Senin
26 Oktober 2026 | 12 : 14

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Dari Sumenep ke Jakarta, Rafiq Membawa Cerita Madura dan Semangat Merawat Indonesia

pdip jatim 261026 merah muda fest 01

JAKARTA – Perjalanan dari Sumenep menuju Jakarta bukan sekadar perpindahan dari satu kota ke kota lain bagi Mohammad Rafiq. Ada semangat, harapan, dan cerita dari tanah Madura yang ia bawa ketika melangkah menuju ruang perjumpaan dengan ratusan anak muda dari berbagai daerah dalam Napak Tilas Merah Muda Fest 2026.

Di ibu kota, Minggu (25/10/2026), Rafiq bersama dengan sekitar 500 pemuda yang mengikuti napak tilas melewati sejumlah tempat bersejarah. Mereka berjalan bukan hanya untuk menandai sebuah peringatan, tetapi juga untuk menyusuri kembali jejak persatuan yang pernah dirajut para pemuda Indonesia.

Bagi kader muda PDI Perjuangan asal Kabupaten Sumenep, perjalanan itu memiliki makna lebih jauh. Ia menjadi kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang membawa pengalaman, kegelisahan, dan gagasan berbeda tentang Indonesia.

Dari perjumpaan semacam itu, Rafiq melihat bahwa kecintaan terhadap tanah air tidak selalu harus diungkapkan melalui kalimat-kalimat besar. Kecintaan itu bisa tumbuh dari kesediaan mendengarkan, keberanian menyampaikan pendapat, dan kemauan mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.

“Dari Sumenep ke ibu kota bukan sekadar tentang menempuh perjalanan, tetapi tentang membawa semangat, harapan, dan cerita dari tanah Madura menuju ruang perjumpaan yang lebih luas,” ungkap Rafiq, Senin (26/10/2026).

Ia menyebut Merah Muda Fest 2026 bukan sekadar acara untuk hadir dan meramaikan suasana. Lebih dari itu, festival tersebut menjadi ruang untuk bertukar gagasan, memperluas cara pandang, dan menemukan energi baru dari sesama anak muda.

“Merah Muda Fest 2026 bukan hanya tentang hadir dan meramaikan acara, tetapi juga tentang merayakan gagasan, memperluas perspektif, dan bertemu dengan energi-energi baru yang menginspirasi,” lanjutnya.

***

Bagi Rafiq, mencintai Indonesia berarti bersedia melihat kenyataan yang dihadapi masyarakat, termasuk ketika kenyataan itu tidak selalu menyenangkan.

Di balik semangat persatuan, masih ada persoalan yang membutuhkan perhatian bersama. Akses pendidikan belum sepenuhnya setara, korupsi menjadi tantangan bagi integritas penyelenggaraan negara, sementara kerusakan lingkungan dan bencana membawa dampak bagi kehidupan banyak orang.

Persoalan-persoalan itu bukan sesuatu yang boleh dianggap jauh dari generasi muda. Sebab, merekalah yang kelak akan menjalani kehidupan di tengah keputusan yang dibuat hari ini dan dampak yang ditinggalkannya.

Karena itu, Rafiq memandang semangat merawat pertiwi perlu diterjemahkan menjadi kepedulian yang nyata. Bukan hanya menjaga simbol dan mengulang slogan kebangsaan, tetapi juga berani menyuarakan persoalan sosial, memperhatikan nasib rakyat, serta ikut mendorong perubahan ke arah yang lebih baik.

“Pemuda masih ada dan masih berjuang untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Bagi saya, merawat pertiwi berarti ikut peduli terhadap keadaan bangsa, berani menyampaikan aspirasi, dan tidak menutup mata ketika rakyat menghadapi kesulitan,” tuturnya.

Baginya, suara anak muda perlu hadir dalam percakapan mengenai masa depan Indonesia. Mereka bukan sekadar kelompok yang akan mewarisi keadaan, melainkan bagian dari masyarakat yang dapat ikut memengaruhi arah perubahan.

Aspirasi generasi muda, dalam pandangan Rafiq, juga tidak semata-mata tentang kritik. Di dalamnya terdapat harapan agar pembangunan semakin memperhatikan kebutuhan masyarakat, kesempatan memperoleh pendidikan semakin terbuka, penyelenggaraan negara dijalankan dengan integritas, dan lingkungan tetap terjaga untuk generasi mendatang.

Merawat Indonesia, dengan demikian, bukan pekerjaan yang selesai dalam satu kegiatan atau peringatan. Ia membutuhkan keberanian untuk peduli dan kesediaan untuk terus terlibat, bahkan setelah keramaian sebuah acara berakhir.

