Rabu
26 Agustus 2026 | 9 : 41

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Susy Cecilia: Kesederhanaan Fatmawati Adalah Spirit Perempuan Indonesia

pdip jatim 260826 fatmawati thropy 1

ADA sesuatu yang sederhana tetapi sangat besar maknanya ketika nama Fatmawati Soekarno kembali disebut.

Bukan tentang kemewahan.

Bukan tentang panggung yang megah.

Melainkan tentang selembar kain merah dan putih yang dijahit dengan tangan seorang perempuan.

Dari tangan itulah lahir Sang Saka Merah Putih yang kemudian menjadi simbol sebuah bangsa.

Puluhan tahun berlalu, tetapi kisah tersebut tetap menyimpan pesan yang relevan. Bahwa perjuangan tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar dan gaduh.

Kadang, ia tumbuh dari sesuatu yang sangat sederhana, dikerjakan dengan ketekunan, lalu memberikan arti bagi jutaan manusia.

Semangat itulah yang coba dihidupkan melalui Fatmawati Trophy Regional Jawa Timur di Hotel Vasa Surabaya, Minggu (23/8/2026).

Ajang fashion tersebut tidak sekadar menghadirkan busana dan kompetisi. Di balik panggungnya, ada upaya mengenalkan kembali sosok Ibu Negara pertama Republik Indonesia, Fatmawati Soekarno, kepada generasi muda.

Bagi Wakil Bendahara DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Susy Cecilia Agustina, Fatmawati adalah gambaran tentang bagaimana perempuan dapat berjuang dengan caranya sendiri.

“Kita tahu sendiri bagaimana sosok Ibu Fatmawati. Kita berusaha merepresentasikan bagaimana seorang pejuang yang sosoknya kita kenal menjahit Sang Saka Merah Putih,” kata Susy, Rabu (26/8/2026).

Perjuangan yang Berawal dari Kesederhanaan

Fatmawati dikenang sebagai perempuan yang menjahit bendera Merah Putih.

Tetapi bagi Susy, makna dari kisah tersebut jauh lebih luas daripada sekadar sebuah aktivitas menjahit.

Ada ketekunan.

Ada keberanian.

Ada pengabdian.

Dan ada kesederhanaan.

Nilai-nilai itulah yang ingin dibawa dalam Fatmawati Trophy.

Sebab generasi muda hari ini hidup dalam zaman yang berbeda. Mereka tumbuh bersama teknologi, media sosial, tren fashion dan berbagai perubahan yang bergerak begitu cepat.

Di tengah perubahan itu, sejarah bisa saja terasa jauh.

Maka, mengenalkan Fatmawati melalui sesuatu yang dekat dengan dunia anak muda menjadi cara tersendiri untuk menjaga ingatan tersebut tetap hidup.

Fashion menjadi jembatannya.

Kebaya, kerudung, kain tradisional dan desain modern bertemu di atas panggung.

Busana tidak lagi hanya menjadi sesuatu yang dikenakan.

Ia menjadi bahasa.

Bahasa untuk bercerita tentang budaya.

Tentang perempuan.

Tentang Indonesia.

Dan tentang perjuangan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

“Itulah yang menyebabkan kita melihat dalam kesederhanaan Ibu Fatmawati, itu yang mau kita bawa ke dalam trofi,” ujar Susy.

Ketika Kain Tradisional Bertemu Generasi Baru

Para finalis Fatmawati Trophy Regional Jawa Timur datang dari berbagai daerah.

Mereka membawa identitas masing-masing.

Ada kain tradisional.

Ada kebaya.

Ada kerudung.

Ada pula sentuhan desain modern yang membuat busana terasa dekat dengan selera generasi hari ini.

Tetapi di balik kreativitas tersebut terdapat pesan yang sama: tradisi tidak harus ditinggalkan agar generasi muda bisa bergerak maju.

Justru tradisi dapat menjadi sumber inspirasi untuk melahirkan sesuatu yang baru.

Di sinilah Fatmawati Trophy mencoba mengambil peran.

Membawa nama seorang perempuan dari masa perjuangan ke tengah panggung generasi muda.

Mengubah kisah sejarah menjadi inspirasi.

Dan menjadikan fashion sebagai ruang untuk mempertemukan masa lalu dengan masa depan.

Susy mengatakan semangat Fatmawati sangat relevan bagi perempuan Indonesia saat ini.

Sebab kesederhanaan tidak pernah identik dengan keterbatasan.

“Dalam kesederhanaan kita, kita bisa berkreasi apa yang mau kita sampaikan dalam perjuangan untuk generasi ke depan, terutama untuk mengembangkan Indonesia yang lebih maju,” tuturnya.

