SURABAYA – Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Sri Untari Bisowarno, mengusulkan pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mengembangkan seni pertunjukan wayang. Inovasi digital tersebut diharapkan menjadi sarana mengenalkan lakon, filosofi, dan nilai budaya pewayangan kepada generasi muda, termasuk Gen Z dan Gen Alpha.
Usulan itu disampaikan Sri Untari saat menghadiri Pagelaran Wayang Kulit DPRD Jawa Timur dalam rangka Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur di halaman DPRD Jatim, Jalan Indrapura, Surabaya, Kamis (29/10/2026).
Menurut Untari, teknologi dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan cerita pewayangan dalam format yang lebih dekat dengan kehidupan anak muda. Dengan begitu, mereka tidak hanya mengenal wayang sebagai pertunjukan tradisional, tetapi juga memahami cerita dan pesan yang terkandung di dalamnya.
“Saran saya dimulai dengan nanti bisa wayangnya dibuat secara AI supaya anak-anak kita bisa melihat lakon-perlakon dan itu menjadi bagian daripada kultur budaya hidup baru yang dimiliki oleh seluruh anak-anak kita,” kata Untari, dikutip Sabtu (31/10/2026).
Ia menilai, wayang bukan sekadar hiburan, melainkan warisan budaya yang menyimpan nilai sejarah, filosofi, dan pelajaran kehidupan. Karena itu, upaya pelestariannya perlu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai yang diwariskan leluhur.
Untari mencontohkan lakon Wahyu Jitabsara yang ditampilkan dalam pagelaran tersebut. Cerita pewayangan, menurutnya, menggambarkan konflik, pengorbanan, serta peran setiap tokoh dalam menentukan jalannya suatu peristiwa.

Nilai-nilai tersebut dapat menjadi bahan refleksi bagi generasi muda untuk memahami berbagai persoalan kehidupan. “Kepada anak-anakku sekalian, Gen Z, Gen Alpha, Gen Mil, wayang ini adalah sarana kita untuk terhubung dengan tinggalan leluhur kita,” ujarnya.
Untari berharap pemanfaatan teknologi digital dapat memperluas akses masyarakat terhadap seni pewayangan. Inovasi tersebut juga diharapkan membuat cerita tradisional lebih mudah dipelajari dan dikenal lintas generasi.
Dalam kesempatan itu, ia turut menyoroti tantangan pembangunan Jawa Timur yang menurutnya tidak hanya berkaitan dengan persoalan ekonomi, tetapi juga kemiskinan dan akses pendidikan.
“Perang sekarang tidak seperti dulu lagi, yang kita sedang perangi adalah kemiskinan, ketidakmengertian, anak tidak bisa sekolah, itu yang harus kita perangi agar kemudian Jawa Timur lulus menjadi provinsi yang mampu menjaga rakyatnya untuk bisa sejahtera selamanya,” tuturnya.
Pagelaran Wayang Kulit DPRD Jatim tersebut menghadirkan dalang Ki Arif Sarjono dengan lakon Wahyu Jitabsara. Acara juga dimeriahkan penampilan Cak Percil Cs, Abah Kirun, dan Guyon Maton.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur sekaligus upaya menghadirkan kesenian tradisional di tengah masyarakat. (yols/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS












