Kamis
27 Agustus 2026 | 4 : 48

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Analisis Politik: Para Mosesin

pdip-jatim-jokowi-jk

MINGGU (3/8), saya menghadiri halalbihalal yang diadakan teman-teman pekerja seni dan kreatif. Mereka adalah para relawan yang berada di belakang Konser Salam Dua Jari di Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (5/7), yang oleh para analis disebut sebagai moment opname yang mengubah preferensi kelas menengah perkotaan untuk memilih Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Tidak mengherankan apabila Joko Widodo dengan tulus mengucapkan terima kasih atas dukungan dan semangat kesukarelaan teman-teman itu. Abdee Slank sebagai motor penggerak didukung tim kerja yang solid dan ikhlas telah menyatukan hati ratusan nama beken yang akrab di ranah seni dan kreatif. Mereka bukan hanya bandwagon, melainkan juga cahaya moral yang menggeret suara kelas menengah perkotaan ke pasangan Jokowi-JK.

Ketika sedang asyik mengamati polah para relawan yang sedang berfoto dengan Jokowi, masuk pesan singkat dari seorang teman akademisi di Singapura. Dia memberondong pertanyaan. Menurut evaluasi Anda, apa faktor yang menentukan kemenangan Jokowi-JK? Apakah masyarakat resah sehubungan dengan gugatan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa ke Mahkamah Konstitusi? Bagaimana nasib koalisi permanen nantinya?

Menurut penulis, kemenangan Jokowi-JK sesuai dengan ketetapan Komisi Pemilihan Umum (22 Juli) ditentukan oleh, meminjam istilah Daoed Joesoef, para Mosesin. Mereka adalah para relawan, yang ibarat Moses (Nabi Musa) mengantarkan penerusnya ke tanah terjanji. Dia sendiri tidak memasuki wilayah itu untuk menjadi pemimpin. Tugas sejarah para Mosesin adalah mengantar pemimpin yang baik demi memandu bangsanya.

Selain para pekerja seni dan kreatif, para Mosesin pendukung Jokowi-JK tersebut juga ditunjukkan oleh ratusan jejaring sosial yang bergerak di struktur basis. Mereka tak ubahnya sebuah mesin politik yang bergerak dinamis tapi nir-oligarki. Ada Sekretariat Nasional (Seknas), Sahabat Jokowi, Kawan Jokowi, Pro Jokowi (Projo), Putih Jokowi, dan lain-lain. Juga ada individu dan tim pengawal setelah pencoblosan 9 Juli 2014, seperti tim Kawal Pemilu.

Gerak para relawan tersebut meniti rajutan tipping point yang secara naluriah sudah dibangun oleh Jokowi. Tindakan spontan Jokowi yang membagikan kaus di titik-titik strategis dengan laju mobil perlahan atau bahkan berhenti menunjukkan ketajaman insting politiknya. Tanpa dia sadari, tindakan itu menyebar seperti virus dan menjadi dongeng (Malcolm Gladwell, 2000).

Orang yang menerima kaus tersebut memproduksi narasi bahwa dia menerima kaus itu langsung dari tangan Jokowi. Klaim langsung dari tangan Jokowi itu menjadikan orang tersebut mempunyai daya ledak setara dengan delapan bom neutron. Laiknya virus, mereka bergerak dan menebar ke mana-mana. Inilah katup pengaman Jokowi-JK yang kurang diperhitungkan oleh lawan politik. Katup ini menyelamatkan Jokowi-JK dari manuver politik yang berusaha menenggelamkannya.

Kerja para Mosesin yang dilandasi ketulusan dan kerelawanan ketika kontestasi pilpres berakhir adalah kembali ke habitatnya. Mereka kembali ke ranah kehidupannya dan berkarya seperti semula. Dalam konteks ini, mereka kembali menjadi perekat di tengah masyarakat yang sebelumnya terbelah karena preferensi politik. Pendeknya, aroma kontestasi politik mengempis dan kehidupan di akar rumput kembali guyub, apalagi disongsong oleh kebahagiaan Idul Fitri.

