Tari Pesona Budaya Jawa Timur meriahkan pelantikan PAC PDI Perjuangan Bondowoso dengan perpaduan budaya lokal dan simbol partai.
BONDOWOSO — Suasana acara pelantikan Pengurus Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan se-Kabupaten Bondowoso di Ijen View Hotel & Resort, Sabtu (16/5/2026), tidak hanya dipenuhi pidato dan prosesi organisasi partai.
Prosesi pelantikan diawali dengan suara musik tradisional yang mengalun dari sudut ruangan.
Tiga penari perlahan memasuki arena. Gerakan mereka tegas, namun tetap lentur. Aroma budaya Jawa Timur langsung terasa.
Baca juga: PDIP Bondowoso Ditarget Tambah Kursi pada Pemilu 2029, Konsolidasi hingga Anak Ranting Digenjot
Tepuk tangan mulai terdengar.
Bukan sekadar tari pembuka biasa, penampilan bertajuk Tari Pesona Budaya Jawa Timur itu menjadi salah satu momen yang menyita perhatian dalam agenda pelantikan PAC PDIP Bondowoso.
Di tangan tiga penari dari Desaretri Dancer Bondowoso, panggung pelantikan partai berubah menjadi ruang perjumpaan antara budaya lokal dan identitas politik.
Di bagian awal pertunjukan, nuansa Bondowoso terasa begitu kuat.

Gerakan khas Tari Singo Ulung — salah satu ikon budaya Bondowoso — dibawakan dengan ritme energik. Namun ada yang berbeda dari biasanya.
Properti kepala Singo Ulung yang identik dengan wajah singa, kali ini diganti dengan simbol banteng moncong putih milik PDI Perjuangan.
Perpaduan itu membuat sejumlah tamu undangan tampak mengangkat ponsel mereka untuk merekam penampilan.
Owner sekaligus pendiri Desaretri Dancer Bondowoso, Deka, mengatakan konsep tari memang sengaja dirancang khusus untuk agenda pelantikan PAC tersebut.
“Di awal itu tadi ada tarian khas dari Bondowoso, Tari Singo Ulung. Hanya saja propertinya kita gantikan dengan logo PDI Perjuangan karena hari ini adalah kegiatan dari PDI Perjuangan,” ujarnya.
Setelah bagian pembuka, pertunjukan terus bergerak dinamis.
Nuansa budaya Madura, Arek, hingga Mataraman diselipkan melalui musik, gerakan, dan kostum yang terus berganti ritme.
Semua dikemas dalam satu tarian yang mencoba menggambarkan luasnya ragam budaya Jawa Timur.
Namun di tengah keberagaman itu, simbol partai tetap hadir sebagai benang merah pertunjukan.

“Di bagian belakang tari kita sambung dengan banyak ragam budaya dari Jawa Timur. Tapi tidak lupa dengan properti yang kita pakai, yaitu properti dari PDI Perjuangan sendiri,” kata Deka.
Bagi para penonton, pertunjukan itu terasa lebih dari sekadar hiburan seremonial.
Ada pesan tentang identitas, kedekatan budaya dengan masyarakat, hingga semangat merangkul keberagaman yang coba dihadirkan lewat panggung tari.
Di tengah hiruk pikuk politik modern yang sering terasa formal dan kaku, pertunjukan itu menghadirkan warna berbeda.
Budaya tampil bukan sebagai pelengkap acara, melainkan bagian dari pesan yang ingin disampaikan.
Menurut Deka, tarian tersebut membawa makna tentang semangat kebersamaan dan keterbukaan dalam merangkul seluruh elemen masyarakat.
“Makna tarian itu sendiri ialah PDI Perjuangan di Jawa Timur itu kan tidak hanya di satu tempat, tapi meluas dan juga merangkul semuanya,” ujarnya.
Kalimat itu terasa sederhana. Namun di atas panggung siang itu, pesan tersebut diterjemahkan lewat gerak tubuh, musik tradisional, dan simbol-simbol budaya yang akrab dengan masyarakat bawah.
Dan ketika tepuk tangan panjang kembali memenuhi ruangan, panggung pelantikan PAC Bondowoso seolah membuktikan satu hal: politik kadang bisa terasa lebih hangat ketika budaya ikut berbicara. (gio/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










