Kisah haru Sholikah, warga Kandat, Kediri, yang mengasuh tiga cucu dalam keterbatasan ekonomi. Bantuan rombong usaha dari Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana menjadi harapan baru untuk menopang kehidupan keluarga dan masa depan cucu-cucunya.
KEDIRI — Setiap pagi, suara mesin penggiling bumbu di rumah sederhana milik Sholikah, 50 tahun, di Jalan Kembang Kuning, Kecamatan Kandat, menjadi penanda dimulainya perjuangan.
Tak ada papan nama usaha yang besar. Tak ada etalase yang mencolok. Hanya sebuah jasa penggilingan bumbu, kopi, dan kelapa yang setia membantu keluarga kecil itu bertahan dari hari ke hari.
Jika sedang ramai, penghasilannya sekitar Rp20 ribu sehari.
Jumlah yang mungkin terasa kecil bagi sebagian orang. Namun bagi Sholikah dan suaminya, Putut Sri Harmisworo, 56 tahun, uang itu menjadi penopang hidup sekaligus bekal untuk membesarkan tiga cucu yang masih membutuhkan perhatian penuh.
Arvino yang berusia tujuh tahun, serta si kembar Arcelio dan Arsenio yang baru menginjak usia dua tahun lima bulan.
Merekalah alasan pasangan lansia itu terus bertahan.
Kadang Sholikah menerima pesanan sambel pecel atau madumongso. Sementara Putut bekerja sebagai buruh tani jika ada panggilan. Penghasilan yang tidak menentu membuat mereka harus pandai-pandai mengatur kebutuhan rumah tangga.
Namun di balik segala keterbatasan itu, keduanya memilih menjalani hidup tanpa banyak mengeluh.
Ada satu kenangan yang masih sering hadir dalam benak Sholikah.
Kenangan tentang anaknya, ibu dari ketiga cucu tersebut.
Saat masih hidup, beban ekonomi keluarga terasa lebih ringan karena bisa dipikul bersama. Namun takdir berkata lain. Sang anak meninggal dunia karena sakit, meninggalkan tiga anak yang masih membutuhkan kasih sayang dan pengasuhan.
Sejak saat itulah Sholikah dan Putut mengambil alih peran sebagai orang tua.

Mereka bukan hanya menjaga cucu-cucunya tumbuh sehat, tetapi juga memastikan kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi.
Perjuangan itu akhirnya sampai ke telinga Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana atau yang akrab disapa Mas Dhito.
Pada 7 Mei 2026 lalu, Mas Dhito datang langsung ke rumah mereka.
Kunjungan Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kediri itu bukan sekadar menyapa, tetapi juga melihat dari dekat bagaimana sebuah keluarga bertahan di tengah keterbatasan.
Sebulan berselang, harapan baru datang mengetuk pintu rumah Sholikah.
Siang itu, 2 Juni 2026, perwakilan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Kediri membawa sesuatu yang membuat wajah Sholikah berbinar.
Sebuah rombong kontainer lengkap dengan peralatan pendukung dan bahan usaha diturunkan di depan rumahnya.
Rombong itu mungkin hanya sebuah sarana usaha sederhana.
Namun bagi Sholikah, benda itu jauh lebih berarti.
Di dalamnya tersimpan kesempatan untuk memulai lembaran baru.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Kediri, Santoso, menjelaskan bantuan tersebut merupakan tindak lanjut dari kunjungan Bupati Kediri.
Selain rombong untuk berjualan minuman, keluarga Sholikah juga menerima bantuan bahan baku berupa kacang tanah dan beras ketan yang dapat digunakan untuk mengembangkan usaha sambel pecel maupun madumongso.
“Bantuan dari Mas Bupati ini diharapkan memberi harapan baru bagi keluarga Ibu Sholikah dalam menggerakkan dan menopang ekonomi keluarga secara kontinyu dan berkelanjutan,” ujarnya.

Di depan rumah itulah, Sholikah mulai membayangkan masa depan yang sedikit lebih terang.
Ia berencana menjual minuman dari rombong baru tersebut sambil tetap menjaga ketiga cucunya.
Tak perlu meninggalkan rumah. Tak perlu jauh dari anak-anak yang kini menjadi pusat hidupnya.
“Rencananya jualan di depan rumah bisa sambil mengasuh cucu,” ucapnya pelan.
Kalimat sederhana itu menyimpan begitu banyak harapan.
Harapan agar dagangannya laris.
Harapan agar kebutuhan sekolah cucunya kelak bisa terpenuhi.
Harapan agar dapur tetap mengepul setiap hari.
Dan yang paling penting, harapan agar ketiga cucunya dapat tumbuh dengan masa depan yang lebih baik.
Bagi sebagian orang, bantuan itu mungkin hanya sebuah rombong usaha. Namun bagi Sholikah, rombong itu adalah simbol bahwa perjuangan panjangnya tidak berjalan sendirian.
Bahwa setelah sekian lama bertahan dalam sunyi dan keterbatasan, masih ada tangan yang datang membawa kesempatan.
Kini, di halaman rumah sederhana itu, bukan hanya rombong yang berdiri.
Tetapi juga sebuah harapan baru yang perlahan mulai tumbuh bersama tawa tiga cucu yang setiap hari menjadi alasan Sholikah untuk terus kuat menjalani hidup. (putera/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










