LAMONGAN – Kabupaten Lamongan sukses menciptakan “keajaiban” dalam penanganan stunting. Tak tanggung-tanggung, angka prevalensi stunting yang semula bertengger di angka 27,5% pada 2022, melorot tajam hingga menyisakan 6,9% di tahun 2024.
Hal itu disampaikan Wakil Bupati Lamongan sekaligus Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), Dirham Akbar Aksara, saat menerima kunjungan sejumlah wakil kepala daerah asal Jawa Tengah.
Inovasi dari Hulu ke Hilir
Dirham Akbar Aksara—atau yang akrab disapa Mas Dirham—kepada para sejawatnya tersebut menjelaskan berbagai upaya yang telah dilakukan untuk menekan angka stunting.
Beberapa program unggulan yang dipaparkan Mas Dirham antara lain:
• SOTH (Sekolah Orang Tua Hebat): Edukasi pola asuh bagi orang tua.
• Gerakan 1-10-100: Intervensi gizi terukur.
• Dashat (Dapur Sehat Atasi Stunting): Pemberdayaan konsumsi lokal bergizi.
• Gerakan Ferrameg (FE Hari Rabu Megilan): Pemberian tablet tambah darah serentak untuk remaja putri.
• Sadel Cepak: Desa model untuk mencegah pernikahan dini (perkawinan anak).
”Tentu untuk keberhasilan program-program ini juga butuh kerjasama yang baik dari berbagai pihak, dengan pemerintah desa, hingga pengusaha yang diajak sebagai orang tua asuh,” ujar Mas Dirham di hadapan delegasi Banjar dan Salatiga, Jumat (10/4/2026).
Keteladanan Orang Tua Asuh Satu hal yang menarik perhatian adalah komitmen personal para pimpinan di Lamongan. Mas Dirham menegaskan bahwa evaluasi dan mapping data adalah kunci agar bantuan tidak salah sasaran.
Ia menceritakan pengalamannya sendiri yang terlibat aktif menjadi Orang Tua Asuh bagi anak stunting. Baginya, data bukan sekadar angka di atas kertas, tapi nyawa yang harus dipantau perkembangannya setiap saat.
”Saya sendiri masih rutin menerima laporan terkait penambahan atau pengurangan berat badan hingga tinggi badan anak asuh stunting saya. Pemantauan real-time itu krusial agar intervensi benar-benar berdampak pada fisik anak,” tegasnya.
Sinergi Lintas Sektor: Kunci Replikasi Nasional
Pesan kuat yang dibawa dalam pertemuan tersebut adalah pentingnya komitmen bersama. Mas Dirham berharap pola-pola sukses di Lamongan bisa menjadi best practices yang diadaptasi di wilayah lain guna mengejar target nasional penurunan stunting.
Kerja kolaboratif antara pemerintah, sektor swasta melalui CSR, dan kesadaran masyarakat di tingkat desa menjadi fondasi kokoh yang membawa Lamongan dari zona merah menuju rujukan nasional.
”Perlu komitmen bersama, semoga apa yang kami bagikan hari ini dapat menjadi inspirasi yang bisa pula dilaksanakan di wilayah Bapak/Ibu,” pungkas Mas Dirham.(mnh/hs)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS













