GRESIK – Anggota DPR RI Nila Yani Hardiyanti dari Fraksi PDI Perjuangan mendorong pelaku UMKM kuliner di Kabupaten Gresik memanfaatkan fotografi dan storytelling di media sosial sebagai strategi pemasaran untuk menjangkau pasar generasi muda, khususnya Generasi Z (Gen Z). Menurutnya, kekuatan visual kini menjadi faktor penting agar produk kuliner lokal mampu bersaing di era digital.
Dorongan tersebut disampaikan Nila saat membuka workshop “Through the Lens: Culinary Storytelling with Photography” di Gresik, Rabu (29/7/2026). Kegiatan itu menghadirkan fotografer dokumenter, pengajar foto jurnalistik, sekaligus pendiri Matanesia asal Surabaya, Mamuk Ismuntoro, sebagai narasumber.
Nila mengatakan, Gresik memiliki beragam kuliner khas dengan cita rasa autentik dan resep yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, potensi tersebut dinilai belum sepenuhnya mampu menarik perhatian konsumen muda karena penyajian visual produk di media digital masih kurang optimal.
“Selama ini banyak kuliner yang rasanya luar biasa, tetapi belum mampu menyapa Gen Z. Padahal mereka sangat aktif menggunakan media sosial. Karena itu, foto makanan bukan sekadar gambar, tetapi harus mampu bercerita dan membangun ketertarikan calon pembeli,” ujarnya.
Menurut Nila, persaingan bisnis kuliner saat ini tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas rasa. Cara mempresentasikan produk melalui konten visual yang menarik juga menjadi faktor yang menentukan keputusan konsumen.
“Sering kali pelaku usaha kalah bersaing bukan karena rasanya, tetapi karena visual produknya kurang menarik. Lewat storytelling dalam fotografi, makanan akan memiliki cerita yang mampu mengundang orang untuk membeli,” kata Nila yang merupakan anggota Komisi VII DPR RI tersebut.
Ia berharap workshop tersebut menjadi bekal bagi pelaku UMKM kuliner untuk meningkatkan kemampuan promosi digital sehingga mampu memperluas pasar sekaligus memperkuat kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
“Kami ingin workshop ini benar-benar menjadi bekal bagi para pelaku bisnis kuliner agar mampu memanfaatkan kekuatan visual dalam memasarkan produknya,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Mamuk Ismuntoro membagikan materi mengenai teknik fotografi makanan, penyusunan komposisi visual, hingga cara membangun storytelling yang efektif untuk kebutuhan promosi di berbagai platform digital.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparekrafbudpora) Gresik, Saifudin Ghozali, menilai kegiatan tersebut menjadi peluang bagi pelaku UMKM untuk meningkatkan kualitas promosi kuliner khas daerah.
Menurutnya, Gresik memiliki sejumlah Warisan Budaya Takbenda (WBTB), seperti nasi krawu dan kupat ketek, yang berpotensi dipasarkan lebih luas melalui konten visual yang kreatif.
“Kami berharap para pelaku usaha dapat memanfaatkan ilmu fotografi storytelling ini agar kuliner khas Gresik semakin dikenal luas dan memiliki daya saing yang lebih tinggi,” ujar Ghozali.
Apresiasi juga disampaikan Perwakilan Kementerian Ekonomi Kreatif, Iman Santoso. Ia menilai kemampuan pelaku UMKM dalam menguasai fotografi dan storytelling menjadi salah satu kunci meningkatkan nilai tambah produk kuliner sekaligus memperluas jangkauan pemasaran di era digital. (mus/hs)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










