Eri Cahyadi dorong Kampung Pancasila di Karah Surabaya, libatkan Gen Z, UMKM, dan ekonomi warga berbasis lingkungan.
SURABAYA — Sabtu (2/5/2026) malam itu, suasana di Balai RW 7, Kelurahan Karah, Kecamatan Jambangan, tidak seperti biasanya. Tikar digelar, botol air mineral berjajar di sudut, dan warga duduk melingkar.
Di depan, sebuah layar menampilkan peta kampung—bukan sekadar gambar, tapi potret hidup sebuah lingkungan yang sedang ditata masa depannya.
Di tengah lingkaran itu, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi—atau yang akrab disapa Cak Eri—tidak berdiri sebagai pejabat. Ia duduk, mendengar, lalu sesekali berdiri menjelaskan, menunjuk peta, seperti sedang merancang sesuatu bersama warga.
Tak ada podium. Tak ada jarak.
Warga bebas menyampaikan usulan: soal bantuan sosial, peluang usaha, hingga masa depan anak-anak muda di kampung itu.
Cak Eri menangkap semuanya dalam satu benang merah: kampung harus kuat dari dalam.
“Kalau punya rezeki, jangan keluar. Di sekitar kita masih banyak yang butuh,” ucapnya pelan, tapi mengena.
Pesan sederhana itu bukan sekadar imbauan. Itu arah—bahwa solidaritas sosial adalah fondasi Kampung Pancasila.
Di sudut lain, pembicaraan mengerucut pada satu hal: anak muda.
Cak Eri melihat potensi besar di tangan Gen Z. Bukan hanya sebagai generasi digital, tapi sebagai penggerak ekonomi kampung.
Ia menggagas sesuatu yang konkret—anak muda diminta mendata kebutuhan tiap rumah. Dari data itu, lahir peluang usaha: menjadi pemasok kebutuhan bagi toko kelontong warga.
Bukan teori. Langsung praktik.
Bahkan, Pemkot menyiapkan modal awal Rp5 juta per bulan.
“Diputar. Dapat untung. Ekonomi kampung pasti hidup,” katanya.
Usulan perbaikan Taman Jangkar pun langsung direspons.
Namun ada syarat yang jelas: taman itu untuk warga.

Bukan sekadar diperbaiki, tapi dihidupkan—menjadi ruang ekonomi kecil bagi UMKM lokal, terutama anak muda.
“Tolong dijaga. Yang berjualan warga sini,” tegas politisi PDI Perjuangan tersebut .
Di situ terlihat jelas: pembangunan bukan hanya soal fisik, tapi rasa memiliki.
Di bagian lain diskusi, topik bergeser ke hal yang sering dianggap sepele: sampah.
Namun di tangan Cak Eri, ini berubah jadi peluang.
Ia mengajak warga, khususnya Gen Z, untuk mulai memilah sampah rumah tangga. Plastik, katanya, punya nilai ekonomi.
“Kalau dipilah, ini bisa jadi uang,” ujarnya.
Sederhana. Tapi di situlah letak perubahan: dari kebiasaan kecil, dampaknya bisa besar.
Malam itu ditutup tanpa seremoni panjang. Tapi arah sudah jelas.
Pendataan harus selesai maksimal dua minggu. Setelah itu, program jalan. Anggaran turun. Aktivitas dimulai.
Tak ada janji kosong.
“Kami tunggu datanya. Kalau selesai, langsung kita gerakkan,” tandasnya.
Lebih dari Program, Ini Cara Berpikir
Kampung Pancasila di Karah bukan sekadar program pemerintah.
Ia adalah cara baru melihat kampung: bahwa kekuatan ada di warga,
bahwa solusi lahir dari dalam,
dan bahwa perubahan dimulai dari hal-hal sederhana—asal dikerjakan bersama.
Di balai RW itu, malam itu, satu hal terasa jelas:
Pemimpin datang bukan untuk memberi jawaban,
tapi untuk menghidupkan pertanyaan—
dan mengajak warganya menjawab bersama. (gio/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










