BONDOWOSO – Di sebuah sudut Desa Penambangan, Kecamatan Curahdami, cerita tentang perubahan tidak selalu dimulai dari ruang rapat atau podium resmi. Kadang, ia lahir dari kebiasaan sederhana: membaca, menulis, dan terus belajar. Itulah jalan yang ditempuh Martha Suprihastini.
Perempuan kelahiran 2 Maret 1980 itu dikenal warga bukan hanya sebagai mantan Kepala Desa Penambangan, tetapi juga sebagai sosok yang percaya bahwa ilmu pengetahuan harus inspiratif dan bermanfaat bagi banyak orang.
Selama dua periode memimpin desa, dari 2012 hingga 2023, Martha menanamkan satu prinsip sederhana: pembangunan harus dimulai dari kebutuhan nyata masyarakat.
Pendekatan itu membawanya pada berbagai perubahan konkret. Ia pernah mendata sekitar 500 kepala keluarga yang belum memiliki fasilitas sanitasi layak.
Program pembangunan WC kemudian dilakukan bertahap setiap tahun, hingga akhirnya seluruh warga desa memiliki akses sanitasi yang memadai. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten itu menjadi fondasi perubahan yang lebih besar.
Di masa kepemimpinannya, Desa Penambangan juga mulai bertransformasi menjadi desa berbasis digital. Martha menggagas pemasangan WiFi gratis di enam dusun, membangun rumah edukasi lengkap dengan taman baca dan fasilitas kesehatan, serta menghadirkan ratusan titik internet aktif melalui kerja sama dengan berbagai penyedia layanan.
Program tersebut tidak hanya mempermudah akses informasi warga, tetapi juga membuka ruang belajar baru bagi anak-anak desa. Gagasan WiFi gratis yang ia rintis bahkan kemudian diadopsi desa lain melalui forum musrenbang.
Dedikasinya membawa sejumlah penghargaan, di antaranya peringkat dua Kepala Desa Berprestasi se-Tapal Kuda pada peringatan Bulan Pancasila serta penghargaan Kepala Desa Pengelola Dana Desa Terbaik se-Jawa Timur tahun 2023.
Namun, perjalanan Martha sesungguhnya dimulai jauh sebelum ia duduk di kursi kepala desa.

Sejak SMA, ia telah jatuh cinta pada dunia literasi. Menulis menjadi cara baginya memahami kehidupan sekaligus berbagi gagasan. Dari kebiasaan itu lahir sejumlah novel fiksi seperti Cinta Naura, Telepon Hantu, Radio, dan Lemari Hantu. Salah satu karyanya, Cinta Naura, kemudian diterbitkan melalui platform Gue Pedia.
Perjalanan menulisnya tidak instan. Naskah demi naskah disunting berulang melalui komunitas literasi. Bahkan cetakan awal bukunya hanya sekitar 20 eksemplar. “Prosesnya panjang, tapi dari situ saya belajar untuk terus memperbaiki diri,” kenangnya, Rabu (18/2/2026).
Kebiasaan membaca dan menulis itu pula yang membentuk cara berpikirnya sebagai pemimpin: perubahan tidak selalu harus besar, tetapi harus konsisten dan berkelanjutan.
Kini, pengabdian Martha berlanjut sebagai Wakil Ketua Bidang Penanggulangan Bencana, Kesehatan, Perempuan, dan Anak DPC PDI Perjuangan Bondowoso. Meski perannya berubah, pesan yang ia bawa tetap sama—pentingnya literasi bagi generasi muda.
Menurutnya, kemampuan membaca dan menulis bukan sekadar keterampilan akademik, melainkan bekal untuk memahami dunia.
“Gen Z harus gemar membaca dan menulis. Dengan membaca kita mengetahui banyak hal, dan dengan menulis kita bisa menyebarkan ilmu,” ujarnya.
Ada satu kalimat yang terus ia pegang sepanjang perjalanan hidupnya: belajar tidak pernah selesai.
“Belajar, belajar, dan terus belajar hingga liang kubur.”
Bagi Martha Suprihastini, pengabdian bukan hanya soal jabatan. Ia adalah proses panjang untuk terus bertumbuh, berbagi, dan memberi manfaat.
Dari halaman buku hingga balai desa, ia menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali berawal dari satu hal sederhana: kemauan untuk terus belajar. (art/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS













