Di tengah hujan yang mengguyur Jember, seorang petani membawa tumpeng nasi jagung ke Haul Bung Karno. Sebuah simbol penghormatan kepada Sang Proklamator sekaligus harapan agar petani tetap menjadi perhatian bangsa.
JEMBER – Hujan turun sejak sore di Kota Jember, Senin (21/6/2026). Air membasahi halaman Kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Jember di Jalan Supriadi, Patrang.
Di dalam aula, suasana terasa berbeda. Lantunan sholawat untuk Bung Karno dan kedamaian negeri mengalun pelan, mengisi ruang yang dipenuhi kader dan warga yang datang untuk mengenang Sang Proklamator.
Menjelang petang, ketika hujan mulai mereda, seorang pria melangkah cepat menuju aula. Tangannya menggenggam sebuah tumpeng sederhana.
Tidak besar. Tidak mewah. Namun di balik tumpeng itu tersimpan cerita panjang tentang petani, tanah, dan harapan.
Pria itu adalah Jumantoro, Ketua Forum Komunikasi Petani Jember (FKPJ) sekaligus Ketua Umum Asosiasi Petani Pangan Indonesia (APPI).
Ia datang bukan sekadar memenuhi undangan. Tumpeng yang dibawanya merupakan persembahan khusus untuk memperingati Haul ke-56 Bung Karno yang tahun ini bertepatan dengan Hari Krida Pertanian.
Bagi Jumantoro, Bung Karno bukan hanya tokoh sejarah yang namanya tercatat dalam buku pelajaran. Bung Karno adalah sosok yang sejak awal menempatkan petani sebagai salah satu penyangga utama kehidupan bangsa.
“Semua tahu bahwa Bung Karno adalah tokoh yang selalu berpihak kepada petani sebagai penyangga tatanan Negara Indonesia,” ujarnya.
Tumpeng itu pun tidak dibuat sembarangan. Di dalamnya tersaji nasi jagung, makanan yang akrab dengan kehidupan petani.
Bagi Jumantoro, nasi jagung bukan sekadar sajian tradisional, melainkan simbol kemandirian pangan dan kedekatan masyarakat desa dengan tanah yang mereka garap setiap hari.

Di tengah berbagai perubahan zaman, nasi jagung menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan sesungguhnya lahir dari tangan-tangan petani yang bekerja sejak matahari terbit hingga senja datang.
Ketika tumpeng itu diterima dan dinikmati bersama oleh Ketua DPC PDI Perjuangan Jember Widarto beserta jajaran pengurus, Jumantoro merasakan sesuatu yang sederhana namun berarti.
“Alhamdulillah, tumpeng itu dinikmati langsung oleh Ketua DPC bersama pengurus. Bagi kami, ini menjadi bukti bahwa petani dimanusiakan dan didengar suaranya,” katanya.
Malam itu, suasana haul berlangsung khidmat. Pembacaan satu juta sholawat terus bergema. Doa-doa dipanjatkan untuk Bung Karno dan untuk negeri yang tengah menghadapi berbagai tantangan.
Di luar aula, sisa-sisa hujan masih meninggalkan jejak di halaman. Di dalam ruangan, tumpeng nasi jagung yang dibawa seorang petani menjadi simbol yang lebih besar dari sekadar hidangan.
Ia menjadi pertemuan antara kenangan dan harapan.
Kenangan tentang Bung Karno yang meyakini pentingnya kaum tani sebagai penyangga bangsa. Dan harapan bahwa di masa depan, suara petani tetap mendapat tempat dalam setiap kebijakan yang menyangkut pangan dan kesejahteraan rakyat.
Ketua DPC PDI Perjuangan Jember, Widarto, menyambut baik kehadiran para petani dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, perhatian kepada petani tidak boleh berhenti pada simbol dan seremoni semata.
“Kami ingin petani merasa memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi dan keluhannya. Apa yang kami perjuangkan hari ini juga tidak lepas dari dukungan para petani,” ujarnya.
Malam terus berjalan. Sholawat masih terdengar mengalun. Dan di tengah suasana yang basah oleh hujan, tumpeng nasi jagung itu seakan menyampaikan pesan sederhana: perjuangan tentang pangan, kesejahteraan petani, dan keberpihakan kepada wong cilik belum pernah selesai.
Pesan itu tetap hidup, sebagaimana harapan yang dibawa seorang petani saat melangkah menembus hujan menuju aula kecil di sudut Kota Jember. (art/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS









