oleh

Cara Wali Kota Risma Asah Emosional Anak

pdip-jatim-risma-hari-anak-nasionalSURABAYA –  Raut muka bocah berusia 3,5 tahun, Sukarno Wahyu Agung warga Karangpilang, Kota Surabaya, tampak gembira saat membuka bingkisan berupa aneka mainan yang baru saja ia terima dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Tak lama kemudian, dia asyik memainkan mainan pesawat dan juga lego bersama dengan teman-teman sebayanya. Sukarno adalah satu dari puluhan anak yang menerima bingkisan dari program Surabaya Peduli Sesama yang digagas oleh Pemerintah Kota (Pemkot Surabaya). Ada sekitar 200 paket bingkisan yang dibagikan Pemkot Surabaya kepada warga Kecamatan Karang Pilang.

“Ide awalnya itu agar anak-anak di Surabaya yang tidak bisa memiliki mainan, bisa merasakan mainan,” kata Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat ikut membagikan bingkisan di kantor Kecamatan Karangpilang beberapa waktu lalu.

Wali kota perempuan pertama di Surabaya ini juga menyampaikan bahwa Pemkot Surabaya memberikan banyak beasiswa untuk anak anak Surabaya. Harapannya, tidak ada anak Surabaya yang putus sekolah.

Risma juga mengimbau kepada orang tua agar memiliki perhatian lebih kepada anak-anaknya. Sebab, anak zaman sekarang mengalami era yang sangat berbeda dari era orang tuanya.

Godaan bagi anak untuk berbuat yang tidak benar, bisa datang dari mana saja. “Ketika anak belum pulang, bapak-ibu harus mencarinya. Tentunya juga harus rajin berkomunikasi dengan anak,” ujarnya.

Pada kesempatan lain, Rismaharini juga mengimbau kepada guru dan orang tua agar menerapkan pendekatan emosional kepada anak-anak sebagai upaya mencegah kenakalan kepada anak dan remaja.

Risma mengatakan anak-anak di Surabaya tidak hanya perlu dibekali dengan kemampuan intelektualitas saja. Namun, perlu ada pendekatan emosional seperti sentuhan kasih sayang dan empati dalam pengasuhan anak.

“Sebab, pengasuhan anak yang salah, akan berakibat pada meningkatnya kenakalan usia remaja,” katanya.

Peringatan Hari Anak Nasional pada 23 Juli adalah momentum bagi guru dan orang tuan dalam memberikan pendidikan yang terbaik buat anak-anaknya. “Anak-anak kita bukan hanya dibekali intelektual saja. Kalau itu saja, mereka bisa menjadi orang yang jahat. Harus diberi kasih sayang dan juga empati. Ini penting untuk membentuk karakter anak,” katanya.

Menurut Risma, para guru, orang tua, lurah, hingga ketua Rukun Tetangga (RT) harus memiliki kepedulian dan kepekaan terhadap tumbuh kembang anak-anak. Mulai di rumah, sekolah dan juga lingkungan tempat tinggal. Orang tua di rumah harus lebih sering berkomunikasi dengan anak. Begitu juga dengan para guru di sekolah.

Pendekatan emosional, sentuhan kasih sayang dan empati perlu dilakukan dalam pengasuhan anak. Sebab, pengasuhan anak yang salah akan berakibat pada meningkatnya kenakalan usia remaja.

Ini karena tantangan dan godaan yang dihadapi oleh generasi sekarang, berbeda jauh dengan tantangan pada masa kecil para guru dan dan orang tuanya. Salah satu parameternya, kejadian yang mengarah pada kejahatan seksual maupun kasus trafficking anak, acapkali bermunculan di negeri ini.

“Banyak sekali godaannya anak-anak sekarang, tidak sama dengan kita dulu. Ada program televisi, gadget dan sebagainya. Ayo kita rangkul mereka. Kalau semua peduli, saya yakin anak-anak kita akan selamat dari semua godaan,” katanya.

Menurut wali kota perempuan pertama di Kota Surabaya ini, kegiatan ini tidak  berhenti sekali ini. Tetapi akan terus berlanjut dengan melibatkan orang tua, lurah, dan juga ketua Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW).

“Saya nanti juga akan ketemu dengan RT/RW untuk penangkalan kejahatan seksual ini. Saya akan lakukan dengan anak-anak, psikolog, BNN dan karang taruna,” sambung ibu dari dua anak ini. (ant)