oleh

Cerita Banteng Babadan Mendobrak Stigma Negatif Jathil Lanang dalam Reog

PONOROGO – Setelah sekian tahun menghilang dan digantikan, kini jathil laki-laki atau dalam bahasa Jawa Jathil Lanang dalam pertunjukan kesenian Reog Ponorogo muncul kembali.

Pasalnya pada pembukaan Grebeg Suro 2019 di Ponorogo, para jathil lanang menujukkan performa mereka.

Munculnya jathil lanang tentu membangkitkan dan melestarikan kembali keberadaan jathil lanang itu sendiri. Dan mengubah stigma masyarakat saat ini akan penari kuda pada zaman dahulu.

Lalu bagaimana cerita tentang jathil lanang? Berikut Liputannya.

Adalah Agung Priyatno, salah satu penari jathil lanang di Ponorogo yang merupakan seorang Banteng tulen.

Di rumahnya yang berada di sekitar di Jalan Mayjend Sutoyo, Babadan, Ponorogo, Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu DPC PDI Perjuangan Ponorogo ini menyediakan satu ruang untuk menyimpan kenangannya saat menjadi jathil lanang tahun 80-an silam.

Mulai dari kuda kepang, baju jathil yang dia gunakan saat manggung dulu, sampai selendang. Tidak hanya itu, juga berjejer foto-foto Agung saat menjadi jathil lanang. Pun ada dua kepala barongan di ruangan tersebut. .

Maklum saja, selain pernah menjadi jathil lanang, ayah Agung juga seniman reog yang cukup terkenal pada tahun 1980-an.

Lantas, anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Ponorogo ini bercerita bahwa pada tahun 1970-an jathil pada pertunjukan reog, bukan seorang perempuan melainkan seorang laki-laki.

Menjadi jathil lanang adalah sebuah kebanggaan. Saat ini mereka yang mengaku pernah menjadi jathil lanang di Ponorogo ada 18 orang.

“Saya dulu bangga menjadi jathil lanang. Dan saya sekarang mengakuinya. Tidak perlu malu karena pernah menjadi jathil lanang,” ujarnya membuka percakapan, Minggu (18/4/2031).

Menurutnya, dia mencoba muncul kembali menjadi jathil lanang. Pasalnya, dari awal adanya reog, jathil dilakoni oleh seorang pria.

Namun seiring perkembangan zaman terkadang mengubah sebuah kesenian dan kebudayaan, agar dapat diterima.

Seperti halnya kesenian reog dimana kini penari jathilan adalah seorang perempuan cantik dengan jumlah banyak dalam satu pertunjukan reog. Sedangkan kalau dulu jathilan tidak lebih dari dua penari saja.

Selain itu, lanjut dia, adanya stigma tentang jathil lanang. Dia mengatakan, mungkin orang awam mengartikan jathil lanang itu sama dengan gemblak.

Padahal, kata dia, antara jathil lanang dan gemblak berbeda jauh. Sehingga banyak jathil lanang pada masa lampau yang tidak mau mengaku sebagai jathil lanang karena stigma negative tersebut.

Apalagi, gemblak selalu dikaitkan dengan homoseksual. Seorang anak laki-laki yang direlakan oleh orangtuanya menjadi gemblak warok, dan boleh diapa-apakan oleh warok yang mengasuhnya. “Beda jauh itu. Antara jathil lanang dengan gemblak,” jelas Agung.

Menurutnya, jika jathil lanang merupakan murni seorang penari. Sedangkan gemblak dalam budaya masyarakat Ponorogo, merupakan sosok laki-laki muda gantheng yang mengabdi pada seorang pemimpin reog atau sesepuh warok.

Gemblak tersebut, bertugas menjadi jathil dan melayani sosok yang mengasuhnya dalam hal ini warok. “Ya namanya diasuh pasti apa saja yang diinginkan pengasuh dilayani kan. Termasuk menjadi penari jathil,” terangnya.

Nanti, setelah dewasa, gemblak akan mendapatkan pedet atau anak sapi. “Nah kalau dulu anak sapi sangat berharga bagi warga. Bisa membajak sawah dan lain-lain,” jelas Agung

Pun jathil lanang itu sebuah maskot. Sehingga para warok berlomba-lomba mencari pria muda yang putih, rupawan untuk dijadikan gemblak kemudian mau menari jathil.

“Gemblak itu selain rupawan pasti diambil dari mereka yang tidak mampu. Harkat martabatnya diangkat,” tegasnya.

Dia berharap dengan munculnya jathil lanang, masyarakat lebih tahu apa itu jathil lanang, dan apa itu gemblak. Namun juga pemikiran tentang gemblak sebagai penyimpangan seksual diubah.

“Tolong diubah. Bukan hanya tentang penyimpangan seksual saja,” harapnya, menutup perbincangan. (mia/pr)

Komentar