***

Napak tilas Merah Muda Fest 2026 membawa peserta dari Museum Sumpah Pemuda, melewati Gereja Katedral Jakarta, hingga berakhir di Lapangan Banteng.

Rute tersebut mempertemukan peserta dengan ruang-ruang yang menjadi bagian dari lanskap sejarah dan kehidupan kebangsaan di Jakarta. Di sepanjang perjalanan, semangat Sumpah Pemuda menjadi pengingat bahwa persatuan Indonesia bukan sesuatu yang hadir dengan sendirinya.

Pada 1928, para pemuda dari latar belakang berbeda menyatakan tekad untuk bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan. Mereka membangun kesadaran kebangsaan di tengah perbedaan asal-usul dan identitas, jauh sebelum Indonesia merdeka.

Bagi Rafiq, nilai itu tetap relevan dalam kehidupan hari ini. Persatuan tidak cukup dibangun dengan mengakui bahwa Indonesia beragam. Persatuan juga membutuhkan kesediaan untuk saling mendengarkan, bekerja bersama, dan menempatkan kepentingan masyarakat luas di atas sekat-sekat perbedaan.

Di tengah persoalan yang beragam, semangat tersebut menjadi penting. Sebab, masalah pendidikan, korupsi, bencana, dan kerusakan lingkungan tidak mengenal batas kelompok. Dampaknya dapat dirasakan oleh siapa saja dan penyelesaiannya membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

“Semangat Sumpah Pemuda mengingatkan kita bahwa perjuangan tidak selesai ketika sebuah ikrar diucapkan. Persatuan harus dirawat dan diwujudkan dalam tindakan,” ujarnya.

***

Perjalanan dari Sumenep menuju Jakarta pada akhirnya bukan hanya tentang mengikuti sebuah kegiatan. Bagi Rafiq, perjumpaan dengan ratusan pemuda menjadi ruang untuk mengingat kembali bahwa setiap daerah memiliki cerita, setiap generasi membawa harapan, dan setiap warga memiliki tanggung jawab terhadap masa depan bangsanya.

Semangat kebangsaan tidak harus selalu dimulai dari panggung besar. Ia bisa tumbuh dari lingkungan terdekat: dari keberanian mendengarkan keluhan warga, kepedulian terhadap anak-anak yang membutuhkan akses pendidikan, perhatian pada lingkungan, hingga kesediaan mengingatkan ketika kepentingan rakyat terabaikan.

Di sanalah gagasan merawat pertiwi menemukan maknanya. Bukan semata-mata sebagai ungkapan cinta terhadap Indonesia, melainkan sebagai kesediaan untuk ikut menjaga kehidupan di dalamnya.

Rafiq datang dari Sumenep membawa cerita Madura. Dari Jakarta, ia membawa pulang ruang pandang yang lebih luas tentang persatuan, kepedulian, dan peran generasi muda.

Sebab, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh apa yang diwariskan generasi sebelumnya. Masa depan itu juga dibentuk oleh keberanian anak muda untuk berpikir, bersuara, dan mengambil bagian dalam perjalanan panjang bangsanya. (yols/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Merah Muda Fest 2026, Repdem Dorong Ruang Politik bagi Anak Muda

Banu Lesmana Bagaskara menilai Gen Z bukan generasi apolitis, tetapi masih menghadapi hambatan masuk partai ...
KRONIK

Dari Sumenep ke Jakarta, Rafiq Membawa Cerita Madura dan Semangat Merawat Indonesia

JAKARTA – Perjalanan dari Sumenep menuju Jakarta bukan sekadar perpindahan dari satu kota ke kota lain bagi ...
EKSEKUTIF

Marhaen Djumadi Dorong Penguatan Pangan dan Kesejahteraan Petani Nganjuk

NGANJUK – Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi menilai kebijakan pemerintah pusat terkait harga gabah membantu memberikan ...
SEMENTARA ITU...

165 Pecatur Ikuti Piala Ketua DPRD Trenggalek, Doding Bidik Atlet Berprestasi

TRENGGALEK – Sebanyak 165 pecatur dari Trenggalek dan luar daerah mengikuti turnamen terbuka catur Piala Ketua DPRD ...
KABAR CABANG

Warga Ponggok Kesulitan Air Bersih, PDIP Kediri Salurkan Bantuan dan Siapkan Solusi Jangka Panjang

KEDIRI – Kesulitan air bersih yang dialami warga Desa Ponggok, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, mendorong DPC PDI ...
HEADLINE

Megawati di Merah Muda Fest: Anak Muda Harus Kritis dan Bertanggung Jawab atas Masa Depan Bangsa

JAKARTA – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mendorong generasi muda berani berpikir kritis, ...