Minggu
28 Juni 2026 | 1 : 35

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Kicau Mania: Ketika Kicauan Burung Menjadi Simbol Maskulinitas Mas-Mas Jawa

PDIP-Jatim-Yusril-28062026

Oleh Yusril Ihza Fauzul Adhim*

BELAKANGAN ini lagu Kicau Mania, yang dibawakan Ndarboy Genk dan Banditoz Yaow 86, ramai berseliweran di media sosial. Potongan liriknya terdengar sederhana, bahkan terkesan jenaka. Lagu Kicau Mania berbicara tentang burung, gantangan, kemenangan, dan kehidupan para penghobi burung berkicau. Bagi sebagian orang, lagu tersebut mungkin hanya dianggap sebagai perayaan terhadap orang-orang yang hobi memelihara burung. Namun sebagaimana banyak produk budaya populer lainnya, lagu ini menyimpan makna yang melampaui apa yang tampak di permukaan.

Bagi masyarakat Jawa, burung tidak sekadar binatang peliharaan. Burung memiliki makna tersendiri. Burung dalam konteks lagu Kicau Mania seperti membuka kembali satu ingatan lama tentang bagaimana masyarakat Jawa memandang laki-laki dan kesempurnaan hidupnya. Di dalam khazanah kebudayaan dan filsafat Jawa, ada suatu konsep simbolis yang menjelaskan lima unsur yang dianggap melengkapi kehidupan seorang laki-laki: wisma, wanodya, turangga, kukila, dan curiga.

Wisma adalah rumah sebagai simbol kemapanan hidup dari segi papan. Wanodya adalah istri atau pasangan hidup yang akan menjadi teman dalam menjalani kehidupan. Turangga – dalam pengertian jawa lama berarti kuda atau tunggangan – adalah kendaraan yang dapat dijadikan sebagai sarana mobilitas yang menunjang pekerjaan – hari ini seperti sepeda, motor, dan mobil. Curiga adalah ageman atau sesuatu yang dipegang. Pengertian lainnya adalah keris, sebagai simbol kewibawaan dan kehormatan. Sedangkan kukila berarti burung peliharaan. Kelima unsur tersebut sering dipahami sebagai tanda bahwa seorang lelaki telah mencapai kemapanan sosial sekaligus kematangan hidup.

Di antara lima unsur tersebut, dalam konteks budaya populer lagu Kicau Mania, kukila / burung menjadi hal yang paling menarik. Mengapa burung ditempatkan sejajar dengan rumah, pasangan hidup, kendaraan, dan simbol kehormatan seperti keris? Bukankah burung hanya hewan peliharaan?

Burung dalam khazanah Jawa merupakan suatu kelengenan, atau sesuatu yang sangat disukai. Jika dahulu burung dipelihara di serambi rumah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, kini ia hadir dalam bentuk yang lebih modern melalui komunitas-komunitas kicau mania dan berbagai arena gantangan. Sebab itu, fenomena kicau mania menjadi menarik untuk dibaca.

Di ruang industri perburungan, tidak jarang para kicau mania menjadikan burung sebagai kegiatan yang menunjang perekonomian. Banyak yang berlaku sebagai pedagang burung keliling, pemilik kios burung, pemilik kios pakan dan sangkar burung, pemilik gantangan, jasa merawat burung, serta owner bagi burung-burung yang dikhususkan untuk digantang di suatu kompetisi.

Banyak orang melihat burung yang di arena gantangan sekadar perlombaan burung. Padahal, bagi sebagian penghobi, gantangan adalah ruang sosial yang jauh lebih kompleks. Di sana orang tidak hanya membawa burung, tetapi juga membawa identitas, pengalaman, pengetahuan, dan prestise. Prestise ini lahir dari pengakuan komunitas terhadap ketelatenan dan kemampuan seseorang merawat burung hingga mencapai performa terbaiknya.

Adapun pusat gantangan terbesar secara nasional tumbuh di Jawa Timur, lalu diikuti wilayah lain, seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, serta luar Jawa. Di wilayah-wilayah inilah burung menemukan kehidupan keduanya. Burung tidak lagi hanya hidup dalam ungkapan filosofis tentang Wisma, Wanodya, Turangga, Kukila, dan Curiga, tetapi menjelma menjadi arena sosial yang riuh oleh suara pengeras, sorak penonton, dan kicauan burung lainnya yang saling bersaing bersahutan.

Di Jawa Timur, fenomena tersebut dapat dilihat pada besarnya pengaruh Gantangan Prasasti di Malang, Gagak Sakti di Gresik, maupun gelaran-gelaran prestisius seperti Seduluran Murai Mania (SMM) yang menjadi magnet bagi kicau mania dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Hadiah yang digagas oleh gantangan tersebut tidak main-main, ada sepeda motor, mobil, dan uang tunai puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Jenis burung yang kerap digantang biasanya jenis burung yang bisa menirukan suara burung lain, atau memiliki suara tembakan yang khas, diantaranya ada burung Murai Batu, Cucak Hijau, Kenari, Cendet, Anis Merah, dan Kacer. Adapun jenis burung kecil pemakan madu – kolibri – seperti Sriganti (akrab disebut Sogon atau Sogok Ontong) dan Kolibri Ninja.

Di bursa lelang, harga burung tersebut bisa dikatakan bersaing dengan harga emas. Nilainya bisa mencapai milyaran rupiah. Ada sistem naik turun harga. Burung jawara apabila performanya menurun, bisa ditawar di bawah harga beli. Namun ketika dirawat lalu dibawa ke gantangan lain dan menjadi juara, harga burung kembali naik, bahkan di atas harga beli. Dalam konteks ini, burung merupakan suatu modal simbolik yang merepresentasikan status sosial ekonomi seorang lelaki.

Begitupun gantangan dapat dibaca bukan sekadar arena perlombaan kicauan burung tetapi lebih dari itu, gantangan merupakan ruang performatif maskulinitas. Para Kicau Mania ini hadir bukan untuk menunjukkan kekuatan fisik atau kekuasaan satu sama lain, melainkan menunjukkan hasil dari kesabaran dan ketekunannya merawat burung selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Burung yang menampilkan stabilitas stamina fisik dan kicauannya yang merdu menjadi representasi dari kerja perawatan yang selama ini dilakukan oleh pemiliknya.

Menariknya, maskulinitas yang hadir dalam dunia kicau mania berbanding terbalik dari gambaran maskulinitas yang sering diasosiasikan dengan narasi patriarki yang kerap dipahami sebagai bentuk dominasi dan agresivitas terhadap kaum perempuan. Dunia kicau mania dikonstruksi oleh kemampuan lelaki merawat burung dengan baik. Karena burung jawara yang gacor tidak lahir dari kekerasan, melainkan dari perhatian, konsistensi, serta pemberian pakan yang terbaik. Itu semua diwujudkan dalam konteks kasih sayang. Perawat yang semakin menyayangi burungnya, semakin baik pula performa burung yang ditunjukkan.

Para kicau mania yang datang ke gantangan tidak sekadar untuk berkompetisi, tetapi juga untuk memperkuat solidaritas. Para peserta saling bersaing untuk menang, tetapi pada saat yang sama tetap berada dalam ikatan persaudaraan yang lahir dari kesamaan hobi. Kompetisi tidak selalu berujung pada permusuhan. Namun menjadi ruang perjumpaan, toleransi, dan pembentukan jejaring sosial.

Selain itu, kemenangan dalam gantangan bukan semata-mata kemenangan burung. Trofi, uang pembinaan, motor, bahkan mobil hanyalah bentuk material dari penghargaan tersebut. Yang lebih penting adalah legitimasi sosial yang diperoleh dari komunitas. Dalam bahasa sederhana, burung yang menang akan mengangkat nama pemiliknya. Kemenangan seekor burung sesungguhnya adalah kemenangan simbolik dari sang pemilik.

Di sisi lain, di dunia kicau mania terdapat relasi sosial yang mempertemukan orang-orang dari latar belakang berbeda. Pedagang, petani, pegawai, pengusaha, hingga pejabat dapat berdiri di arena yang sama dengan identitas yang sama pula: kicau mania. Mereka saling bersaing, tetapi pada saat yang sama juga saling berbagi pengalaman, pengetahuan, dan pertemanan.

Di sinilah saya melihat mengapa lagu Kicau Mania begitu mudah diterima oleh masyarakat. Karena yang berulang kali ditegaskan adalah pentingnya persaudaraan antaranggota komunitas. Ada nilai lain yang dipertahankan, yaitu rasa hormat kepada sesama kicau mania dan kesadaran bahwa mereka dipersatukan oleh kecintaan yang sama terhadap burung.

Karena itu, popularitas lagu Kicau Mania sesungguhnya tidak hanya menunjukkan besarnya komunitas penghobi burung di Indonesia. Lagu tersebut juga mengingatkan bahwa di tengah perubahan zaman, sebagian nilai dalam kebudayaan Jawa masih terus hidup dalam bentuk-bentuk baru melalui arena gantangan dan industri hiburan populer.

Lebih jauh lagi, kicau mania seakan mengkonstruksi maskulinitas dalam kebudayaan Jawa bukan hadir dalam bentuk keris, kuda, atau medan peperangan sebagaimana masa lalu. Sebab, seorang kicau mania merawat burung dengan telaten, sesungguhnya sedang mengasah dirinya untuk menjadi manusia sejati.

Ketika seorang kicau mania mampu menerima kekalahan dengan lapang dada, ia sedang belajar menjadi pribadi yang bijaksana. Seorang jawara kicau mania yang tetap menghormati lawannya, ia sedang mempraktikkan sikap ksatria. Dan seorang anggota komunitas yang menjaga persaudaraan di tengah persaingan, ia sedang menjalankan peran sebagai pengayom bagi lingkungan sosialnya. Mungkin karena alasan itulah burung ditempatkan sejajar dengan wisma, wanodya, turangga, dan curiga dalam falsafah Jawa.

Pun di tengah hiruk-pikuk gantangan dan ramainya lagu Kicau Mania, kita sesungguhnya sedang menyaksikan bagaimana sebuah simbol lama terus bertahan dalam bentuk yang baru. Dalam pengertian itu, spirit Kicau Mania seharusnya tidak berhenti pada kegemaran memelihara burung. Spirit itu juga dapat dibaca sebagai pengingat mengenai watak ksatria dalam kebudayaan Jawa: menjadi perawat yang telaten, penyayang yang setia, pelindung bagi keluarga, petarung yang berani menghadapi tantangan, pengayom bagi lingkungan sekitar, sekaligus pribadi yang bijaksana dalam menjalani kehidupan.

Kicau Mania bukan sekadar tentang burung yang berkicau di gantangan, melainkan tentang martabat seorang lelaki yang sedang diuji melalui kesabaran, keberanian, ketekunan, dan kemampuannya merawat apa yang ia cintai. Sebab pada akhirnya, seekor burung yang terawat dengan baik bukan hanya mencerminkan kualitas pemiliknya, tetapi juga mencerminkan bagaimana seorang laki-laki memperlakukan kehidupan yang dipercayakan kepadanya.

*Yusril Ihza Fauzul Adhim, penulis lahir di Surabaya. Aktif di teater dan film .

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KABAR CABANG

Ratusan Mamuda Ikuti Senam Sicita di Kantor Sekretariat DPC Magetan

MAGETAN – Ratusan mama-mama muda (mamuda) mengikuti kegiatan Senam Indonesia Cinta Tanah Air (Sicita) di pelataran ...
RUANG MERAH

Kicau Mania: Ketika Kicauan Burung Menjadi Simbol Maskulinitas Mas-Mas Jawa

Oleh Yusril Ihza Fauzul Adhim* BELAKANGAN ini lagu Kicau Mania, yang dibawakan Ndarboy Genk dan Banditoz Yaow 86, ...
KOLOM

Bulan Bung Karno: Jangan Biarkan Menjadi Sekadar Seremoni

Oleh Nasrullah SETIAP bulan Juni, keluarga besar PDI Perjuangan memperingati Bulan Bung Karno. Rangkaian kegiatan ...
KABAR CABANG

Pemkot Madiun Apresiasi Turnamen Catur PDIP, Dinilai Gerakkan UMKM dan Lahirkan Atlet Berprestasi

Pemkot Madiun mengapresiasi Open Turnamen Catur Piala Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Madiun karena dinilai mampu ...
KABAR CABANG

Tebar 15 Ribu Benih Ikan Nila di Waduk Bendo, PDIP Ponorogo Dorong Pelestarian Ekosistem dan Ketahanan Pangan

PONOROGO – Dalam rangka memperingati Bulan Bung Karno, DPC PDI Perjuangan Ponorogo menggelar kegiatan penebaran 15 ...
KRONIK

Peternak Ayam Petelur Tertekan, Sonny Dorong Kementan Lakukan Langkah-Langkah Bantuan

JAKARTA – Anggota Komisi IV DPR RI, Sonny T. Danaparamita, mendorong Kementerian Pertanian (Kementan) untuk ...