oleh

Abon d’emmak, Strategi Emak-Emak Naikkan Nilai Jual Ikan Kepulauan

-UMKM-28 kali dibaca

SUMENEP – Tahun 2018, dengan modal 200 ribu Thahira As’ad Abdullah nekat merintis usaha Abon d’emmak. Kenekatan itu berangkat dari kondisi sore yang menjemukan: ibu-ibu sebayanya duduk di depan rumah tanpa penghasilan. Dia berpikir, alangkah baiknya jika para ibu itu memiliki penghasilan. Pasti rumah tangga mereka akan lebih bergairah, dan asap di dapur mereka akan mengepul dengan asap yang lebih pekat.

Merintis usaha mandiri tidaklah seperti membalikkan telapak tangan. Thahira harus pontang-panting sendiri memulai usaha dan merekrut ibu-ibu yang bersedia berkejasama dengannya.

“Kemarin itu ada program CSR-nya Kangean Energy Indonesia. Kebetulan saya jadi koordinator untuk ibu-ibu. Tapi saya tidak ikut dalam kelompok itu. Terus, ketika saya melihat ibu-ibu yang dilatih Kangean Energy Indonesia tidak jalan, saya minta ijin untuk mengajak mereka bekerjasama. Waktu itu, modalnya 200 ribu plus bantuan alat,” ujar Thahira, mengenangkan masa awal dirinya merintis usaha, Jumat (7/5/2021).

Selang tiga tahun, Abon d’emmak mulai mendapatkan penikmat. Saban bulan, Thahira mampu  memproduksi abonnya 300-400 bungkus.

“Kita menjualnya dengan harga 17.500 perbungkus. Jika ingin dijual kembali, yaa silakan. Tapi jangan lebih dari 25.000,” jelas Thahira sambil tertawa.

Sejauh ini, perempuan yang menjabat Bendahara Ranting PDI Perjuangan Pagerungan Besar, Sapeken itu menjual produk abonnya ke toko-toko di Sumenep, Surabaya, Riau, Singapora, Arab Saudi, dan lainnya. Penjualan itu bisa melalui media sosial, kenalannya, dan lainnya.

“Saya sudah memiliki 5 orang pegawai. Mereka semua perempuan. Itulah semangat awal saya, membuat ibu-ibu itu memiliki penghasilan tambahan,” urai Thahira tentang perjalanan usaha Abon d’emmaknya.

Beberapa varian abon yang ditawarkan Thahira antara lain, baby tuna, putihan, smart abon banjar, baronang susu, dan pari. Para pembeli bisa menghubungi Thahira langsung di nomor WA: 085236351069

“Tapi tidak menutup kemungkinan, nanti ada yang pesan kakap dan tengiri,” terang Thahirah.

Selain memberi penghasilan para ibu, Thahira juga berharap, usaha abonnya dapat meningkatkan nilai jual ikan tangkapan nelayan masyarakat pagerungan besar, Sapeken.

“Daripada dijual ikan mentahnya, lebih baik dijual ikan olahan (abon). Sehingga masyarakat nelayan tidak monoton menjual ikannya saja. Kalau bisa dijual dalam bentuk lain, kenapa tidak kita coba? Sehingga nilai jualnya lebih bervarian,” tegas alumni SMA  PGRI Pamekasan itu.