Erma Susanti dorong perempuan Indonesia aktif menyuarakan kesetaraan gender melalui media sosial sebagai bagian dari literasi digital di era transformasi digital nasional.
BLITAR — Anggota DPRD Jawa Timur Erma Susanti menegaskan perempuan memiliki peran penting dalam menyuarakan nilai kesetaraan dan keadilan gender melalui platform digital di tengah transformasi digital Indonesia yang kian masif.
Penegasan itu disampaikan dalam kegiatan sosialisasi dan pelatihan literasi digital perempuan di Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, Sabtu (18/4/2026).
Kegiatan yang menggandeng Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) ini melibatkan berbagai elemen perempuan, mulai dari ibu rumah tangga, mahasiswa hingga kalangan profesional, sebagai bagian dari penguatan kapasitas perempuan di era digital.
Menurut Erma, media sosial saat ini tidak lagi sekadar ruang komunikasi, tetapi telah berkembang menjadi ruang strategis untuk advokasi, edukasi, hingga penguatan peran perempuan dalam pembangunan.

“Media sosial adalah ruang perjuangan. Perempuan bisa menyampaikan aspirasi, mengedukasi masyarakat, sekaligus memperjuangkan hak-haknya,” ujarnya.
Legislator yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Tulungagung itu menekankan, dalam konteks Indonesia saat ini, literasi digital menjadi kebutuhan mendasar agar perempuan tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga aktor aktif dalam ekosistem digital.
Pemanfaatan teknologi, lanjutnya, juga membuka peluang besar bagi perempuan untuk meningkatkan kemandirian ekonomi melalui UMKM digital, personal branding, hingga jejaring profesional.
“Perempuan masa kini harus adaptif. Dengan penguasaan digital, perempuan bisa memperkuat ekonomi keluarga sekaligus meningkatkan daya saing,” tegasnya.
Erma juga menyoroti meningkatnya partisipasi perempuan di berbagai sektor, termasuk politik, sebagai indikator perubahan sosial yang positif di Indonesia.

“Kesempatan sudah terbuka luas. Yang dibutuhkan adalah kesiapan dan kemampuan untuk memanfaatkan peluang, termasuk melalui teknologi digital,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, praktisi digital Elni Nainggolan memaparkan peluang media sosial sebagai sumber ekonomi baru, sementara Sekretaris KPI Wilayah Jawa Timur Istaufa Indriani menyoroti masih rendahnya literasi digital perempuan di tingkat akar rumput, terutama terkait keamanan dan etika bermedia sosial.
“Kami masih menemukan perempuan yang belum memahami risiko di ruang digital. Edukasi ini penting agar mereka lebih aman dan tidak mudah terekspos,” ujarnya.
Ia menambahkan, penguatan literasi digital menjadi bagian dari upaya membangun perempuan Indonesia yang lebih kritis, mandiri, dan mampu menciptakan ruang digital yang sehat.
Melalui kegiatan ini, perempuan didorong tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga agen perubahan yang aktif menyuarakan kesetaraan gender serta berkontribusi dalam pembangunan nasional di era digital. (arif/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