Fenomena tersebut mempercepat bekerjanya mekanisme melodramatik bangsa Indonesia yang salah satu cirinya adalah mudah lupa. Kontestasi politik yang panas dan membelah sudah dilupakan. Masyarakat kembali ke rutinitas kehidupan seperti sebelum bulan politik hadir.

Oleh karena itu, kekhawatiran sementara pihak bahwa kekecewaan politik akan memicu kerusuhan sosial tidak mendapatkan pijakan argumentasi apa pun. Sejauh ini tidak terbangun sinergi segitiga kekuatan (mahasiswa-militer-pengusaha). Tanpa kerja sama tiga kelompok strategis itu, keresahan sosial sulit terjadi. Dengan bahasa lain, masyarakat tidak terpengaruh, apalagi resah oleh drama politik elite yang sekarang ini sedang berlangsung, seperti gugatan tim Prabowo-Hatta di Mahkamah Konstitusi.

Sebaliknya, apabila langkah politik tersebut tidak terukur, sentimen publik kepada mereka, terutama pada aktor utama, yaitu Prabowo-Hatta, justru akan negatif. Inilah batasan imajiner dari karakter melodramatik bangsa ini yang tecermin dalam ungkapan ngono yo ngono ning ojo ngono (meskipun begitu, jangan begitu). Semakin kita agresif, semakin ditinggalkan publik.

Hal sama akan berlaku di parlemen. Dalam pendekatan budaya politik, jika koalisi permanen dari sejumlah besar partai dibawa ke parlemen, secara prediktif akan melahirkan sentimen negatif dari masyarakat. Ini terkait budaya politik kita yang berpusat pada figur, bukan pada parpol.

Jumlah koalisi besar partai-partai politik apabila miskin tokoh akan dipersepsi publik tak lebih sebagai gerombolan politik. Ini akan mementahkan komitmen koalisi permanen di antara mereka. Terlebih lagi, cita-cita para politisi tersebut tak lebih dari sekadar menjadi priayi (pejabat) dan bukan pengibar bendera oposisi.

Itulah bedanya mereka dengan para Mosesin yang bekerja dengan hati. (*)

Sukardi Rinakit
Peneliti Senior Soegeng Sarjadi Syndicate dan Pendiri Kaliaren Foundation

Editor: Inggried Dwi Wedhaswary
Sumber: KOMPAS CETAK

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkini

KRONIK

Perkuat Mutu Pendidikan, Banyuwangi Kolaborasi dengan Dunia Usaha

BANYUWANGI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi terus memperkuat kualitas pendidikan melalui kolaborasi ...
KRONIK

Endog-Endogan, Tradisi Maulid Nabi di Desa Kembiritan Banyuwangi

BANYUWANGI – Tradisi Endog-endogan di Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, kembali digelar untuk ...
PEREMPUAN

Susy Cecilia: Kesederhanaan Fatmawati Adalah Spirit Perempuan Indonesia

ADA sesuatu yang sederhana tetapi sangat besar maknanya ketika nama Fatmawati Soekarno kembali disebut. Bukan ...
KABAR CABANG

DPC Tulungagung Kukuhkan Pengurus Ranting dan Anak Ranting se-Kecamatan Campurdarat

TULUNGAGUNG – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Tulungagung mengukuhkan pengurus Ranting dan ...
KABAR CABANG

Data Desil Tak Sesuai Realita, Warga Lumajang Bisa Lapor ke Kantor DPC atau Gedung DPRD

LUMAJANG – Komisi D DPRD Kabupaten Lumajang merespon adanya keluhan masyarakat terkait data Desil yang dinilai ...
LEGISLATIF

Puan: DPR Siap Terima Aspirasi Massa Peserta Demo 27 Agustus

JAKARTA – Ketua DPR RI Puan Maharani memastikan DPR terbuka menerima aspirasi masyarakat yang akan disampaikan ...