mereka ikut merasakan denyut ekonomi yang tercipta dari ribuan peserta yang datang.
Ada yang menjual kopi.
Ada yang menawarkan makanan ringan.
Ada yang membuka lapak minuman dingin.
Mereka menjadi bagian dari cerita yang sering kali luput dari sorotan.
Bahwa sebuah acara bukan hanya tentang peserta dan panitia.
Tetapi juga tentang orang-orang kecil yang ikut memperoleh manfaat dari keramaian.
Widarto menyebut sebuah kegiatan akan terasa berhasil ketika manfaatnya mengalir ke banyak pihak.
Sponsor senang karena produknya dikenal.
UMKM senang karena dagangannya laris.
Dan pemulung juga bisa tersenyum karena membawa pulang kardus-kardus yang masih bernilai.
***
Menjelang siang, jalanan Jember kembali seperti biasa.
Bersih.
Lalu lintas mulai normal.
Tenda-tenda perlahan dibongkar.
Peserta telah pulang ke kota masing-masing.
Namun di balik berakhirnya Soekarno Fun Run 2026, tersisa sebuah pelajaran sederhana.
Bahwa sebuah perayaan akan terasa lebih bermakna ketika tidak berhenti pada kemeriahan.
Melainkan ketika mampu meninggalkan manfaat.
Bagi lingkungan.
Bagi pedagang kecil.
Dan bagi mereka yang selama ini hidup dari barang-barang yang sering dianggap tak lagi berharga.
Karena terkadang, setelah garis finis terlewati, justru di situlah cerita yang sesungguhnya dimulai. (art/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










