Eko Herdiyanto mendorong penguatan ruang hijau di perbatasan demi mengembalikan citra Kota Malang sebagai Kota Bunga.
MALANG — Ketua Komisi D DPRD Kota Malang, Eko Herdiyanto, mendorong agar penganggaran tahun ini mulai diarahkan untuk memperkuat ruang terbuka hijau (RTH) di wilayah perbatasan Kota Malang.
Menurutnya, wajah Kota Malang dari sisi utara, selatan, timur hingga barat harus benar-benar mencerminkan identitas sebagai Kota Bunga yang hijau, sejuk, dan nyaman.
“Kita ingin ketika orang masuk Kota Malang langsung merasakan suasana kota yang hijau dan nyaman. Itu harus terlihat dari taman, pohon dan ruang hijaunya,” ujar Eko kepada wartawan, Rabu (13/5/2026).
Sorotan tersebut dia sampaikan usai rangkaian Hari Jadi ke-112 Kota Malang bertema “Malang Kota Bersih Menuju Adipura untuk Indonesia ASRI”. Politisi senior PDI Perjuangan itu menilai upaya menuju Adipura 2026 tidak cukup hanya fokus pada persoalan sampah dan kebersihan lingkungan.
Pemerintah Kota Malang juga diminta serius membenahi minimnya perawatan taman kota, ruang terbuka hijau, hingga kampung tematik yang mulai kehilangan daya tariknya.
Menurut Eko, identitas Kota Malang sebagai Kota Bunga perlahan memudar akibat kurang optimalnya perawatan taman dan penghijauan.
“Kerindangan pohon-pohon dan taman-taman di Kota Malang ini sebenarnya punya potensi besar,” katanya.
Eko mencontohkan kondisi sejumlah kampung tematik seperti Kampung Warna-Warni dan Kampung 3G yang dulu sempat menjadi ikon wisata Kota Malang.
Namun belakangan, beberapa titik mulai terlihat kusam akibat minim revitalisasi dan perawatan berkelanjutan.
“Dulu kampung tematik itu luar biasa. Lampion hidup, taman kecil tertata, warna cat masih bagus dan menjadi daya tarik wisatawan. Sekarang ada beberapa titik yang mulai memudar,” ujarnya.
Menurutnya, revitalisasi taman dan kampung tematik tidak cukup hanya mengandalkan swadaya masyarakat. Pemerintah daerah dinilai harus hadir melalui dukungan anggaran dan perawatan rutin.
Meski demikian, Eko mengakui keterbatasan anggaran menjadi tantangan utama dalam pengelolaan taman dan ruang hijau kota.
Beberapa tahun terakhir, fokus pemerintah disebut lebih banyak terserap untuk penanganan sampah yang volumenya mencapai sekitar 600 hingga 800 ton per hari.
Selain itu, anggaran juga digunakan untuk pemangkasan pohon dan penanganan kebersihan rutin.
“Karena fokusnya ke sampah dan pemeliharaan rutin lainnya, akhirnya ada taman-taman yang perawatannya kurang maksimal,” tegasnya.
Komisi D DPRD Kota Malang juga menyoroti capaian ruang terbuka hijau Kota Malang yang dinilai masih belum ideal. Saat ini, capaian RTH disebut masih berada di kisaran 17 hingga 18 persen, sementara target nasional mencapai 20 persen.
Eko menilai keterbatasan lahan memang menjadi tantangan.
Namun ia menyebut masih banyak potensi lahan fasilitas umum dan fasilitas sosial dari kawasan perumahan yang belum dimanfaatkan maksimal.
“Masih banyak fasum-fasos perumahan yang belum diserahkan dan itu sebenarnya bisa menjadi potensi ruang hijau baru,” katanya.
Eko berharap momentum Hari Jadi ke-112 Kota Malang menjadi titik awal kebangkitan untuk mengembalikan citra Kota Malang sebagai Kota Bunga.
Menurutnya, komitmen dan gerakan nyata dibutuhkan agar taman kota dan kampung tematik kembali hidup dan menjadi kebanggaan warga.
“Kalau taman dirawat rutin, kerusakan tidak akan besar. Yang penting ada komitmen supaya taman dan kampung tematik yang mulai terbengkalai bisa hidup kembali,” pungkasnya. (ull/pr)
Eko Herdiyanto, Kota Malang, Kota Bunga, ruang terbuka hijau Malang, kampung tematik Malan
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










