Senin
07 April 2025 | 3 : 45

Konsisten Latih Tari Klasik, Imam: Kita Pasti akan Menjadi Bangsa Maju

PDIP-Jatim-Imam-11102021

NGAWI – Di tengah arus globalisasi, makin banyak generasi muda yang mulai melupakan budaya bangsa. Ada gejala, sebagian besar generasi muda ini menyukai budaya impor demi mengejar tren dan gaya.

Kendati demikian, Kabupaten Ngawi beruntung memiliki banyak budayawan dan seniman yang masih konsisten nguri-uri budaya pun melestarikan seni dan budaya kepada generasi masa kini.

Imam Joko Sulistyo, seniman yang memiliki sanggar tari Suryo Budoyo, memiliki perhatian serius untuk melatih generasi muda dengan tari tradisional.

“Kita memang fokus pada tari etnis mataraman, gaya Solo. Dan itu termasuk jenis tari klasik,” katanya kepada pdiperjuangan-jatim.com, Senin (11/10/21).

Pengurus Badan Kebudayaan Nasional (BKN) DPC PDI Perjuangan Ngawi ini menuturkan, sangar tari Suryo Budoyo yang dibentuk pada tahun 2005, memang fokus melatih anak-anak muda. Lebih khusus bagi anak usia sekolah dasar, menengah, hingga remaja.

Terkait anak muda sebagai sasaran peserta tari di sanggarnya, ia memiliki misi khusus. Yakni, ia ingin anak-anak Ngawi, setelah dewasa nantinya bisa berbudaya dengan pernah berlatih, dan belajar kebudayaan, khususnya pada seni tari.

“Untuk melestarikan budaya kita, karena budaya kita itu luar biasa. Seperti yang dikatakan Raja Mataram, rum kuncaraning bangsa, gumantung ana ing budaya (kebesaran suatu bangsa bergantung terhadap budayanya, red),” jelasnya.

“Kalau kita mau nguri-uri budaya, melestarikannya, kita pasti akan menjadi bangsa yang maju. Sudah banyak negara maju, tapi tetap melestarikan budayanya,” tambah Imam.

Saat ini, Imam memiliki 100 lebih anak murid. Anak-anak ini berasal dari berbagai wilayah di Kabupaten Ngawi. Pelatihan tari di sanggar milik Imam biasa digelar setiap hari Senin hingga Sabtu. Waktu pelaksanaannya, mulai pagi hari, siang dan sore, bergantung pada kelas yang diikuti siswa.

Sementara untuk tari yang diajarkan, kreator tari Reco Banteng itu mengatakan, kebanyakan tari klasik dari Jawa Tengah.

“Untuk anak cewek biasanya, Bondan, Golek, Gambyong, Gambir Anom. Untuk cowok, tari Kuda-kuda, Wanoro, kiprah ratu sewu, pedang tameng. Tujuan saya untuk melestarikan budaya kita,” ujarnya. (Mmf/set)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

LEGISLATIF

Kebijakan Tarif Trump & Melemahnya Rupiah, Novita Hardini: Momentum Emas Transformasi Pariwisata RI

JAKARTA – Dampak kebijakan tarif proteksionis yang diwariskan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kini mulai ...
EKSEKUTIF

Hadapi Kenaikan Tarif Dagang AS, Ning Ita Siapkan Grand Design Pariwisata Domestik

MOJOKERTO – Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari, mengungkapkan optimisme tinggi dalam menghadapi dampak isu global ...
LEGISLATIF

Urbanisasi Pascalebaran, Fuad Benardi: Surabaya Bukan Tempat Pelarian Tanpa Skill

SURABAYA – Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim mengingatkan perlunya penguatan antar kepala daerah untuk mencegah ...
KRONIK

H Suyatno Hadiri Pengajian dan Halal Bihalal di Yayasan Al Hikmah, Panekan

MAGETAN – Wakil Ketua DPRD Magetan yang juga sekretaris DPC PDI Perjuangan, H. Suyatno menghadiri acara Pengajian ...
KRONIK

MH Said Abdulah Gelar Syawalan dan Silaturahmi Perjuangan

SUMENEP – Ketua Banggar DPR RI sekaligus Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, MH Said Abdullah, menggelar menggelar ...
SEMENTARA ITU...

Pengurus DPC Magetan Unjung-unjung Lebaran ke Sejumlah Sesepuh Partai

MAGETAN – Sejumlah pengurus DPC PDI Perjuangan Magetan berkunjung ke rumah sejumlah senior dan sesepuh Banteng. ...