BANGKALAN – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur, Mahfud, S. Ag., menggelar silaturrahim dan diskusi Wawasan Kebangsaan dengan tema “Tantangan Pondok Pesantren di Era Revolusi Industri 4.0.” di salah satu rumah makan di Jalan Halim Perdana Kusuma di kelurahan Mlajah, Bangkalan, Sabtu (11/6/2022).
Hadir dalam acara tersebut, di antaranya, Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Hidayah II Bangkalan, KH Fauzi, guru ngaji, dan kiai dari berbagai pondok pesantren (ponpes) di Kota Bangkalan.
“Kegiatan ini menjadi penting, jika kemudian berbicara tentang calon pemimpin bangsa nantinya, sehingga kami perlu mendengar dan berdiskusi apa saja yang saat ini yang menjadi tantangan pondok pesantren,” ujar Mahfud.
Menurut Mahfud, dalam upaya untuk menyiapkan santri menjadi calon pemimpin yang memiliki jiwa berakhlak karimah, dibutuhkan berbagai persiapan, sehingga perlu dilakukan diskusi dan musyawarah bersama.
“Kami turut mengundang sejumlah ulama untuk kemudian berbagi wawasan untuk bersama-sama membekali santri tentang kepemimpinan yang berjiwa akhlak karimah,” jelas Mahfud.
Anggota Komisi C DPRD Jatim itu juga mengingatkan, agar di era digital, masyarakat pondok pesantren melakukan adaptasi terhadap perkembangan zaman dengan berpegang teguh pada prinsip ‘menjaga tradisi lama dan mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik.’
“Tidak salah jika kita mengikuti kemajuan teknologi, tetapi juga tidak boleh meninggalkan tradisi dan kebiasaan lama yang juga memiliki peran penting,” terangnya.
Pentingnya akhlak karimah memang harus ditekankan. Karena di era digital, akses terhadap ilmu pengetahuan begitu melimpah. Hanya saja, terang Mahfud, persoalan karakter dan moralitas generasi muda menjadi poin penting dalam membangun peradaban.
“Kalau soal ilmu pengetahuan tinggal kita klik di google. Pasti kita akan tahu semuanya,” tuturnya.
Sedangkan santri, jelas Mahfud, sebagai calon pempimpin di masa yang akan datang, tentu tidak hanya dituntut menguasai ilmu pengetahuan saja. Akan tetapi, mereka juga harus memiliki karakter kepemimpinan yang bisa jadi teladan masyarakatnya.
“Peran ini harus terus dipantau oleh pondok pesantren, kemudian memberikan edukasi secara konsisten terkait dua hal tersebut, yakni ilmu pengetahuan dan akhlak karimah,” pungkasnya. (set)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS












