Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan keberhasilan pembangunan bergantung pada sinergi birokrasi dan partisipasi masyarakat dalam mengentaskan kemiskinan dan stunting.
SURABAYA – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan keberhasilan pembangunan tidak ditentukan oleh kepala daerah semata, melainkan oleh sinergi birokrasi dan partisipasi aktif masyarakat. Karena itu, seluruh program dan anggaran Pemerintah Kota Surabaya diarahkan untuk mempercepat pengentasan kemiskinan, menurunkan stunting, serta meningkatkan kesejahteraan warga.
Pernyataan itu disampaikan Eri saat memaparkan strategi pembangunan Kota Surabaya di hadapan Tim Penilai Penghargaan Pembangunan Daerah (PPD) Tahun 2026 dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Senin (6/7/2026).
Dalam paparannya, Eri menjelaskan pembangunan Surabaya saat ini berfokus pada tujuh prioritas utama, meliputi pengurangan kemiskinan, penurunan pengangguran, penurunan angka kematian ibu dan anak, pengentasan stunting, peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), penurunan gini rasio, serta pertumbuhan ekonomi.
Menurutnya, setiap organisasi perangkat daerah diwajibkan menyelaraskan program kerja dengan target pengurangan kemiskinan.
“Saya sampaikan kepada teman-teman DSDABM, anggaran kamu harus bisa menurunkan kemiskinan. Penurunan kemiskinan itu bukan hanya urusan bidang sosial,” ujar Eri.
Ia mencontohkan, proyek pembangunan jalan maupun pemasangan paving diwajibkan menyerap tenaga kerja dari keluarga prasejahtera. Material pembangunan juga dipasok dari pabrik padat karya yang dikelola masyarakat berpenghasilan rendah sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan secara langsung.
Selain itu, Pemkot Surabaya membangun kolaborasi melalui gerakan orang tua asuh yang melibatkan dunia usaha dan masyarakat untuk membantu pendidikan anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Di sektor ketahanan pangan, pemerintah kota juga mengembangkan sistem distribusi berbasis neraca komoditas dengan mempertemukan daerah produsen dan pasar di Surabaya guna menjaga stabilitas harga sekaligus memperluas kesempatan kerja bagi generasi muda.
Menutup paparannya, Eri menegaskan pembangunan hanya akan berhasil apabila pemerintah dan masyarakat bergerak bersama.
Ia mengibaratkan semangat tersebut sebagai kelanjutan perjuangan arek-arek Surabaya dalam Pertempuran 10 November yang kini diwujudkan melalui kerja bersama mengentaskan kemiskinan dan stunting.
“Hari ini kita bisa mengurangi kemiskinan dan stunting karena kita berjuang bersama menjalankan Pancasila dari tindakan nyata, bukan sekadar lisan saat upacara,” tegas pria yang juga Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur itu.
Paparan tersebut mendapat apresiasi dari Ketua Tim Penilai Tahap II PPD 2026, Prakoso Grahayudiandono. Menurutnya, strategi pembangunan Kota Surabaya dinilai komprehensif karena tidak hanya berorientasi pada kinerja pemerintah, tetapi juga mampu mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam pembangunan. (gio/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










