Jumat
02 Oktober 2026 | 6 : 33

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Eri Cahyadi: Perjuangan Hari Ini Bukan Melawan Penjajah, tapi Kemiskinan hingga Perpecahan

pdip jatim 260817 veteran sby

SURABAYA – Perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia hari ini tidak lagi dilakukan dengan mengangkat senjata melawan penjajah. Di Kota Surabaya, perjuangan itu diwujudkan dengan menghadapi persoalan kemiskinan, stunting, anak putus sekolah, perbedaan cara pandang hingga ancaman kekerasan dan premanisme.

Pesan tersebut disampaikan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi saat menghadiri doa lintas agama dan tasyakuran HUT ke-81 Republik Indonesia di depan rumah dinas wali kota, Jalan Sedap Malam, Minggu (16/8/2026).

Menurut Eri, peringatan kemerdekaan tidak seharusnya berhenti sebagai seremoni tahunan. Kemerdekaan harus menjadi momentum untuk meneruskan nilai perjuangan para pahlawan dalam menghadapi persoalan yang masih dihadapi masyarakat.

Eri mengutip pesan Presiden Soekarno mengenai tantangan perjuangan setelah Indonesia merdeka.

“Presiden Soekarno pernah mengatakan perjuangan saya lebih mudah karena saya harus bertempur dengan negara yang berbeda, kulitnya berbeda, rambutnya berbeda, tapi perjuanganmu akan jauh lebih berat karena kita bertempur dengan orang yang punya kulit yang sama, punya rambut yang sama,” ujar Eri.

Bagi Eri, pesan tersebut masih relevan dengan kondisi bangsa saat ini. Tantangan Indonesia bukan lagi menghadapi musuh dari luar, melainkan menjaga persatuan di tengah perbedaan dan menyelesaikan berbagai persoalan sosial yang ada di masyarakat.

Ia menyebut kemiskinan, stunting, anak putus sekolah hingga perbedaan cara pandang sebagai pekerjaan bersama yang harus diselesaikan.

“Karena itu eyang, kami akan bergerak terus untuk menyatukan cara pandang bangsa Indonesia, khususnya di Kota Surabaya. Tidak mungkin kita menjadi orang yang berhasil tanpa kita menghormati orang lain. Tidak mungkin kita menjadi orang yang bermanfaat kalau kita tidak bisa membantu orang lain,” katanya.

Karena itu, Eri meminta para veteran terus memberikan arahan kepada pemerintah. Menurutnya, generasi saat ini memiliki kewajiban untuk meneruskan perjuangan yang telah dilakukan para pejuang kemerdekaan.

Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan tidak diperoleh secara cuma-cuma. Para pejuang mengorbankan harta, keluarga bahkan nyawa untuk mempertahankan Indonesia.

“Jangan pernah bosan mengajarkan kepada kami, jangan pernah bosan mendampingi kami karena kami hari ini hanya satu, kami ingin meneruskan perjuangan njenengan (Anda) semuanya,” tutur politisi PDI Perjuangan tersebut.

Semangat mempertahankan kemerdekaan itu, lanjut Eri, juga diterjemahkan dalam upaya menjaga keamanan Kota Surabaya. Pemkot bersama Forkopimda berkomitmen mencegah kekerasan dan aksi premanisme yang dapat merusak rasa aman serta persaudaraan masyarakat.

“Karena negara kita adalah negara hukum, maka tidak boleh ada kelompok atau orang yang menggunakan kekerasan, menggunakan bentuk-bentuk premanisme di Kota Surabaya,” tegasnya.

Menurut Eri, menjaga keamanan bukan sekadar tugas aparat. Upaya tersebut merupakan bagian dari perjuangan bersama agar masyarakat dapat hidup aman, saling menghormati dan membangun kesejahteraan.

“Maka tugas kami akan terus menghadang kegiatan-kegiatan yang bisa merusak tali persaudaraan, yang merusak keamanan di Kota Surabaya,” lanjutnya.

