Rabu
28 Oktober 2026 | 12 : 19

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Di Bawah Getar Suara, di Luar Layar Gawai

PDIP-Jatim Martin Rachmanto 01062026

Oleh Martin Rachmanto

ADA momen ketika sebuah lagu tak lagi sekadar jejeran nada dan rima yang lewat di feed sosial media, atau sekadar backsound pemicu tren konten. Kita tentu ingat bagaimana Anggun C. Sasmi berdiri tegap dan sesekali menyaka air mata saat menyanyikan lagu “Tanah Airku” di tengah gemuruh stadion Gelora Bung Karno (GBK) saat final Piala FIFA ASEAN 2026, atau Agnez Mo yang menggetarkan
panggung megah sirkuit MotoGP Mandalika 2026, ketika menyanyikan lagu “Indonesia Raya”.

Saat mereka melantunkan lagu kebangsaan, tiap baitnya dinyanyikan bukan sekadar lip sync, pamer teknik high note, atau sebatas pemenuhan kewajiban protokol. Mereka meresapinya dari kedalaman dada hingga mata berair, nafas tercekik, dan bulu kuduk merinding oleh rasa haru yang sungguh-sungguh real.

Menghafal lirik untuk sekadar sing along di panggung festival itu mudah. Siapa pun bisa melakukannya dalam hitungan menit. Namun, menghayatinya sampai meneteskan air mata adalah urusan yang jauh lebih dalam.

Di sana ada momen goosebumps yang otentik, sebuah kondisi spiritual ketika seseorang benar-benar connect, melebur, dan menyatu dengan narasi besar bernama “Indonesia”. Air mata yang jatuh itu bukan pertanda cengeng, melainkan cermin dari jiwa yang peka dan cinta yang meresap hingga ke sumsum tulang.

Namun, di tengah keriuhan zaman ini, mari kita jujur pada diri sendiri, berapa banyak dari pemuda hari ini yang masih sanggup bergetar dan merasa deep seperti itu?

Di balik layar smartphone yang terus menyala 24 jam tanpa jeda, generasi muda hari ini hidup dalam jebakan algorithm fatigue yang melelahkan. Kita menjadi generasi yang jempolnya tak berhenti melakukan doomscrolling, melahap ribuan potongan video belasan detik, dan tenggelam dalam arus FYP yang bising namun sebenarnya terasa hampa.

Kita mungkin paham betul apa yang sedang trending topic pagi ini, tetapi kita kehilangan kedalaman rasa. Kita hafal judul-judul besar, tetapi malas membaca isinya. Kita mengalami krisis literasi yang parah merasa paling up to date dan cerdas, padahal cuma menyerap serpihan informasi dangkal di permukaan.

Padahal, sejarah mencatat bahwa republik ini tidak didirikan oleh generasi yang cuma jago scrolling dan sibuk berburu validation lewat jumlah likes atau pengikut di media sosial. Bangsa ini dibangun oleh jemari yang berdebu dan lecet karena menyingkap halaman demi halaman buku tebal di tengah keheningan malam.

Tengoklah bagaimana HOS Tjokroaminoto di Surabaya menjejali benak murid-murid mudanya dengan literasi kritis dan kebiasaan membaca karya-karya pemikir dunia. Dari ruang cangkruk pemikiran yang bersahaja itu, lahir Sukarno muda sosok yang tidak cuma mahir membakar podium dengan orasi megah, tetapi meresapi penderitaan rakyatnya hingga air matanya menetes di balik dinding dingin penjara Banceuy Tahun 1929 dan Sukamiskin Tahun 1930.

Di sinilah kita menemukan relevansi dari ajaran besar Bung Karno tentang berkepribadian secara kebudayaan salah satu pilar dari prinsip Trisakti. Bung Karno sadar betul bahwa ancaman terbesar sebuah bangsa setelah merdeka bukanlah invasi militer, melainkan penjajahan kebudayaan.

Jika suatu bangsa tidak memiliki kepribadian dan akar kebudayaan yang kuat, mereka bakal gampang “dijajah” secara mental, mudah diombang-ambingkan arus zaman, dan disetir oleh budaya asing.

Berkepribadian secara kebudayaan artinya pemuda harus bangga, paham, dan menghayati identitas dirinya sendiri bukan malah terjebak FOMO (Fear of Missing Out) dan menelan mentah-mentah semua produk kebudayaan luar tanpa filter literasi yang matang.

Di tempat terpisah, Bung Hatta dan Sutan Sjahrir menunjukkan bentuk cinta tanah air dari sudut yang berbeda, kecerdasan yang tenang, rasional, dan berdisiplin tinggi. Hatta bahkan rela mengangkut belasan peti berisi buku-buku berat saat dibuang oleh kolonial ke Boven Digul Tahun 1935 dan Banda Neira Tahun 1936.

Bagi Hatta dan Sjahrir, nasionalisme tanpa tradisi membaca yang kuat cuma bakal menjadi gimmick politik yang dangkal dan emosional belaka. Sementara itu, Tan Malaka dalam kesunyian pelariannya yang melintasi berbagai negara menyusun konsep struktur negara Indonesia lewat Naar de Republiek Indonesia dengan analisis geometris yang sangat presisi.

Lalu kita teringat pada Soe Hok Gie di dekade 60-an. Di tengah situasi politik yang toxic dan penuh kepalsuan, Gie tidak cuma membaca buku dan melancarkan protes di jalanan. Ia menghayati cintanya pada Indonesia lewat aksi nyata dan catatan harian yang jujur tanpa tendensi. Gie menangis bukan karena mengalami mental breakdown atau berjiwa lemah, melainkan karena hatinya terlalu peka melihat ketidakadilan yang menimpa rakyat kecil.

Kecintaan yang mendalam, ketahanan mental, dan kemampuan untuk berdikari secara kebudayaan itulah yang menjadi foundation utama agar bangsa ini bisa benar-benar melompat maju. Indonesia tidak akan pernah level up menjadi bangsa pemenang jika generasi mudanya hanya pasrah menjadi konsumen algoritma yang tumpul emosi, gampang overthinking ketika menghadapi tekanan, dan malas membuka lembaran buku.

Menghayati lagu kebangsaan sampai meneteskan air mata sebagaimana yang ditunjukkan oleh para musisi di atas panggung adalah sebuah pemicu kesadaran untuk merebut kembali jiwa kita dari cengkeraman layar gawai.

Ketika anak muda memutuskan untuk mematikan sejenak buaian algoritmanya, kembali membaca buku, meresapi sejarah perjuangan, dan bangga pada identitas kebudayaannya sendiri, di situlah api yang pernah dinyalakan oleh Tjokroaminoto, Sukarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, hingga Gie kembali menemukan rumahnya yang utuh.

Sebab Indonesia bukan sekadar hashtag yang bakal tenggelam dan dilupakan esok hari. Ia adalah ikrar peradaban yang harus diresapi dengan ketajaman pikir, kemandirian budaya, dan keheningan air mata. Selamat memperingati Hari Sumpah Pemuda. (*)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

RUANG MERAH

Di Bawah Getar Suara, di Luar Layar Gawai

Oleh Martin Rachmanto ADA momen ketika sebuah lagu tak lagi sekadar jejeran nada dan rima yang lewat di feed sosial ...
SEMENTARA ITU...

126 Atlet Trenggalek Bidik Tambahan Medali di Popda Jatim 2026, Empat Emas Jadi Pelecut

TRENGGALEK – Sebanyak 126 atlet Kabupaten Trenggalek disiapkan untuk memburu prestasi dalam Pekan Olahraga Pelajar ...
LEGISLATIF

Patemo Desak PU Pengairan Selesaikan Sengkarut Lahan Proyek Sungai Gonggo

BANYUWANGI – Warga Dusun Ringinagung, Desa Pesanggaran, menyatakan dukungan penuh terhadap pengerjaan proyek ...
LEGISLATIF

Dukung Target UHC, PDIP Ponorogo Desak Peningkatan Alokasi Jaminan Kesehatan di RAPBD 2027

PONOROGO – Fraksi PDI Perjuangan maPAN DPRD Ponorogo mendorong peningkatan alokasi Penerima Bantuan Iuran Daerah ...
LEGISLATIF

Diana Sasa: Integrasi Trans Jatim Harus Mudahkan Penumpang sampai Tujuan Akhir

Fraksi PDIP DPRD Jatim meminta Trans Jatim terintegrasi dengan feeder, angkutan lokal, terminal, dan stasiun agar ...
EKSEKUTIF

Rijanto Ajak Muslimat NU Jadi Penggerak Pembangunan dan Kesejahteraan Blitar

BLITAR – Bupati Blitar Rijanto mengajak lebih dari 3.000 anggota Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) memperkuat peran ...