SURABAYA — Langit Keputih tampak sendu saat jenazah Ketua DPRD Kota Surabaya Adi Sutarwijono perlahan diturunkan ke liang lahat, Kamis (12/2/2026).
Di antara ratusan pelayat yang hadir, tampak tiga wali kota Surabaya dari lintas generasi berdiri dalam satu barisan, memberi penghormatan terakhir bagi sosok yang akrab disapa Awi itu.
Wali Kota Surabaya periode 2002–2010 Bambang Dwi Hartono, Wali Kota Surabaya periode 2010–2020 Tri Rismaharini, dan Wali Kota Surabaya saat ini Eri Cahyadi hadir bersama keluarga, kader partai, serta sejumlah tokoh masyarakat.
Baca juga: Wali Kota Eri Pimpin Penghormatan Terakhir Adi Sutarwijono di Gedung DPRD
Kehadiran ketiga kader PDI Perjuangan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Keputih itu menghadirkan suasana yang bukan sekadar formal, tetapi penuh makna kebersamaan.
Tak banyak kata terucap. Sesekali mereka saling menyapa, lalu kembali menunduk khidmat mengikuti doa.

Momen itu seolah menjadi gambaran bahwa pengabdian untuk Surabaya melampaui sekat waktu dan periode kepemimpinan.
Tri Rismaharini mengenang almarhum sebagai pribadi yang sabar dan selalu siap membantu.
“Pak Awi itu sabar dan telaten. Sampai jam berapapun, sekalipun malam, kita butuh beliau, beliau pasti ada,” ujarnya pelan.
Baginya, almarhum bukan tipe yang menonjolkan diri. Ia bekerja dalam diam, konsisten menjalankan tanggung jawabnya.
Hal serupa disampaikan Bambang Dwi Hartono. Ia menyebut Adi Sutarwijono sebagai kader sederhana yang tidak pernah mencari sensasi.
“Beliau itu ora neko-neko, bersahaja, tidak suka ngerasani orang lain,” ungkapnya.

Sementara itu, Eri Cahyadi mengajak semua pihak menjaga semangat kebersamaan yang selama ini dibangun almarhum.
“Semoga kita bisa melanjutkan apa yang sudah beliau perjuangkan untuk Surabaya,” katanya.
Di tengah doa yang dipanjatkan bersama, kehadiran tiga wali kota itu menjadi simbol penghormatan lintas generasi.
Sosok Adi Sutarwijono dikenang bukan hanya sebagai pimpinan legislatif, tetapi sebagai figur yang mampu merangkul dan menjaga harmoni di tengah dinamika politik kota.
Prosesi pemakaman berlangsung tertib dan penuh haru. Satu per satu pelayat menaburkan bunga, sebelum akhirnya perlahan meninggalkan lokasi dengan kenangan masing-masing.
Kepergian Adi Sutarwijono meninggalkan duka mendalam. Namun pada hari itu, Surabaya menunjukkan wajah persaudaraan—di mana pengabdian dan ketulusan dikenang bersama, melampaui jabatan dan waktu. (yols/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










