Kamis
12 Maret 2026 | 5 : 49

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Ikut BPJS, Pemkot Cover Biaya Kesehatan 291.686 Gakin

risma - bpjs

risma - bpjsSURABAYA – Program jaminan kesehatan masyarakat (jamkesmas) bagi ratusan ribu warga miskin (gakin) di Kota Surabaya kemarin (1/10) resmi dialihkan ke program penerima bantuan iuran (PBI). Program baru itu merupakan bagian dari jaminan kesehatan nasional (JKN) Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Dengan pengalihan tersebut, warga kurang mampu tidak perlu lagi repot-repot mengurus surat keterangan tidak mampu (SKTM). Pengalihan itu juga berdampak pada efisiensi dana APBD. Penghematan anggaran tersebut diperkirakan mencapai Rp 10 miliar. Dana hasil efisiensi itu pun bisa dimanfaatkan untuk program prioritas lain.

Kebijakan pengalihan tersebut disosialisasikan di Graha Sawunggaling Pemkot Surabaya kemarin. Hadir dalam sosialisasi itu, Wali Kota Tri Rismaharini, Kepala Divisi Regional VII Jatim BPJS Kesehatan Andi Afdal, seluruh camat, dan lurah se-Kota Surabaya.

Jumlah warga yang dialihkan ke program PBI mencapai 291.686 orang. Pemkot bakal memasukkan mereka ke program JKN di kamar kelas III. Untuk itu, pemkot harus membayar iuran wajib Rp 19.225 setiap orang per bulan. Total anggaran yang dibutuhkan mencapai Rp 5,6 miliar tiap bulan atau Rp 67,2 miliar per tahun.

Risma mengungkapkan, peralihan program tersebut akan dibarengi dengan pemutakhiran data penerima. Menurut dia, hanya warga Surabaya yang akan dijamin PBI BPJS Kesehatan itu.

Risma memaparkan, pernah suatu kali petugas pemkot menemukan seorang bocah yang menderita hidrosefalus. Bocah itu hanya tinggal bersama ibunya yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Bahkan, kabarnya, hidup mereka pun bergantung pada tetangga sekitar. ”Setelah didata, ternyata mereka bukan warga Surabaya,” tutur Risma.

Mendapati kasus itu, Risma menawarkan untuk membiayai pemulangan ibu dan anak tersebut ke kampung halaman mereka. Tetapi, yang bersangkutan tidak mau. Pemkot pun tidak bisa berbuat banyak. ”Kami tidak apa-apa. Tapi, kasihan karena tetangga mereka juga miskin. Jadi, perlu ada solusi lain agar orang seperti itu bisa masuk dalam jaminan kesehatan,’’ ungkapnya.

Karena itu, lanjut Risma, pihaknya meminta para pejabat di tingkat kelurahan dan kecamatan untuk cepat memverifikasi data tersebut. Data yang lengkap dan valid itu diperlukan agar semua orang yang patut menerima bantuan bisa dijamin program kesehatan. ”Kami perlu data yang lengkap dan tertib. Itu PR (pekerjaan rumah) untuk lurah dan camat,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemkot Surabaya Febria Rachmanita menambahkan, pengalihan jamkesmas ke PBI itu memang membutuhkan biaya Rp 5,6 miliar tiap bulan. Tetapi, dana tersebut terbilang jauh lebih sedikit daripada pemkot mengeluarkan dana untuk program jamkesmas nonkuota. Menurut dia, biaya jamkesmas itu setiap bulan tidak kurang dari Rp 15 miliar. ”Kalau ikut PBI, kami hanya membayar iuran. Biaya perawatannya ditanggung BPJS Kesehatan,” ujarnya.

Febri mengatakan, program PBI juga sangat memudahkan warga dalam administrasi pengurusan dana. Sebab, warga tidak perlu lagi mengurus SKTM dari kelurahan yang hanya berlaku enam bulan. Mereka hanya perlu menunjukkan kartu PBI yang segera dibagikan kepada para penerima manfaat.

Warga kurang mampu yang belum mendapatkan kartu PBI, lanjut dia, tidak perlu khawatir. Sebab, data mereka yang tercantum sebagai penerima program jamkesmas nonkuota itu telah disinergikan dengan BPJS Kesehatan. ”Data yang kami miliki itu sudah disinkronkan dengan puskesmas dan rumah sakit,” jelasnya.

Sementara itu, Andi Afdal menyebutkan, program PBI sudah diterapkan di beberapa kota/kabupaten lain di Jatim. Di antaranya, Pacitan, Kota Blitar, Ponorogo, Lumajang, dan Probolinggo. Adapun Gresik dan Sidoarjo memang masih belum. ”Targetnya, sampai 2016 road map perluasan itu harus sudah semuanya,” ungkap dia.

Andi menambahkan, memang bisa saja ada warga yang telah mengurus JKN mandiri dengan biaya sendiri. Nah, nanti data-data tersebut disinkronkan dengan data PBI yang didaftarkan pemkot. ”Apakah selanjutnya di-cover pemkot atau dilanjutkan biaya sendiri, itu kami serahkan ke pemkot,” tuturnya. (jun/bir/c7/hud)

Sumber: Jawa Pos

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkini

LEGISLATIF

52.000 Warga Lamongan Terdampak Penonaktifan BPJS PBI, Komisi D Dorong Rakor Lintas Sektor

LAMONGAN – Sebanyak 52 ribu warga Kabupaten Lamongan terdampak penonaktifan kepesertaan Penerima Bantuan Iuran ...
LEGISLATIF

Tinjau Dua Lokasi Bencana Desa Randu Gede Dan Jabung, Diana Sasa Salurkan Sembako dan Bantuan Atap untuk Warga

MAGETAN – Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Diana AV Sasa, meninjau langsung lokasi kejadian longsornya pondasi ...
KABAR CABANG

Fatayat NU Gresik Apresiasi Silaturahmi PDI Perjuangan

GRESIK – Suasana keakraban terpancar saat silaturahmi antara pihak PC Fatayat NU dengan DPC PDI Perjuangan Gresik, ...
KABAR CABANG

Konsolidasi Jelang Lebaran, Kader-kader Sidoarjo Diminta Peka dengan Dinamika Terjadi di Masyarakat

SIDOARJO – Menjelang Hari Raya Lebaran, kader-kader PDI Perjuangan Sidoarjo diminta untuk tetap responsif dengan ...
KRONIK

Diana Sasa Kunjungi Rumah Duka Bocah Ngawi yang Meninggal Tertimpa Pohon

NGAWI – Suasana haru menyelimuti kediaman pasangan Agus Triantoko (36) dan Supriyani (36) di Desa Tepas, Kecamatan ...
KABAR CABANG

Nuzulul Quran di Tuban, Kader Diminta Perkuat Kepedulian kepada Rakyat di Tengah Tekanan Ekonomi

TUBAN — Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Didik Prasetiyono, mengajak seluruh ...