Sabtu
15 Agustus 2026 | 1 : 49

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Megawati dan Kisah Wartawan Jepang yang Dikejar Intel

pdip-jatim-peluncuran-buku-mega

pdip-jatim-peluncuran-buku-megaJAKARTA – Tomohiko Otsuka, mantan kepala koresponden koran The Mainichi Shimbun, surat kabar berbahasa Jepang yang berkantor di Jakarta, memiliki pengalaman unik bersama Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati saat periode 1996an.

Otsuka yang berada di Jakarta sejak 1994 hingga 2000, menyebut kegiatan hariannya tidak menarik sampai terjadi perubahan pada 1996. Ketika itu Megawati baru saja didaulat sebagai pemimpin PDI.

“Sejak itu dimulai kehidupan yang berbahaya dan saya menjadi saksi pergolakan politik di Indonesia,” kata Otsuka seperti dicuplik CNNIndonesia.com pada Jumat (25/3) dari buku berjudul ‘Megawati dalam Catatan Wartawan: Menangis dan Tertawa Bersama Rakyat.’

Saat sedang meliput aksi bentrokan antara pendukung PDI dengan aparat keamanan di depan Stasiun Gambir, 20 Juni 1996, Otsuka menjadi salah satu korban yang mengalami luka ringan.

“Ketika itu saya tidak tahu berdiri di mana dan harus ikut siapa. Tiba-tiba polisi melihat dan memukul saya,” kata Otsuka dalam acara peluncuran buku itu, Rabu (23/3).

Momen Otsuka menerima pukulan terekam kamera salah seorang koresponden CNN. Selanjutnya, seluruh dunia mengenal Otsuka sebagai korban. Megawati yang mengetahui pemukulan Otsuka dari media, bersedia menerima permintaan wawancara khusus dari Otsuka.

“Otsuka ini aneh. Begitu kenal maunya ikut terus,” kata Megawati saat peluncuran buku.

Otsuka yang sering berdampingan dengan Mega, membuat dia menjadi sasaran intel. Ketika Otsuka dan asistennya, Maria Karsia, meliput kampanye Mega pada 15 Oktober 1997 di Denpasar, Bali, petugas di hotel meminta dia meninggalkan paspor sebagai jaminan.

Permintaan yang dianggap tidak wajar, membuat Otsuka menolak permintaan pihak hotel. Saat sedang menyantap jamuan makan malam bersama kader PDIP, Otsuka mendapat kabar bahwa dia sedang dicari aparat intelijen.

“Ibu Mega meminta saya untuk tidak kembali ke hotel dan menyelinap keluar restoran,” kata Otsuka seperti dicuplik dari buku.

Ketika itu, kata Otsuka, Mega menyadari bahwa aparat dapat menangkapnya meski dengan alasan yang tidak jelas. Aparat bisa melakukan kekerasan yang direstui rezim yang berkuasa.

Pada masa itu, kata Otsuka, Presiden Soeharto yang sedang berkuasa menganggap Megawati sebagai ancaman terhadap keberlangsungan kepemimpinannya.

Secara diam-diam, Otsuka pun keluar restoran dan meminta perlindungan ke Konsulat Jenderal Jepang di Denpasar.  Setiba di kantor konsulat, Otsuka terus berkontak dengan staf Mega. Staf itu mengatakan, aparat mencari keberadaannya di setiap sudut hotel. Aparat juga menanyakan keberadaan Otsuka kepada pihak hotel dan kader PDIP.

Dari percakapan itu, Otsuka juga mendapat saran agar merapat ke Mega saat di bandara keesokan harinya. Menurut si pemberi pesan, intel tidak dapat berbuat apapun terhadap dirinya bila berdekatan dengan Mega.

Otsuka pun menyusun rencana dengan bantuan diplomat Jepang. Dia menuju kantor bandara menggunakan mobil plat diplomatik dengan ditemani diplomat.

Aksi Otsuka bak cuplikan film Mission Imposible. Ketika Mega turun, mobil yang ditumpangi Otsuka menyalip dan berhenti persis di belakang mobil Mega.

“Sekian tahun setelahnya, diplomat itu mengatakan bahwa dia mendapat perintah langsung (dari pemerintah Jepang) untuk mendukung dengan segala risiko dan tanggung jawab,” tulis Otsuka.

Aksi Otsuka dan diplomat Jepang bak cuplikan film Mission Imposible. Ketika Mega turun dari mobil di area kedatangan bandara, mobil yang ditumpangi Otsuka menyalip dan berhenti persis di belakang mobil Mega.

Otsuka pun segera turun mobil dan langsung berjalan di sebelah Mega. Intel yang berada di sekitar Mega terkejut namun tak bisa berbuat apapun. Dia pun aman naik pesawat dan tiba di Jakarta.

Otsuka merupakan salah satu wartawan dari 22 lainnya yang membagi kisah pengalamannya bersama Megawati. Mereka merekam pengalaman itu dalam satu buku ‘Megawati dalam Catatan Wartawan’.

Buku ini diluncurkan Rabu (23/3) di Gedung Arsip Nasional yang dihadiri Megawati dan para tokoh politik lainnya. Otsuka yang kini tinggal di Jepang pun hadir di acara itu. (cnn)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Gesah Bareng Ambi Bupati: Cara Ipuk Cari Solusi Langsung Masalah Pangan

BANYUWANGI – Berbagai persoalan yang dihadapi petani, nelayan, peternak, hingga pelaku perkebunan di Banyuwangi ...
KRONIK

Relief Gumuk Lumpang Rusak, DPRD Jember Minta Dugaan Perusakan Diusut

JEMBER – Ketua Komisi B DPRD Jember, Candra Ary Fianto, meminta polisi mengusut dugaan perusakan Objek Diduga Cagar ...
LEGISLATIF

Kelebihan Bayar Rp 566 Juta Proyek Alun-Alun Sidoarjo, DPRD Desak Pemkab Benahi Manajemen Pengawasan

SIDOARJO – Temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI mengenai kelebihan pembayaran sebesar Rp 566,44 juta pada ...
HEADLINE

Puan: APBN 2027 Harus Diukur dari Seberapa Banyak Hidup Rakyat Berubah

JAKARTA – Ketua DPR RI Puan Maharani menegaskan keberhasilan APBN tidak boleh hanya diukur dari besarnya anggaran ...
LEGISLATIF

Anggaran Terbatas, Fery Dorong Pemkab Madiun Cari Terobosan Pertumbuhan Ekonomi

MADIUN – Ketua DPRD Kabupaten Madiun Fery Sudarsono meminta pemerintah daerah terus mencari langkah dan terobosan ...
LEGISLATIF

Untari: Subsidi Pendidikan Harus Diperkuat, Jangan Ada Anak Putus Sekolah karena Biaya

SURABAYA – Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Sri Untari Bisowarno, meminta negara memperkuat intervensi di sektor ...