BATU – Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur Sri Untari Bisowarno meninjau proses pembangunan Museum Arhanud (Artileri Pertahanan Udara) oleh Pusat Pendidikan Arhanud (Pusdik Arhanud) TNI AD di Kota Batu, Sabtu lalu.
Dalam kunjungannya didampingi Komandan Arhanud, Brigjen TNI I Made Suryawan, Untari bicara banyak soal arah pembangunan Museum Arhanud sebagai pusat edukasi sejarah pertahanan udara nasional sekaligus potensi integrasinya dengan program desa wisata di kawasan sekitar.
Menurut penasihat Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim, museum bukan hanya tempat menyimpan sejarah, tapi juga ruang membangun kesadaran sejarah kebangsaan yang terintegrasi dengan potensi ekonomi lokal.
Untari berharap museum ini dapat menjadi ikon baru wisata sejarah di Kota Batu. Sebuah ruang belajar terbuka bagi generasi muda, sekaligus daya tarik bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat jejak perjuangan TNI di bidang pertahanan udara.
“Kami mendorong sinergi antara TNI AD, pemerintah daerah, dan masyarakat untuk menjadikan museum ini sebagai bagian dari ekosistem wisata yang inklusif, edukatif, dan membanggakan,” kata Untari, dikutip Rabu (23/7/2025).

Sekrataris DPD PDI Perjuangan itu menilai, ide pembangunan museum tersebut bukan sekedar pelestarian sejarah militer. Tapi juga menjadi sarana penting dalam memperkuat pemahaman publik, khususnya generasi muda, mengenai peran strategis pertahanan udara dalam menjaga kedaulatan bangsa.
Museum yang digagas jajaran Pusdik Arhanud Malang ini dirancang sebagai pusat edukasi sejarah pertahanan udara nasional, menampilkan koleksi sistem persenjataan, dokumentasi operasi militer, serta jejak peran Arhanud sejak masa kemerdekaan hingga kini.
Untari juga mendorong agar Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan perhatian dan dukungan konkret.
Menurutnya, komitmen daerah sangat diperlukan agar pendirian museum ini bisa segera terealisasi dan menjadi kebanggaan baru bagi warga Jawa Timur, khususnya di wilayah tempat Pusdik Arhanud berada, yakni di kawasan Malang.
“Kami minta provinsi bisa memberikan support penuh. Ini adalah ruang pendidikan kebangsaan yang hidup. Kita tidak bisa hanya berharap generasi muda belajar sejarah dari buku, mereka perlu melihat langsung, menyentuh, merasakan atmosfir perjuangan. Dan museum bisa menjawab kebutuhan itu,” pungkasnya. (ull/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










