JEMBER – Ketua Komisi B DPRD Jember Candra Ary Fianto meminta pemerintah daerah dan penyelenggara memperketat pengawasan serta meningkatkan profesionalisme penyelenggaraan event olahraga menyusul kasus pelari asal Kenya yang telantar di Jember. Menurutnya, kejadian tersebut harus menjadi bahan evaluasi agar tidak kembali terjadi dan tidak mencoreng citra Kabupaten Jember sebagai daerah tujuan wisata berbasis event.
“Kalau ingin mengharumkan nama Jember melalui event, seluruh aspek penyelenggaraan harus dipersiapkan dengan baik. Mari bersama-sama menjaga nama baik Jember,” kata Candra, Senin (21/7/2026).
Politisi PDI Perjuangan itu menilai setiap kegiatan yang melibatkan peserta dari luar daerah maupun luar negeri harus direncanakan secara matang, mulai dari aspek administrasi, pelayanan peserta, hingga pelaksanaan di lapangan. Menurutnya, penyelenggaraan yang profesional menjadi syarat utama agar event mampu memberikan dampak positif bagi daerah.
Candra mengingatkan, Pemerintah Kabupaten Jember saat ini tengah memperkuat branding pariwisata melalui berbagai agenda berskala besar. Karena itu, ia berharap tidak ada lagi kelalaian penyelenggara yang berpotensi menimbulkan citra negatif terhadap daerah.
Sebagai langkah perbaikan, ia meminta Dinas Pariwisata dan Olahraga lebih aktif melakukan pengawasan sejak tahap perencanaan. Bahkan, Candra mengusulkan agar setiap penyelenggara memperoleh rekomendasi dari dinas terkait sebelum mengajukan perizinan kepada kepolisian sebagai bentuk verifikasi kesiapan penyelenggaraan.
Menurutnya, mekanisme tersebut penting untuk memastikan seluruh ketentuan teknis maupun pelayanan kepada peserta telah memenuhi standar yang ditetapkan.
“Kalau sebuah event mampu menghadirkan peserta dari luar daerah, dampaknya bukan hanya pada promosi wisata, tetapi juga meningkatkan tingkat hunian hotel yang pada akhirnya berkontribusi terhadap pendapatan asli daerah,” ujarnya.
Sebelumnya, pelari asal Kenya Matirim Thomas Kipkorir dilaporkan telantar di Jember setelah tidak menerima hadiah utama yang diharapkannya sebagai biaya kepulangan. Hadiah tersebut dibatalkan karena hanya diperuntukkan bagi warga negara Indonesia yang dapat menunjukkan kartu identitas sesuai ketentuan lomba.
Kasus itu, menurut Candra, harus menjadi momentum evaluasi bagi seluruh penyelenggara agar setiap event di Jember disiapkan secara lebih profesional, akuntabel, dan mampu menjaga kepercayaan peserta sekaligus memperkuat citra daerah sebagai destinasi penyelenggara event berskala nasional maupun internasional. (art/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS












