Sabtu
30 Mei 2026 | 9 : 41

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Diskusi Daring Lintas Profesi, PDIP Surabaya Bahas Gagasan Bung Karno

pdip-jatim-diskui-daring-surabaya1

SURABAYA – DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya menggelar diskusi daring bertema ”Bung Karno Kelahiran Surabaya dan Gagasan To Build the World Anew”, pada Sabtu (6/6/2020) malam. Diskusi itu diikuti sekitar 107 orang dari berbagai profesi dan domisili, mulai dari Surabaya, Aceh, Jakarta, Prancis, hingga Belanda.

Dalam keterangan pers yang diterima media ini, Minggu (7/6/2020), diskusi menghadirkan pembicara Prof Dr Darwis Khudori (Sejarawan, Dosen, Universitas Le Havre Normandy, Prancis) dan Adrian Perkasa, MA (dosen Ilmu Sejarah Unair, kandidat doktor Universitas Leiden, Belanda).

Sejumlah tokoh lainnya seperti sejarawan Asvi Warman Adam yang dikenal sebagai profesor riset sejarah politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), serta Ir. Heri Akhmadi Kepala Balitbang DPP PDI Perjuangan, juga turut bergabung.

Ada juga Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya Adi Sutarwijono, serta para pegiat sejarah, aktivis kebudayaan, seniman, komunitas muda, hingga dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Diskusi dimoderatori Sekretaris DPC PDIP Surabaya Baktiono.

Prof Darwis mengawali paparannya tentang kiprah Bung Karno dalam tataran internasional. Menurutnya, gagasan Soekarno muda tentang kemerdekaan tidak terlepas dari konstelasi politik internasional ketika itu. Di mana gagasan-gagasan anti-imperialisme di berbagai penjuru dunia yang begitu bergelora.

Pidato pembelaan ”Indonesia Menggugat” yang ditulis dan dibacakan Bung Karno pada persidangan tahun 1930 menjadi bukti nyata pandangan anti-imperialisme dan anti-kolonialisme yang dimiliki Soekarno. Pidato itu menggugat praktik imperialisme dan kolonialisme yang merusak negeri jajahan, termasuk Indonesia.

Milestone terpenting Soekarno lainnya adalah 1 Juni 1945 ketika Soekarno membacakan rumusan dasar negara Pancasila di sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan (BPUPK) Indonesia.

Lalu, lanjut Prof Darwis, Bung Karno mempelopori Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 yang menjadi tonggak semakin kuatnya pengaruh Soekarno di dunia internasional. KAA itulah yang merupakan pintu Bung Karno dalam pergerakan semangat nasionalisme Asia dan Afrika, sekaligus awal dari pembentukan Gerakan Non-Blok.

Prof Darwis menambahkan, kiprah terpenting Soekarno yang paling mengguncang dunia internasional adalah pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB ke-15 pada 30 September 1960 yang berjudul ”To Build the World Anew” (Membangun Dunia Kembali).

Pidato itu antara lain dilatarbelakangi pertemuan 4 negara besar sebelumnya yang gagal mencapai kesepakatan untuk pengurangan senjata nuklir. Sehingga Bung Karno menawarkan sebuah tatanan dunia baru.

Asvi Warman Adam Sejarawan mengatakan, kini, pidato Bung Karno itu dalam proses untuk diajukan sebagai Memori Dunia (Memory of the World) ke UNESCO.
”Pidato Bung Karno di Sidang Majelis Umum PBB yang sangat terkenal itu adalah akumulasi dari pemikiran dan gagasan sejak sebelum Indonesia merdeka,” kata Asvi.

Bung Karno Arek Suroboyo

Diskusi makin seru dengan pembahasan kaitan Sukarno dan Surabaya yang dibawakan dosen sejarah Unair dan kandidat doktor Universitas Leiden, Adrian Perkasa. Adrian mengatakan, memang sempat ada perbedaan pendapat apakah Soekarno lahir di Blitar atau Surabaya.

Namun, berbagai bukti otentik menyebutkan Bung Karno memang arek Suroboyo. Lahir di Surabaya, yaitu di Kampung Pandean Gang 4, Kecamatan Genteng.

Dia mencontohkan sejumlah buku yang ditulis jauh sebelum Indonesia merdeka, yang juga telah menyebut Soekarno lahir di Surabaya. Misalnya buku Im Yang Tjoe pada 1933 berjudul ”Soekarno Sebagi Manoesia”. Buku itu terbit tiga puluh tahun sebelum biografi tentang Bung Karno yang paling terkenal, ”Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”, yang ditulis Cindy Adams.

”Biografi pertama Bung Karno karya Im Yang Tjoe ditulis sebelum Indonesia lahir, jauh sebelum Bung Karno menjadi presiden, dia telah menarik minat kalangan penulis,” jelas Adrian.

Kaitan Bung Karno dan Surabaya bukan hanya terekam di masa remaja sang proklamator yang dihabiskan dengan bersekolah di HBS, yang kini menjadi bangunan Kantor Pos Besar, tak jauh dari Tugu Pahlawan Surabaya.

Adrian menyebutkan, salah satu momen penting Soekarno dan Surabaya adalah tampilnya presiden pertama di Indonesia itu dalam Kongres Indonesia Raya pada akhir 1931, hanya hitungan hari usai Bung Karno keluar dari penjara Sukamiskin, Bandung.

Itu merupakan peristiwa pertama yang dihadiri Sukarno sejak keluar dari penjara. Kongres Indonesia Raya digerakkan oleh tokoh pergerakan Dr Sutomo.

”Waktu itu momennya benar-benar krusial dan sangat berani. Bayangkan, Soekarno baru saja lepas dari tahanan politik, langsung tampil di Surabaya, membakar semangat arek-arek Suroboyo,” ujarnya.

Tiba di Stasiun Gubeng, Soekarno disambut rakyat Surabaya. Para pemuda, buruh, aktivis, dan rakyat jelata riuh menyambut Bung Karno. Menuju ke hotel di kawasan Peneleh hingga istirahat di sana pun, Bung Karno selalu dikerubungi massa.

Soekarno ketika itu bicara tentang pentingnya persatuan melawan imperialisme Belanda. Dalam sebuah referensi disebutkan, Soekarno menutup pidatonya dengan mata yang berlinang.

”Maka tak mengherankan Bung Karno menyebut Surabaya sebagai dapur nasionalisme, dapur Revolusi Indonesia. Jauh sebelum Indonesia merdeka, rakyat Surabaya ketika itu sudah berapi-api membayangkan nasionalisme Indonesia, bukan lagi nasionalisme Jawa, nasionalisme Minang,” ujarnya.

Kisah-kisah unik Soekarno dan Surabaya, lanjut Adrian, juga tecermin misalnya terkait perseteruan Bung Karno dengan Hubertus Johannes van Mook. Van Mook adalah Gubernur-Jenderal Hindia Belanda terakhir yang menjabat setelah Jepang menguasai Hindia Belanda pada 1942.

”Van Mook adalah musuh utama Bung Karno. Uniknya, Van Mook bersekolah di tempat yang sama dengan Bung Karno, yaitu di Hogere Burger School (HBS) Surabaya,” kata Adrian. (goek)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

HEADLINE

Kecerdasan AI Jadi Bahasan Penting DPD saat Lantik PAC PDI Perjuangan se-Kabupaten Jombang

JOMBANG – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menjadi salah satu perhatian ...
KRONIK

Sadarestuwati Sebut PDIP Penyeimbang Tunggal, Soroti Rupiah Rp18.000 dan Ancaman Impor Pangan

JOMBANG – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI sekaligus Ketua Bidang Pertanian dan Pangan DPP PDI Perjuangan, Hj. ...
KABAR CABANG

Targetkan 14 Kursi pada Pemilu 2029, PDIP Jombang Wajibkan Anggota Dewan Turun ke Ranting 4 Kali Sebulan

JOMBANG – Ketua DPC PDI Perjuangan Jombang, Sumrambah, mematok target ambisius bagi partainya untuk meraih 14 kursi ...
LEGISLATIF

Eri Irawan Dorong Penerapan Smart Lighting pada 10.000 Titik PJU Baru di Surabaya

Ketua Komisi C DPRD Surabaya Eri Irawan mendorong Dishub memperluas penerapan smart lighting pada program ...
SUARA MUDA

Ijo-Abang di Bondowoso: Kisah Lora Muda Menakhodai PAC PDI Perjuangan 

Lora Mohammad Ainul Yaqin, cucu pengasuh Ponpes Al-Utsmani Bondowoso, memilih terjun ke politik melalui PDI ...
KABAR CABANG

Pra-event Soekarno Fun Run 2026, Ketika Jalanan Jember Dipenuhi Langkah Anak Muda

Puluhan anak muda memadati pra-event Soekarno Fun Run 2026 di Jember. Bukan sekadar olahraga, lari kini menjadi ...