Minggu
19 April 2026 | 4 : 37

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Dewan-Pemkot Cari Solusi Berdayakan Warga eks-Lokalisasi Dolly

SAMSUNG CAMERA PICTURES

SAMSUNG CAMERA PICTURESSURABAYA – Komisi D DPRD Kota Surabaya tidak ingin persoalan masyarakat di kawasan Putat Jaya pasca penutupan lokalisasi Dolly berlarut tanpa kejelasan. Komisi yang membidangi kesejahteraan rakyat ini menggelar hearing dengan dinas terkait untuk mencari solusi terbaik bagi warga yang terdampak penutupan Dolly, Rabu (28/1/2015).

Ketua Komisi D Agustin Poliana mengatakan, bahasan rapat dengar pendapat soal Dolly kali ini terkait dampak ekonomi yang dialami warga. Sebab, katanya, banyak warga yang akhirnya kehilangan mata pencarian setelah Dolly ditutup Pemkot Surabaya.

Menurut Titin, sapaan legislator dari PDI Perjuangan tersebut, yang dilakukan pemerintah selama ini sudah cukup baik, yakni memberi pelatihan kepada warga. Namun, setelah pelatihan tidak ada tindak lanjutnya.

“Jangan sekedar dilatih, harus ada upaya agar mereka bisa produktif. Misalnya, mengupayakan kemudahan mendapatkan bahan baku dan pemasaran,” kata Titin.

Kepala Dinas Sosial Supomo yang hadir dalam hearing mengatakan, Pemkot Surabaya sebenarnya sudah melakukan upaya pemberdayaan warga di sekitar eks-lokalisasi Dolly. Upaya untuk mengajak warga itu, sampai sekarang masih dilakukan.

Pemkot, ujarnya, juga sangat akomodatif terhadap keinginan warga terkait pelatihan apa yang mereka inginkan. “Dalam waktu dekat ini ada pelatihan sablon untuk anak-anak muda setempat. Biayanya sekitar Rp 90 juta dari CSR sebuah perusahaan,” kata Supomo.

Meski demikian, tambah dia, pemkot membutuhkan masukan semua pihak dalam mencari solusi penanganan warga eks-lokalisasi Dolly. “Kami tetap minta masukan semua pihak. Kami butuh dukungan,” ujarnya.

Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Airlangga Bagong Suyanto yang juga hadir di Komisi D menilai Pemkot Surabaya belum berhasil memberantas prostitusi. Meski Dolly sudah ditutup, katanya, tapi prostitusi masih marak di Kota Pahlawan.

Dia yakin, penutupan Dolly dan juga Jarak, memicu tumbuhnya tempat prostitusi secara terselubung. Pun persebaran penyakit HIV/AIDS akan tidak terkontrol.

Bagong juga menyatakan, program pelatihan kepada warga, seperti menjahit, membuat kue tidak tepat sasaran. Apalagi program tersebut hanya diberikan dalam waktu singkat, sehingga tidak cukup membekali warga terdampak untuk mencari pekerjaan atau membuka usaha. (pri

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

LEGISLATIF

Puan Maharani Tegaskan Tak Ada Toleransi Kekerasan Seksual, Soroti Kasus di Kampus

Puan Maharani menegaskan tidak ada toleransi terhadap kekerasan seksual di kampus dan mendorong evaluasi menyeluruh ...
EKSEKUTIF

Bongkar Fasad Eks Toko Nam, Pemkot Surabaya Kembalikan Fungsi Pedestrian

Pemkot Surabaya akan membongkar fasad eks Toko Nam di Embong Malang untuk mengembalikan fungsi pedestrian, tetap ...
KRONIK

HUT Klenteng Hoo Tong Bio Banyuwangi, Bupati Ipuk Sebut Momentum Perkuat Harmoni

BANYUWANGI – Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menghadiri perayaan HUT ke-242 Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) ...
RUANG MERAH

Setelah Persamuhan di Bandung, 71 Tahun Silam…

Oleh Eri Irawan* SETELAH persamuhan di Bandung, 71 tahun silam, dunia tidak banyak berubah. Perang Dingin memang ...
EKSEKUTIF

Mas Ipin Ajak Laki-laki Evaluasi Diri dan Tekan Ego Patriarki demi Kesetaraan

Bupati Trenggalek Mas Ipin ajak laki-laki evaluasi diri dan tekan ego patriarki dalam perjuangan kesetaraan gender ...
KRONIK

Erma Susanti Tegaskan Perempuan Harus Suarakan Kesetaraan Gender di Era Digital Indonesia

Erma Susanti dorong perempuan Indonesia aktif menyuarakan kesetaraan gender melalui media sosial sebagai bagian ...