Senin
05 Oktober 2026 | 11 : 50

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Fatmawati Trophy 2026: Merawat Kesederhanaan Fatmawati Lewat Karya Budaya Jawa Timur

pdip jatim 261005 fatmawati jatim 5

SURABAYA — Sebuah kebaya tidak selalu sekadar bicara tentang kain, motif, atau potongan busana. Di baliknya bisa tersimpan cerita tentang perempuan, perjuangan, sekaligus identitas sebuah daerah.

Semangat itulah yang coba dihadirkan Jawa Timur melalui Fatmawati Trophy 2026. Ajang yang mempertemukan kreativitas desain kebaya dan kerudung ini menjadi ruang untuk kembali mengenalkan sosok Fatmawati Soekarno melalui karya yang memadukan kesederhanaan, perjuangan, dan kekayaan budaya lokal.

Tiga karya dari Jawa Timur terpilih mewakili DPD PDI Perjuangan Jawa Timur menuju panggung nasional. Masing-masing datang dari Banyuwangi, Kota Batu, dan Trenggalek.

Ketiganya membawa karakter yang berbeda. Ada kekuatan budaya Banyuwangi, kekayaan batik Kota Batu, serta identitas dan cerita daerah Trenggalek.

Baca juga: Fatmawati Trophy 2026, Jatim Bawa Kearifan Lokal ke Panggung Nasional

Perbedaan itu justru menjadi kekuatan. Sebab Jawa Timur tidak hadir dengan satu wajah budaya, melainkan membawa keberagaman daerah yang diterjemahkan ke dalam karya busana.

Wakil Bendahara DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Susy Cecilia Agustina, mengatakan Fatmawati Trophy tidak sekadar menjadi kompetisi desain. Ada nilai yang ingin kembali dikenalkan kepada masyarakat, terutama generasi muda.

Menurutnya, sosok Fatmawati tidak cukup hanya dikenang sebagai istri Soekarno. Ia merupakan perempuan yang memiliki keteladanan dan jejak perjuangan dalam perjalanan bangsa Indonesia.

“Dengan adanya Fatmawati Trophy ini, kita ingin melihat Fatmawati bukan hanya sebagai seorang istri, tetapi juga sebagai sosok yang perjuangannya tidak kalah dari perjuangan Bung Karno,” ungkap Susy, Senin (5/10/2026).

Ada satu nilai dari sosok Fatmawati yang menurut Susy tetap penting dibawa hingga hari ini: kesederhanaan.

Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern dan digital, nilai tersebut justru dinilai semakin relevan. Kesederhanaan tidak harus dimaknai sebagai sesuatu yang tertinggal, tetapi dapat diterjemahkan menjadi karakter dalam sebuah karya.

“Fatmawati itu sosok yang sederhana. Di era digital seperti sekarang, kita tetap ingin membawa semangat kesederhanaan itu,” ujarnya.

Semangat tersebut kemudian bertemu dengan kreativitas para desainer.

Desain boleh berkembang. Bentuk boleh berinovasi. Namun, inovasi tidak harus membuat akar budaya ditinggalkan.

Di titik inilah tiga karya Jawa Timur menemukan kekuatannya.

Banyuwangi membawa karakter budayanya. Kota Batu mengangkat kekhasan melalui batik. Sementara Trenggalek menghadirkan identitas daerahnya ke dalam karya.

Bagi Susy, masing-masing pendekatan menunjukkan bahwa kekayaan budaya Jawa Timur tidak tunggal.

“Kita berusaha mengangkat budaya lokal dalam desain, termasuk melalui batik. Jadi masing-masing daerah punya kekhususan. Ada Banyuwangi, ada Trenggalek, ada Batu, dan semuanya membawa identitasnya masing-masing,” katanya.

Keberagaman tersebut menjadi modal ketika karya-karya itu dibawa ke tingkat nasional.

Bukan hanya untuk mengejar kemenangan dalam sebuah kompetisi, tetapi juga memperlihatkan bahwa budaya lokal memiliki ruang untuk terus tumbuh dan beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Fatmawati Trophy memberikan ruang bagi desainer untuk menerjemahkan sosok Fatmawati melalui bahasa mereka sendiri.

Ada ruang untuk bereksperimen. Ada ruang untuk melakukan inovasi. Namun, menurut Susy, kreativitas tersebut tetap perlu memiliki pijakan.

Nilai dan identitas yang menjadi sumber inspirasi tidak boleh hilang hanya karena tuntutan desain modern.

“Bagaimana kita menggambarkan Fatmawati, busananya seperti apa, kemudian bagaimana desainer mengembangkan desainnya. Kita bisa menerima inovasi dari para desainer, tetapi tetap ada nilai yang ingin kita bawa,” ujarnya.

Dengan demikian, busana menjadi lebih dari sekadar benda yang dikenakan.

Ia menjadi medium untuk bercerita.

Tentang seorang perempuan bernama Fatmawati. Tentang kesederhanaan yang tetap relevan. Tentang perjuangan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dan tentang daerah-daerah di Jawa Timur yang memiliki kekayaan budaya masing-masing.

Fatmawati sendiri memiliki tempat penting dalam sejarah Indonesia. Ia dikenal bukan hanya sebagai pendamping perjuangan Soekarno, tetapi juga sebagai sosok yang menjahit Sang Saka Merah Putih yang kemudian dikibarkan pada Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Jejak itulah yang membuat sosok Fatmawati tetap memiliki ruang untuk diperkenalkan kembali kepada generasi hari ini.

Melalui Fatmawati Trophy, cerita itu mendapatkan bentuk baru.

Bukan melalui buku sejarah semata, tetapi lewat kain, motif, warna, desain, dan kreativitas anak bangsa.

Dan ketika tiga karya dari Banyuwangi, Kota Batu, dan Trenggalek melangkah ke panggung nasional, yang dibawa bukan hanya nama Jawa Timur.

Ada cerita tentang daerah, ada kekayaan budaya, dan ada pesan bahwa modernitas tidak harus membuat seseorang atau sebuah daerah kehilangan akarnya.

Sebab pada akhirnya, karya yang kuat bukan hanya karya yang indah dilihat.

Karya yang kuat adalah karya yang mampu membuat orang bertanya: dari mana cerita ini berasal, dan nilai apa yang ingin disampaikan? (yols/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Bupati Fauzi Salurkan Bantuan Air Bersih untuk Desa Terdampak Kekeringan, Warga: Sangat Berarti

SUMENEP – Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, memantau langsung bantuan air bersih kepada masyarakat yang ...
KRONIK

Fatmawati Trophy 2026: Merawat Kesederhanaan Fatmawati Lewat Karya Budaya Jawa Timur

SURABAYA — Sebuah kebaya tidak selalu sekadar bicara tentang kain, motif, atau potongan busana. Di baliknya bisa ...
KRONIK

Di Brau, Secangkir Susu dan Seekor Anak Sapi Menjadi Cerita tentang Ekonomi Kerakyatan

BATU – Biasanya doorprize festival berupa sepeda, peralatan elektronik, atau voucher belanja. Namun Festival Nyusu ...
HEADLINE

Fatmawati Trophy 2026, Jatim Bawa Kearifan Lokal ke Panggung Nasional

Jawa Timur menyiapkan Banyuwangi, Kota Batu dan Trenggalek untuk Fatmawati Trophy 2026. Tak hanya desain, cerita ...
SEMENTARA ITU...

Haornas di Trenggalek, Doding Ajak Warga Jalan Sehat Sambil Jaga Lingkungan

TRENGGALEK – Peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) ke-43 di Kabupaten Trenggalek tidak hanya menjadi momentum ...
LEGISLATIF

Deni Dorong Pemprov Jatim Bangun Basis Data Pasar Tradisional untuk Tepatkan Intervensi

SURABAYA – Wakil Ketua DPRD Jawa Timur dari Fraksi PDI Perjuangan Deni Wicaksono mendorong Pemprov Jatim menyusun ...