SURABAYA – Ketua DPP PDI Perjuangan Hamka Haq menyebutkan bahwa peristiwa perebutan kekuasaan pemerintahan oleh Taliban di Afganistan berpotensi mempengaruhi gerakan dan taktis kelompok radikal di Indonesia.
Dia menjelaskan, secara historis konflik di Afganistan telah terjadi sebagai akibat dari perang dingin perebutan kekuasaan dan pengaruh dari dua kekuatan dunia masa itu, antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.
“Jadi sebenarnya Mujahidin awalnya itu dibantu Amerika untuk berperang dengan Soviet. Namun dalam faksi-faksi Islam di Afganistan ini terjadi konflik antara Mujahidin ini dengan Taliban,” terang Hamka Haq dalam kegiatan webinar bertajuk Dampak Perubahan Politik Afganistan Terhadap Ketahanan Ideologi Indonesia yang digelar Badiklatda DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Jumat (17/9/2021).
Konflik yang terjadi di Afganistan kemudian menarik masuknya aktor-aktor baru seperti kelompok radikal seperti Al-Qaeda dan Islamic States of Iraq and Syria (ISIS).
Belajar dari peristiwa yang terjadi di Afganistan, Hamka Haq berpandangan pengaruh ideologi radikal kanan juga tengah berupaya menghegemoni pandangan masyarakat Indonesia.
“Mereka menganggap bid’ah seluruh apa yang tidak pernah dilaksanakan oleh Rasul, sehingga harus diberantas semua. Kemudian juga memandang pemerintah itu adalah thogut yang harus ditumbangkan. Jadi ini yang menjadi ciri dari radikalisme,” ungkapnya.
Hamka Haq mengingatkan, walaupun secara landasan hukum, berbagai ormas radikal sudah ditetapkan sebagai organisasi terlarang, tapi organ-organ organisasi tersebut masih memiliki anggota yang terus beraktivitas dan menyebarkan paham-paham radikal setiap hari.
“Meskipun organisasinya sudah dibubarkan tapi orang-orangnya masih hidup. Ini yang harus kita waspadai dari pendidikan dan keseharian masyarakat. Ini tugas PDI Perjuangan untuk mengawal Pancasila bersama-sama dengan NU dan Muhammadiyah,” imbuhnya.
Menurutnya, menjadi tugas kader-kader PDI Perjuangan di Jawa Timur bahkan seluruh Indonesia untuk benar-benar melindungi masyarakat dari paparan ideologi radikal yang bertujuan menumbangkan pemerintah melalui cara-cara inkonstitusional.
Pencegahan melalui pendekatan secara personal serta memberikan pengawasan terhadap infiltrasi kelompok-kelompok radikal di tengah masyarakat harus benar-benar diperhatikan.
“Teroris itu maunya menumbangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui gerakan bersenjata. Organisasi radikal tersebut, bertransformasi menjadi gerakan teroris itu adalah biologinya sama dengan Taliban,” tandasnya. (yols/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










