oleh

6 Tahun Budidaya Bibit Lele, Kini Usaha Wakhid Syaifudin Diikuti Puluhan Tetangganya

-UMKM-54 kali dibaca

NGAWI – Tinggal di pedesaan bukan berarti tidak bisa berkembang. Jika berhasil melihat peluang, malah bisa membuat bisnis yang menguntungkan.

Seperti halnya kisah Syaifudin Wakhid, pemuda warga Desa Sekaralas, Kecamatan Widodaren, Ngawi. Di tangan pemuda 24-an tahun itu, tanah kosong di belakang rumah diubah menjadi lahan penghasil rupiah.

Wakhid sapaan pemuda itu memilih berbudidaya bibit ikan lele. Terkesan sederhana namun memiliki hasil yang bisa dibilang lumayan. Apalagi, usaha tersebut masih cukup jarang digeluti.

“Mulai menggeluti usaha budidaya bibit ikan lele tahun 2016. Saat itu baru lulus dari pondok pesantren,” katanya, Rabu (29/6/2022).

Saat ini Wakhid memiliki belasan kolam pembesaran bibit ikan lele. Belasan kolam seukuran 4×2 meter persegi berada persis dibelakang rumahnya. Bibit ikan lele produksi Wakhid pun beragam. Ada dua varian yang populer dibudidayakan para peternak. Yakni jenis Sangkuriang dan Mutiara.

Dari belasan kolam itu, Wakhid mengaku bisa memanen hasil yang lumayan. Per ekor bibit ikan lele, dijual dari rentang harga Rp120-Rp150, tergantung ukuran ikan. Untuk setiap bulan, puluhan hingga ratusan ribu bibit ikan lele siap dipanen dan diedarkan.

“Permintaan pasar masih cukup bagus. Panen bisa dua kali hingga tiga kali sebulan. Antara 50 ribu sampai 200 ribu ekor sekali panen,” kata Wakhid.

Soal omzet tiap bulan, Wakhid malu-malu menyebutkan nominal. Dirinya hanya menggaris bawahi, bahwa keuntungan budidaya bibit ikan lele bisa mencapai 100 persen jika dimulai dari pemijahan. Sementara untuk pendederan, keuntungan hanya 25 persen.

“Omzet tiap bulan, UMR lah,” ucap pemuda pengagum Bung Karno ini.

Sebelum berada di posisi seperti sekarang, Wakhid mengaku saat mengawali usaha budidaya bibit ikan lele bukan sesuatu hal yang mudah. Berangkat tanpa pengalaman yang memadai, usahanya jadi bahan olok-olokan tetangga.

Apalagi, kultur masyarakat desanya, yang mayoritas petani, menganggap usaha budidaya bibit ikan lele hanya buang-buang waktu dan tenaga. Tidak prospektif dan menguntungkan.

“Awalnya dulu saya disepelekan, karena belum ada bukti hasilnya,” ucapnya.

Namun Wakhid tidak berkecil hati. Olok-olokan dianggapnya sebagai motivasi. Baginya, budidaya bibit ikan lele bisa menggerakkan ekonomi kerakyatan. Menjadi alternatif pendapatan sampingan, para petani sawah warga desanya.

Semangatnya yang tidak surut membuahkan hasil. Tetangga sekitarnya mulai membuka hati, dan ikut menggeluti usaha budidaya bibit ikan lele. Hingga saat ini, telah ada puluhan warga yang mengikuti jejak Wakhid.

“Kalau sekarang sudah ada sekitar 30-an orang yang ikut budidaya bibit ikan lele. Beberapa diantaranya pernah sekali panen mendapatkan hasil hingga belasan juta,” ungkap Wakhid.

Geliat usaha budidaya bibit ikan lele di Desa Sekaralas kian berkembang. Wakhid mengaku, Dusun Katerban yang dia tinggali, saat ini tidak hanya dikenal sebagai kampung santri. Atau penghasil cabai, melon, dan produk pertanian lainnya.

“Meskipun termasuk skala kecil, tetapi kini, Katerban juga dikenal sebagai daerah penghasil bibit ikan lele di Ngawi,” papar Wakhid Syaifudin pemuda asal Ngawi pelopor budidaya bibit ikan lele di Sekaralas, Widodaren, Ngawi. (mmf/hs)