oleh

Wisatawan Serbu Banyuwangi, Bupati Anas Minta Maaf

BANYUWANGI– Bupati Abdullah Azwar Anas mengungkapkan terima kasihnya, sekaligus minta maaf atas ketidaknyamanan para wisatawan yang telah menyerbu sejumlah lokasi wisata di Banyuwangi selama libur akhir tahun 2016.

Permintaan maaf disampaikan, karena masih banyak wisatawan belum bisa mendapatkan hotel sesuai yang mereka harapkan. Hal ini karena semua hotel di Banyuwangi sudah penuh dipesan pada libur akhir tahun.

Menurut Anas, saat dicek di situs travel, hotel di Banyuwangi penuh semua. Hanya dua atau tiga hotel yang masih ada kamar, itu pun tinggal sedikit.

“Sekarang sedang dibangun tiga hotel berbintang. Jadi akan ada tambahan kamar signifikan pada 2017 yang bisa memenuhi kebutuhan wisatawan dan dunia usaha,” kata Anas, kemarin.

Dia menjelaskan, saat ini ada lokasi wisata yang pada hari biasa dikunjungi 1.000 orang, namun pada libur akhir tahun dijejali 5.000 orang per hari terus-menerus.

Pada libur akhir tahun ini, Anas juga mengunjungi langsung salah satu tujuan wisata, yaitu Pantai Grand Watudodol yang lokasinya di gerbang masuk wilayah Banyuwangi dari sisi utara.

“Saat libur akhir 2015 lalu, saya naik ke Gunung Ijen dan mengunjungi Bangsring Underwater. Libur akhir tahun ini ke Pantai Grand Watudodol dan bertemu beberapa penjual kuliner,” ujarnya.

Di Watudodol, Anas menemui sejumlah pengunjung untuk memastikan kenyamanan liburannya. Anas juga mencoba sejumlah sarana olahraga air, mulai jumper boat hingga glass bottom boat yang bisa melihat keindahan terumbu karang di dasar laut.

Pantai Grand Watudodol adalah wisata bahari tak jauh dari pusat Kota Banyuwangi. Pantai ini menawarkan snorkeling, diving, dan beragam permainan air.

Sejak 2015, Pemkab Banyuwangi melengkapi sarananya dengan tempat bersantai dan sentra kuliner. Tak lama lagi juga dibangun anjungan dermaga jetty.

Pada Sabtu (31/12/2016) jelang tutup tahun, bupati dari PDI Perjuangan ini sempat menghabiskan waktunya bersama para penyandang disabilitas di Pendopo Saba Swagatha. Penyandang disabilitas lintas usia itu berdialog dan bercengkerama dengan Anas.

Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Banyuwangi Wasis mengatakan, kedatangan rekan-rekannya itu atas permintaan sendiri yang ingin bertemu dengan Bupati Anas. Selain dari Banyuwangi, mereka berasal dari Bondowoso, Bali, dan Jember.

Bahkan, ada yang tergabung dalam Disabilitas Motor Indonesia (DMI) yang mengendarai motor dari Jember ke Banyuwangi. Ada sekitar 90 orang yang ke Banyuwangi. Mereka yang datang berasal dari kalangan tunadaksa, tunanetra, dan tunarungu wicara.

Di Banyuwangi, juga digelar Rakor Difabilitas di YPKTI (Yayasan Kesejahteraan dan Pendidikan Tuna Indra) Banyuwangi.

Anas mengaku salut dengan semangat para penyandang disabilitas ini. Mereka memiliki spirit untuk berorganisasi. “Kami berupaya melayani penyandang disabilitas,” ujarnya.

Menurut Anas, di Banyuwangi telah dikembangkan 210 sekolah inklusi dengan 275 guru yang mempunyai kompetensi sebagai pendamping anak berkemampuan khusus. Mereka telah melalui pendidikan yang disyaratkan.

Para guru tersebut ada di 210 sekolah inklusif yang terdiri atas 55 PAUD, 89 SD/MI, 44 SMP/MTs, dan 22 SMA/SMK/MA. Sekolah-sekolah tersebut menerima sekitar 1.246 anak penyandang disabilitas dan anak berkemampuan khusus.

“Jadi ini ikhtiar untuk kesempatan pendidikan yang sama. Anak berkemampuan khusus bisa bersekolah bareng dalam satu kelas di sekolah yang sama, mempelajari mata pelajaran yang sama, dan mengikuti semua kegiatan di sekolah tanpa ada diskriminasi. Kami juga mempunyai program beasiswa untuk penyandang disabilitas,” ujar Anas.

Banyuwangi juga berkomitmen untuk pemenuhan hak difabel. Banyuwangi telah memiliki Peraturan Daerah (Perda) tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas.  (goek)