Perempuan Tak Hanya di Belakang

Ada pesan lain yang terasa kuat dari kisah Fatmawati.

Bahwa perempuan tidak harus menunggu berada di panggung besar untuk memberikan arti.

Fatmawati menjahit bendera.

Tetapi jahitan itu kemudian menjadi bagian dari sejarah bangsa.

Dari sana, Susy melihat pentingnya membuka ruang yang lebih luas bagi perempuan untuk berkarya.

Bukan sekadar menjadi pelengkap.

Bukan hanya berada di belakang.

Tetapi mengambil peran di depan dengan kemampuan dan kreativitas yang dimiliki.

“Saya harapkan dengan spirit Ibu Fatmawati, kita bisa berkembang dengan segala kreasi yang kita miliki. Bahwa seorang perempuan itu tidak hanya berada di belakang dapur saja, tapi bisa berada di depan dan terus berkreasi untuk mencerdaskan bangsa,” tegasnya.

Kalimat itu seperti membawa Fatmawati ke masa kini.

Wakil Bendahara DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Susy Cecilia Agustina,

Jika dahulu perjuangan diwujudkan melalui sepotong kain yang dijahit dengan tangan, maka perempuan masa kini memiliki begitu banyak ruang untuk melanjutkan semangat tersebut.

Di pendidikan.

Di dunia usaha.

Di seni.

Di politik.

Di ruang publik.

Dan tentu saja di dunia fashion.

Merawat Merah Putih dengan Cara Generasi Hari Ini

Trofi dalam ajang tersebut pun dirancang dengan mengambil inspirasi dari sosok perempuan Indonesia yang mengenakan kebaya modern.

Simbol itu ingin menggambarkan keanggunan, keberanian dan dedikasi Fatmawati kepada bangsa.

Namun yang jauh lebih penting bukanlah bentuk trofinya.

Melainkan cerita yang menyertainya.

Sebab sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh mereka yang namanya tercatat dalam buku sejarah.

Bangsa juga dirawat oleh generasi berikutnya yang bersedia mengenal, memahami dan meneruskan nilai perjuangan para pendahulunya.

Fatmawati Trophy mencoba melakukan hal sederhana itu.

Mengajak generasi muda mengenal Fatmawati melalui sesuatu yang mereka sukai.

Melalui fashion.

Melalui kreativitas.

Melalui budaya yang mereka kenakan sendiri.

Dan dari sana, perlahan sejarah kembali diceritakan.

Tentang seorang perempuan yang menjahit Merah Putih.

Tentang kesederhanaan yang tidak menghalangi perjuangan.

Tentang keberanian yang tidak selalu harus ditunjukkan dengan suara keras.

Sebab terkadang, perjuangan terbesar memang lahir dari pekerjaan yang dilakukan dengan tulus dan tekun.

Seperti sebuah jarum yang bergerak menembus kain.

Pelan.

Sederhana.

Tetapi meninggalkan jejak yang tidak pernah hilang.

Dari jahitan Fatmawati, Merah Putih menjadi saksi. Dan dari generasi hari ini, semangat itu diharapkan terus dijahit kembali menjadi masa depan Indonesia. (arul/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Endog-Endogan, Tradisi Maulid Nabi di Desa Kembiritan Banyuwangi

BANYUWANGI – Tradisi Endog-endogan di Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, kembali digelar untuk ...
PEREMPUAN

Susy Cecilia: Kesederhanaan Fatmawati Adalah Spirit Perempuan Indonesia

ADA sesuatu yang sederhana tetapi sangat besar maknanya ketika nama Fatmawati Soekarno kembali disebut. Bukan ...
KABAR CABANG

DPC Tulungagung Kukuhkan Pengurus Ranting dan Anak Ranting se-Kecamatan Campurdarat

TULUNGAGUNG – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Tulungagung mengukuhkan pengurus Ranting dan ...
KABAR CABANG

Data Desil Tak Sesuai Realita, Warga Lumajang Bisa Lapor ke Kantor DPC atau Gedung DPRD

LUMAJANG – Komisi D DPRD Kabupaten Lumajang merespon adanya keluhan masyarakat terkait data Desil yang dinilai ...
LEGISLATIF

Puan: DPR Siap Terima Aspirasi Massa Peserta Demo 27 Agustus

JAKARTA – Ketua DPR RI Puan Maharani memastikan DPR terbuka menerima aspirasi masyarakat yang akan disampaikan ...
KABAR CABANG

Ratusan KK Alami Kekeringan, DPC Ngawi Baksos Kirim Dua Tangki Air Bersih

NGAWI – Dua truk tangki perlahan memasuki wilayah pelosok Kabupaten Ngawi. Truk tangki membawa ribuan liter air ...