BLITAR – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur, Erma Susanti berkerja sama dengan Dinas Pariwisata Jawa Timur menggelar kegiatan Pelatihan Sosialisasi dan Penguatan Desa Wisata di Pantai Pudak, Desa Ngadipuro, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar, Selasa (26/8/2025).
Tujuan pelatihan ini adalah untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) bagi para penggerak desa wisata, khususnya di kawasan pesisir selatan Blitar, sekaligus sebagai upaya memperkuat sektor pariwisata berbasis desa sebagai jawaban atas tantangan ekonomi global yang kian berat.
Selain menghadirkan pemateri dari unsur pemerintah, panitia juga mendatangkan narasumber berpengalaman seperti akademisi Universitas Kristen Petra, Dr. Daniel Rohi, serta penggiat pariwisata Galih T.
Keduanya membagikan wawasan tentang pengembangan destinasi yang berkelanjutan, strategi promosi, hingga pentingnya inovasi dalam menghadirkan daya tarik baru.
Erma Susanti menyampaikan bahwa desa-desa di sepanjang Jalur Lintas Selatan (JLS) Blitar menyimpan potensi besar untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata.
Namun demikian potensi tersebut tidak akan bernilai jika tidak diimbangi dengan kesiapan masyarakat.
“Pariwisata bukan hanya soal pantai atau alam yang indah. Lebih dari itu, bagaimana masyarakat bisa mengelola dengan baik, memberikan layanan ramah, dan menjaga keberlanjutan lingkungan. Itulah yang membuat wisatawan betah dan kembali lagi,” ujar Erma pada tim media ini, Rabu (27/8/2025).
Lebih lanjut dia juga menekankan perlunya strategi promosi yang kreatif di era digital. Erma menyebut kolaborasi dengan pelaku media, komunitas konten kreator, hingga travel influencer menjadi kunci untuk memperluas jangkauan promosi wisata Blitar.

“Kita tidak bisa hanya mengandalkan cara lama. Desa wisata perlu tampil di kanal digital, punya narasi yang kuat, dan membangun jejaring dengan komunitas wisata nasional agar lebih dikenal,” tuturnya.
Wakil Ketua DPD PDIP Provinsi Jatim ini menyebut penguatan desa wisata bukan sekadar program pelatihan, melainkan investasi jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat desa. Menurutnya, pariwisata terbukti menjadi sektor yang lebih tahan terhadap krisis dibandingkan sektor formal.
“Ketika industri besar terkontraksi akibat krisis global, UMKM dan industri kreatif justru bertahan. Di sinilah desa wisata bisa menjadi penopang, karena ia menyatukan sektor pariwisata dengan UMKM lokal,” ungkapnya.
Dalam hal ini. Erma menegaskan bahwa desa yang mampu mengembangkan pariwisata secara berkelanjutan akan merasakan dampak langsung terhadap peningkatan produk domestik regional bruto (PDRB) desa.
Hal ini, tentu saja kata dia berpotensi mengurangi ketimpangan ekonomi sekaligus menekan angka kemiskinan yang selama ini banyak ditemui di pedesaan.
“Kalau desa bisa menarik wisatawan, otomatis ada perputaran ekonomi. UMKM bergerak, penginapan terisi, kuliner terjual, transportasi jalan. Inilah yang kita harapkan agar desa tidak lagi tertinggal,” bebernya.
Sebagai penutup, Erma mengingatkan pentingnya dukungan pemerintah daerah dan pihak swasta agar program ini berkelanjutan. Dia berharap sinergi yang terjalin bisa melahirkan desa wisata yang benar-benar mandiri dan mampu menjadi tumpuan ekonomi warga.
“Kami mendorong agar promosi lebih gencar, kualitas destinasi terus ditingkatkan, dan yang terpenting kolaborasi dengan banyak pihak seperti komunitas, media, hingga agen perjalanan. Jika semua elemen bergerak bersama, desa wisata Blitar bisa menjadi magnet baru pariwisata Jawa Timur,” tandasnya.(arif/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










