MALANG – Kesadaran memilah sampah dari rumah mulai tumbuh di kalangan warga Kota Malang setelah mengikuti sosialisasi pengolahan limbah domestik yang digelar Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Sri Untari Bisowarno.
Para ibu rumah tangga bahkan berkomitmen menjadi penggerak pemilahan sampah di lingkungan masing-masing karena limbah yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi.
Salah satunya disampaikan Nurul Setiowati. Ia mengaku mendapat perspektif baru setelah mengikuti sosialisasi yang menjangkau warga hingga tingkat akar rumput tersebut.
Menurut Nurul, selama ini persoalan sampah kerap dianggap sebagai tanggung jawab petugas kebersihan. Padahal, kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah menjadi langkah penting untuk mengurangi beban pengelolaan sampah perkotaan.
“Kebanyakan kita itu menganggap sampah ya sudah urusan petugas sampah, kan sudah bayar. Tapi setelah dengar penjelasan Bu Sri Untari, kami baru paham bahwa dengan alat sederhana, sampah organik dan anorganik itu kalau dipilah justru bisa jadi aset bernilai ekonomi,” ungkap Nurul.
Ia berkomitmen mengajak warga di lingkungan tempat tinggalnya untuk mulai memilah sampah basah dan kering. Selain membantu menjaga kebersihan lingkungan, pengolahan sampah juga dinilai berpotensi memberikan nilai tambah bagi perekonomian keluarga.
Apresiasi tersebut muncul setelah Sri Untari menggelar sosialisasi pengolahan sampah selama sepekan di wilayah Malang. Kegiatan terakhir menyasar warga Kecamatan Blimbing dan Sukun pada Senin (2/11/2026). Sebelumnya, sosialisasi juga dilakukan dengan menyambangi sejumlah wilayah di Kabupaten Malang.
Dalam kegiatan tersebut, warga diperkenalkan dengan berbagai contoh produk hasil pengolahan limbah berkonsep zero waste. Di antaranya eco-enzyme yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan kebersihan, serta hasil olahan organik yang dapat digunakan sebagai pupuk.
Limbah plastik juga diperkenalkan sebagai bahan yang dapat diolah kembali menjadi produk tertentu, termasuk bahan bakar padat atau briket melalui proses pengolahan yang sesuai.

Sri Untari menilai perubahan pola pikir masyarakat menjadi kunci penanganan persoalan sampah. Menurutnya, edukasi dan kebiasaan memilah harus dibangun sejak dini karena rumah tangga merupakan salah satu sumber utama timbulan sampah perkotaan.
“Urgensi hari ini soal sampah itu soal awareness, suatu kesadaran. Jadi, membangun mindset untuk mulai melakukan pemilahan sampah itu harus dimasifkan sejak dini, kalau nunggu pemerintah ya bisa lama lagi,” ujarnya.
Politisi PDI Perjuangan ini menegaskan, pengelolaan sampah seharusnya dimulai dari lingkungan domestik. Jika sampah organik dan anorganik dapat dipisahkan serta diolah sejak rumah tangga, volume residu yang dibawa ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) maupun tempat pemrosesan akhir dapat dikurangi.
Namun, Sri Untari mengingatkan bahwa inisiatif masyarakat harus didukung sarana yang memadai. Selama ini, sebagian warga sudah berupaya memilah sampah di rumah, tetapi sampah kembali tercampur ketika diangkut petugas karena keterbatasan fasilitas pemisahan.
Karena itu, ia mendorong Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengambil peran sebagai penggerak utama pengelolaan sampah terpadu dari hulu hingga hilir.
“Pemerintah daerah harus mengorkestrasi gerakan ini bersama-sama. Kalau berjalan parsial, tumpukan sampah akan tetap ada. Contoh konkretnya, perlu diproduksi gerobak sampah yang memiliki sekat pemisah antara organik dan anorganik,” ungkapnya.
Sri Untari juga menyatakan komitmennya memberikan pendampingan berkelanjutan secara mandiri. Ia berencana menerjunkan mentor dan menyiapkan sarana pendukung agar gerakan pemilahan sampah dapat berkembang di berbagai kecamatan.
Menurutnya, perubahan kebiasaan masyarakat perlu berjalan beriringan dengan dukungan pemerintah daerah, baik melalui regulasi, fasilitas, maupun pendampingan.
Melalui gerakan tersebut, Sri Untari berharap masyarakat Malang tidak lagi memandang sampah semata-mata sebagai persoalan kebersihan. Dengan pemilahan dan pengolahan yang tepat, limbah rumah tangga dapat menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi. (ull/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS













