Banteng Night Run Jadi Pembelajaran, Bagaimana Politik Itu Setia Pada Aturan Main

 188 pembaca

JAKARTA – Lomba lari rangkaian acara Banteng Ride and Night Run 2022 yang digelar DPP PDI Perjuangan di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Minggu (27/3/2022) malam, berlangsung meriah. Sebanyak 480 pelari berkompetisi secara sportif untuk memenangkan hadiah lomba.

Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto turut memeriahkan lomba Night Run yang dibuka sekitar pukul 18.30 WIB itu, dengan menjadi peserta di kategori putra jarak 5 km .

Hasto bersama pelari lainnya melakukan pemanasan di garis start sebelum dilepas. Tampak politisi asal Yogyakarta itu begitu antusias melakukan pemanasan.

Baca juga: Banteng Ride & Night Run Bakal Sasar Milenial Surabaya

Di garis start, Ketua DPP PDI Perjuangan Eriko Sotarduga, Ketua Badan Kebudayaan Nasional (BKN) Aria Bima, Ketua Panitia Pulung Agustanto sudah memegang bendera memberikan aba-aba melepas pelari. Setelah jeda tiga menit, kategori putri 5 km ikut dilepas.

Saat pelepasan peserta, panita Banteng Ride & Night Run memutarkan theme song Lari Cantik yang diciptakan khusus untuk agenda Banteng Night Run.

Tak berapa lama, Hasto sampai garis finish setelah berlari satu putaran lingkaran luar Stadion GBK. Hasto langsung naik ke panggung untuk mengangkat bendera tanda lomba 15 km putra dimulai.

“Saya satu putaran saja. Napas tertekan, karena saya tidak biasa lari. Lebih nyaman bersepeda bisa kita atur speed,” kata Hasto, tertawa. Pada pagi harinya, Hasto memang menjadi peserta lomba sepeda.

Dalam acara ini, BKN Band dari panggung utama turut membakar semangat para peserta, termasuk menyanyikan lagu Maumere. Otomatis saja, lagu itu mengundang para peserta ikut bernyanyi dan berjoget.

Selain itu, BKN Band juga membawakan lagu rock berjudul It’s My Life dari Bon Jovi yang dibawakan dengan versi dangdut koplo. Lagu itu dinyanyikan sebelum pelepasan 15 km putri. “Lemasin bu, jangan dilawan,” ujar salah satu vokalis BKN Band.

Tak hanya itu, Funky Papua juga memeriahkan lomba lari malam yang diselenggarakan PDI Perjuangan.

Hasto merasa kagum dengan kegiatan ini karena pesertanya mayoritas diisi anak-anak muda. Bahkan, 15 di antaranya masih sangat belia.

“Bagaimana mereka menunjukkan suatu spirit, suatu fighting spirit, suatu kontestasi, tetapi didasari pada aturan main yang jelas,” kata Hasto.

Alumnus UGM itu belajar satu hal dari kegiatan lomba itu, yakni kedisiplinan dan menjunjung tinggi sportivitas.

“Ini menjadi suatu pembelajaran dalam dunia politik, bagaimana politik itu setia pada aturan main,” sebutnya.

Hasto merasa politisi perlu belajar dari berbagai kegiatan olahraga semacam ini. “Sama dengan olahraga, kalau pemilu dicanangkan 14 Februari 2024, ya, itu aturan main yang harus disepakati kalau kita juga belajar dari dunia olahraga,” tandas Hasto. (goek)