PONOROGO – Pemilihan tata ruang kerja menjadi aspek penting dalam memberikan kenyamanan dan efisiensi saat bekerja. Dari tampak yang ‘biasa-biasa saja’ hingga ‘mewah’, tentunya pilihan ruang kerja itu juga sebisa mungkin sedap dipandang.
Kali ini ada yang berbeda nan unik, tak seperti pada umumnya, saat kita memasuki ruang kerja Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko. Kita akan disuguhi nuansa yang tradisional. Ruang kerja yang terletak di lantai dua Graha Krida Praja (Gedung Pemkab Ponorogo) itu disulap bak di era 70’an.
“Saya mencoba memotret di era 70’an, era di mana pancaroba dulunya gedeg (bambu, red) diganti tembok. Dulunya rumah dari gebyok jadi rumah gambar,” ujar Bupati Sugiri mengawali cerita.
Ruangan yang dulunya bernuansa putih keemasan itu kini diubah dengan pembatas ruangan (gebyok) yang mengelilingi seluruh ruangan bupati. Gebyok itu didesain sedemikian rupa dengan memadukan kain jarik yang berada di atas, lalu di tengahnya ada anyaman bambu (gedeg), dan di bagian bawah terdapat papan kayu merah hitam yang disusun secara vertikal.

Menambah kesan tradisional, di tengah-tengah dan kanan ruangan juga terdapat meja kursi kayu yang memanjang untuk menjamu tamu yang hadir. Di sisi kiri, gerobak angkringan bahkan juga ada. Kaleng kerupuk dan cangkir blirik pun menghiasi gerobak angkringan itu.
Tak hanya itu, sepeda onthel hingga vespa nampak dipajang di sisi kanan kiri setelah pintu masuk. Bahkan, poster-poster musik, film, atau apapun di era 70’an nantinya juga akan dipajang untuk menambah koleksi klasik. Tamu pun seakan-akan dibuat betah, berasa bernostalgia, hingga bisa ngopi layaknya di rumah sendiri.
“Kami menghadirkan sebelum 70’an ini benar-benar ketika habis bising politik di upacara, bising politik di paripurna, ketika masuk ke sini jadi adem seperti homey,” jelasnya.

Politisi PDI Perjuangan yang dikenal ramah, grapyak, murah senyum, dan suka berbaur dengan masyarakat itu memang cinta akan sejarah peradaban. Ia mengaku ingin menghadirkan sekilas masa lalu itu agar siapapun yang datang menjadi tahu tentang bagian kecil dari konsep peradaban.
Dari itu, ruang kerja yang sarat akan makna itu memang murni lahir dari ide uniknya. Pengerjaan dilakukan sekitar dua bulan, sudah tertata cantik sejak 2022 lalu.
“Kita tidak boleh lupa dengan masa lalu, itu yang paling penting. Dan yang boleh masuk siapa saja, dikasih nama ‘Posko Wartawan’,” tandas Bupati Sugiri dengan bangga. (jrs)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS













