Minggu
08 November 2026 | 6 : 45

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Dari Raquel 52 Tahun hingga Farles 17 Tahun, Soekarno Run Blitar Satukan Semangat Lintas Generasi

pdip jatim 261108 start sr blitar

BLITAR — Usia bukan penghalang untuk terus berlari. Bagi Raquel Pirera Sajana, 52 tahun, setiap perlombaan adalah kesempatan untuk menguji kemampuan sekaligus menjaga semangat hidup. Sementara bagi Farles Syaif Sabana, 17 tahun, lintasan lari menjadi tempat membuktikan bahwa kerja keras dan persiapan bisa mengantarkan anak muda meraih prestasi.

Keduanya datang dari latar belakang berbeda. Raquel merupakan pelari asal Timor Leste yang kini menetap di Bandung. Farles adalah pelajar kelas XI SMA asal Malang, Jawa Timur. Namun, Minggu (8/11/2026) pagi, keduanya bertemu dalam satu perhelatan: Soekarno Run Blitar 2026.

Di antara ribuan pelari yang memadati Kota Blitar, Raquel dan Farles berhasil membawa pulang prestasi. Raquel meraih juara kedua kategori 5 kilometer (5K) Master usia 40 tahun ke atas, sedangkan Farles keluar sebagai juara pertama kategori pelajar 5K.

Bagi Raquel, keberhasilan tersebut merupakan buah dari kebiasaan berlatih dan mengikuti berbagai kompetisi lari. Persiapan selama sekitar tiga bulan menjadi bekal sebelum menghadapi lintasan Soekarno Run.

Ia mengaku senang bisa menjadi bagian dari kegiatan yang mempertemukan pelari dari berbagai daerah hingga mancanegara tersebut. Apalagi, rute lomba dinilainya cukup nyaman untuk diikuti.

“Persiapannya sekitar tiga bulan. Kami memang sering ikut lomba seperti ini, jadi sudah terbiasa. Untuk rutenya juga tidak sulit, sangat bagus,” ungkap Raquel.

Pada usia yang tidak lagi muda, Raquel menunjukkan bahwa olahraga bukan hanya milik mereka yang masih berada di bangku sekolah atau usia produktif. Konsistensi dan kemauan menjaga kebugaran menjadi bagian penting untuk terus aktif mengikuti kompetisi.

Atas prestasinya, Raquel membawa pulang hadiah sebesar Rp 7,5 juta.

Cerita berbeda datang dari Farles. Masih berusia 17 tahun, pelajar asal Malang itu justru sedang membangun perjalanan prestasinya di dunia atletik.

Kemenangan dalam kategori pelajar 5K menjadi pencapaian tersendiri bagi Farles. Ia tidak datang dengan persiapan seadanya. Selama kurang lebih dua bulan, dirinya menjalani latihan untuk meningkatkan kemampuan dan daya tahan tubuh.

Latihan interval dan tempo menjadi bagian dari rutinitas yang dijalankannya sebelum berlomba. Persiapan tersebut akhirnya berbuah hasil berupa gelar juara pertama dengan hadiah Rp 25 juta.

Bagi Farles, Soekarno Run bukan sekadar tempat mengejar kemenangan. Ia berharap kompetisi seperti ini semakin sering digelar agar semakin banyak anak muda tertarik menekuni olahraga, khususnya atletik.

Menurutnya, kehadiran ajang lari dengan peserta dari berbagai daerah dapat menjadi motivasi bagi generasi muda untuk terus mengembangkan kemampuan.

Dua cerita tersebut menjadi gambaran bahwa lintasan Soekarno Run mempertemukan semangat lintas generasi. Ada pelari yang terus menjaga konsistensi di usia matang, ada pula anak muda yang sedang merintis jalan menuju prestasi.

Di luar persaingan para pelari, Soekarno Run Blitar 2026 juga membawa pesan yang lebih luas. Sebanyak 4.200 peserta terdaftar mengikuti dua kategori lomba, yakni 5K dan 10 kilometer (10K).

Menariknya, lintasan yang disiapkan panitia menghubungkan sejumlah kawasan bersejarah terkait perjalanan hidup Presiden pertama RI, Soekarno. Peserta tidak hanya diajak berlari mengejar garis finis, tetapi juga menyusuri jejak sejarah Sang Proklamator di Kota Blitar.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar, Guntur Wahono, menilai kehadiran peserta dari berbagai daerah, termasuk luar negeri, menunjukkan daya tarik Soekarno Run semakin luas.

Namun, menurutnya, prestasi yang diraih para pelari tidak datang secara instan. Ada proses panjang berupa latihan, disiplin, dan persiapan yang harus dijalani sebelum seseorang mencapai hasil yang diinginkan.

“Ini menunjukkan semangat yang luar biasa. Rata-rata mereka yang menjadi juara sudah melakukan persiapan. Artinya, sesuatu itu harus dicapai melalui upaya dan persiapan yang matang,” kata Guntur.

Ia melihat olahraga dapat menjadi salah satu ruang untuk menanamkan nilai perjuangan kepada generasi muda. Semangat berlatih, keberanian berkompetisi, dan ketekunan mengejar target merupakan nilai yang perlu terus dibangun.

Guntur berharap semangat tersebut tidak berhenti setelah perlombaan selesai. Generasi muda perlu memiliki ruang untuk terus berkarya dan mengambil bagian dalam berbagai kegiatan positif.

Karena itu, DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar membuka peluang menggelar kegiatan serupa dalam skala lokal. Rencana tersebut akan dikoordinasikan terlebih dahulu dengan pemerintah daerah, khususnya Bupati Blitar Rijanto.

“Kami akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Barangkali suatu saat bisa diselenggarakan kegiatan serupa di tingkat lokal. Ini penting untuk memotivasi generasi muda agar terus berkarya dan berbuat sesuatu bagi negeri, terlebih dalam menyongsong Indonesia Emas 2045,” ujarnya.

Sementara itu, Steering Committee Soekarno Run Blitar 2026, Ardan Abadan Malik, menyampaikan apresiasi atas partisipasi masyarakat yang melampaui ekspektasi panitia.

Ia menyebut jumlah peserta yang terdaftar mencapai 4.200 orang. Bahkan, suasana perlombaan semakin ramai dengan kehadiran sejumlah peserta undangan dan masyarakat yang ikut berlari meski tidak menggunakan nomor identitas peserta atau BIB.

“Alhamdulillah, kegiatan ini berjalan sukses. Dari pendaftaran ada 4.200 pelari dan hari ini semuanya ikut serta. Bahkan, ada beberapa orang yang tidak menggunakan BIB juga ikut meramaikan,” kata Ardan, yang juga Wakil Sekretaris Internal DPC PDI Perjuangan Kota Blitar.

Ardan berharap Soekarno Run dapat kembali diselenggarakan dengan dukungan DPD PDI Perjuangan Jawa Timur dan pemerintah daerah. Pada pelaksanaan berikutnya, panitia bahkan menargetkan jumlah peserta meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan tahun ini.

Panitia menyediakan total hadiah Rp 500 juta dalam Soekarno Run Blitar 2026. Besarnya hadiah menjadi salah satu daya tarik bagi peserta untuk berkompetisi.

Namun, lebih dari sekadar hadiah dan gelar juara, pertemuan Raquel dan Farles di lintasan Blitar menyisakan pesan sederhana: setiap orang memiliki garis finisnya sendiri. Ada yang berlari untuk menjaga semangat di usia matang, ada pula yang berlari untuk membuka jalan menuju masa depan.

Di kota yang menyimpan jejak sejarah Bung Karno itu, ribuan langkah tersebut bertemu dalam satu semangat:

“Terus bergerak, berani berusaha, dan tidak berhenti mengejar tujuan”. (arif/pr)

Baca juga: 

Antusiasme Soekarno Run Membeludak, PDI Perjuangan Jatim Buka Polling Tentukan Kota Berikutnya

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Dari Raquel 52 Tahun hingga Farles 17 Tahun, Soekarno Run Blitar Satukan Semangat Lintas Generasi

BLITAR — Usia bukan penghalang untuk terus berlari. Bagi Raquel Pirera Sajana, 52 tahun, setiap perlombaan adalah ...
LEGISLATIF

Dua SK LP2B Pernah Bernomor Sama, DPRD Jember Pertanyakan Dokumen Terbaru

JEMBER – Perubahan data Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) di Kabupaten Jember kembali dipersoalkan DPRD. ...
LEGISLATIF

Yuzar Rasyid Dorong Dukungan untuk Ormas Keagamaan, Muslimat NU Perkuat Pendidikan Perempuan

KEDIRI — Anggota DPRD Kota Kediri, Yuzar Rasyid, mendorong pemerintah meningkatkan dukungan terhadap organisasi ...
KRONIK

Soekarno Run Blitar Tembus 5.000 Pelari, Hotel Penuh dan UMKM Ikut Bergerak

BLITAR — Soekarno Run Blitar 2026 melampaui target awal 4.200 peserta. Antusiasme masyarakat membuat jumlah pelari ...
KRONIK

Pagelaran Campursari Tombo Ati Bojonegoro, Merawat Seni Tradisi dan Penggerak Ekonomi

BOJONEGORO – Alunan musik campursari dan gelak tawa warga membahana di Lapangan Desa Sambongrejo, Kecamatan ...
KRONIK

Soekarno Run Lewati Istana Gebang dan Makam Bung Karno, Eri Cahyadi: Tanamkan Semangat Berdikari

BLITAR — Lintasan Soekarno Run 2026 yang melewati kawasan Istana Gebang dan Makam Bung Karno bukan sekadar rute ...