Eri pun meminta doa dan restu para veteran agar jajaran Pemkot Surabaya mampu menjalankan amanah tersebut sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Insya Allah kami akan tetap menjadi putra-putri njenengan, insyaallah kami akan menjalankan dan mewujudkan mimpi njenengan. Insya Allah kita akan terus untuk mengawal impian njenengan semuanya. Merdeka! Merdeka! Merdeka!” tandasnya.

Sementara itu, Ketua LVRI Kota Surabaya Kolonel Laut (Purn) Gitoyo mengingatkan bahwa perjuangan kemerdekaan sendiri berlangsung melalui proses panjang dan penuh pengorbanan.

Ia menceritakan kembali momentum menjelang Proklamasi. Setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945, kabar tersebut segera diketahui para pemuda pejuang Indonesia.

Para pemuda kemudian mendesak Soekarno dan Mohammad Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan. Desakan itu kemudian melahirkan peristiwa Rengasdengklok sebelum Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta.

“Berita menyerahnya Jepang kepada Sekutu terdengar oleh pemuda-pemuda pejuang Indonesia. Oleh karena itu, tanggal 16 Agustus para pemuda mendesak untuk segera memproklamasikan,” ujar Gitoyo.

Pada malam 16 Agustus 1945, perumusan teks Proklamasi dilakukan di Jakarta. Proses tersebut tidak berlangsung sederhana sebelum akhirnya Proklamasi Kemerdekaan dibacakan pada 17 Agustus 1945.

“Terjadilah di situ malam untuk merumuskan proklamasi kemerdekaan. Dengan segala dinamikanya, tidak semudah itu Pak Soekarno merumuskan teks proklamasi dalam semalam,” katanya.

Bahkan setelah Proklamasi, perjuangan belum selesai. Selama beberapa tahun berikutnya, para pejuang masih menghadapi pertempuran dan perang gerilya untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia.

“Setelah proklamasi sampai empat tahun berikutnya, baru itu pertempuran yang melibatkan para pejuang masuk dengan bapak-bapak ini (veteran) yang ikut. Termasuk perang gerilya sehingga Indonesia tetap berada dalam keadaan kemerdekaan,” pungkasnya.

Kini, medan perjuangan memang telah berubah.

Tidak ada lagi perang melawan penjajah di jalan-jalan Surabaya. Tetapi ada persoalan sosial yang harus ditaklukkan, ada persaudaraan yang harus dijaga, dan ada kesejahteraan masyarakat yang harus terus diperjuangkan.

Di situlah, menurut Eri, kemerdekaan menemukan maknanya pada zaman sekarang. (gio/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

LEGISLATIF

PDI Perjuangan Soroti Ruang Fiskal Jember, Minta Anggaran Tak Berhenti di atas Kertas

JEMBER – Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jember meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember menghitung ulang ruang ...
LEGISLATIF

DPR RI Kaji Kepastian Hak Cipta di Era Kecerdasan Buatan

JAKARTA – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) memunculkan persoalan baru di bidang hak kekayaan intelektual (HKI), ...
KRONIK

Kick Off Hari Santri 2026, Bupati Fauzi: Momentum Perkuat Kebersamaan dan Menghargai Perjuangan para Pendahulu Kita

SUMENEP – Memperingati Hari Santri 2026, PCNU Sumenep resmi menggelar Kick Off Hari Santri 2026 di Aula Al-Ikhlas ...
KRONIK

Karhutla Gunung Botak Belum Padam Sepenuhnya, Wabup Ngawi Prioritaskan Permukiman Warga

NGAWI – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Botak, Kecamatan Sine, Kabupaten Ngawi, belum ...
KRONIK

Soroti Potensi Kenaikan Biaya Haji 2027, Ansari PDIP: Jangan Langsung Bebankan ke Rakyat

PAMEKASAN – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI, Hj. Ansari, meminta pemerintah tidak menjadikan kenaikan harga ...
EKSEKUTIF

Bupati Gresik Pantau Penyaluran Air Bersih untuk Warga Balongpanggang Terdampak Kekeringan

GRESIK – Krisis air bersih mulai menghimpit 315 kepala keluarga (KK) di Desa Ganggang, Kecamatan Balongpanggang, ...