oleh

Ini, Dialog Megawati dan Jokowi saat Penyusunan Kabinet

SURABAYA – Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengisahkan dialog antara Megawati Soekarnoputri Ketua Umum PDI Perjuangan dan Presiden RI Joko Widodo atau Jokowi saat penyusunan kabinet kerja.

Menurut Hasto, dialog itu didasari sila pertama Pancasila, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Ketuhanan yang dimaksud adalah ketuhanan yang berkebudayaan, penuh toleransi, berbudi pekerti, tanpa egoisme.

“Ibu Megawati dan Pak Jokowi lalu berdialog soal bagaimana membumikannya, demi kesejahteraan rakyat Indonesia,” kata Hasto di sela acara penyerahan sapi kurban di Masjid Al Huda, Teggumung Wetan, Surabaya, kemarin.

Saat itu, lanjut dia, Jokowi bertanya kepada Megawati soal bagaimana susunan kabinet akan dibentuk. Mendengar hal itu, Megawati berkata dengan jelas bahwa republik ini dibangun dengan perjuangan, tetesan keringat, darah dan air mata.

“Siapa yang berkeringat bagi republik ini? 1912 didirikanlah Muhammadiyah, 1926 didirikan Nahdlatul Ulama. 1927 didirikan Partai Nasional Indonesia. Dan pada 1945, Bung Karno membangun Tentara Nasional Indonesia,” cerita Hasto menirukan Megawati.

Megawati lalu menekankan kepada Jokowi, bahwa kalau keempat kekuatan ini bersatu, maka ‎Indonesia yang adil dan makmur akan terwujud dengan baik.

Megawati juga mengingatkan Jokowi, bahwa Islam yang masuk ke Indonesia adalah Islam yang membangun peradaban, Islam yang masuk dengan tradisi perdagangan.

“Karena itulah perkuat ekonomi rakyat, libatkanlah umat Islam dalam kegiatan ekonomi itu. Karena inilah subjek sejati Islam yang ada di Indonesia,” kata Hasto mengutip pernyataan Megawati.

Di acara yang juga dihadiri Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf (Gus Ipul) itu, Hasto secara pribadi mengatakan, sikap demikian berbeda dengan tradisi di Orde Baru, dimana Islam dijauhkan dari perdagangan.

Dia melanjutkan, oleh karena itulah Presiden Jokowi, bersama NU dan Ketua Majelis Ulama Indonesia KH Mar’uf Amin, membangun ekonomi untuk Ummat.

“Itulah prinsip ketuhanan yang menyatu dengan tradisi kemanusiaan yang adil dan beradab. Tanpa ketuhanan yang bicara soal keadilan dan beradab, tak ada artinya,” kata Hasto.

Hasto juga menyampaikan bahwa Idul Adha bukan sekedar jalan pengorbanan demi keyakinan‎ kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tapi juga sebagai cerminan bagaimana kepasrahan jiwa sebagai umat kepada Sang Maha Pencipta.

Melalui itu, umat tak hanya menempuh jalan  keimanan, tetapi juga menempuh jalan pengabdian bagi bangsa dan negara.

“Dengan semangat Idul Adha ini, mari bumikan Pancasila, kita kobarkan ‎semangat pengorbanan untuk bangsa dan negara, dengan semangat dedication of life,” ucapnya.

Selain Gus Ipul, hadir juga Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur yang Wakil Ketua DPRD Jawa Timur, Kusnadi. Sebelumnya, Hasto menghadiri acara tasyakuran peringatan HUT ke-72 RI dan Hari Raya Idul Adha di Bulak Banteng. (goek)