oleh

Tim Risma-Whisnu Apresiasi Kerja Penyelenggara Pilkada

pdip-jatim-rekapitulasi-pilwaliSURABAYA – Tim Pemenangan Risma-Whisnu menyampaikan terima kasih terhadap warga Kota Pahlawan yang kembali mempercayakan kepemimpinan Kota Surabaya kepada pasangan nomor urut dua.

Harapan dan kepercayaan rakyat ini dibuktikan dari jumlah perolehan suara untuk pasangan Risma-Whisnu, hasil rekapitulasi pilkada oleh KPU Surabaya, Rabu (16/12/2015).

Jubir Tim Kampanye Didik Prasetiyono mengatakan, kemenangan pasangan incumbent ini bukanlah kemenangan Tri Rismaharini dan Whisnu Sakti Buana, atau juga kemenangan PDI Perjuangan semata.

“Ini adalah kemenangan seluruh rakyat Surabaya, untuk kemajuan Kota Pahlawan. Untuk itu, PDI Perjuangan sebagai partai pengusung juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya,” kata Didik Prasetiyono.

Rekapitulasi penghitungan suara di KPU Surabaya tuntas pada Rabu (16/12/2015) sore. Hasil rekapitulasi, pasangan nomor urut satu Rasiyo-Lucy mendapatkan 141.324 (13,66%) suara. Sedang pasangan Risma-Whisnu meraih 893.087 (86,34%) suara. Total suara sah 1.034.411 (100%).

“Kemenangan telak pasangan Risma-Whisnu menandakan, bahwa ini adalah amanah yang harus diemban oleh pasangan kami,” tambah liaison officer (LO) Tim Pemenangan Risma-Whisnu, Sukadar.

Saat ini, menurut legislator DPRD Kota Surabaya ini, sudah tidak ada lagi Salam Satu Jari maupun Dua Jari. Yang ada adalah membangun Surabaya kedepan secara bersama-sama lebih baik. “Itu yang menjadi makna Salam Tiga Jari, ” ujarnya.

Tim Kampanye Risma-Whisnu juga mengapresiasi kinerja penyelenggara pemilu, khususnya seluruh perangkat KPPS yang telah mengeluarkan segala daya upaya untuk lancarnya penyelenggaraan pilkada serentak di Kota Surabaya. “Kami mengucapkan terima kasih tak terhingga,” kata Didik.

Terkait penyelenggaraan pilkada serentak di Kota Surabaya tahun ini, menurut Didik, ada tiga catatan dari Tim Risma-Whisnu. Pertama, tentang kehadiran pemilih yang dirasa masih rendah.

“Ke depan KPU harus menemukan cara kreatif, bukan hanya sosialisasi ‘kapan tanggal pemilu’ tetapi juga peran warga untuk pentingnya hadir di TPS,” tandasnya.

Catatan kedua, tentang pemasangan atribut alat peraga. Ke depan, diharapkan harus diformulasikan bagaimana cara yang pas untuk mengatur partisipasi warga untuk memeriahkan pelaksanaan sosialisasi pilkada, yang pada akhirnya akan meningkatkan kehadiran pemilih.

Ketiga, tentang maraknya kampanye hitam yang ditujukan untuk pasangan Risma-Whisnu. Praktik begal pilkada sejak dari awal pendaftaran hingga fitnah yang menimpa tim kampanye dan pasangan calon, seolah-olah melakukan money politik.

“Padahal itu tidak pernah terjadi dan tidak pernah dilakukan tim kampanye. Ke depan, penindakan terhadap kampanye hitam model ini harus aktif dilakukan Panwaslu agar integritas pilkada terjaga,” harap Didik.

Menyikapi protes Tim Rasiyo-Lucy tentang dana kampanye Risma-Whisnu, tambah Didik, Tim Kampanye Risma-Whisnu minta semua pihak untuk menunggu hasil audit dana kampanye tersebut. Sampai sejauh ini, jelasnya, tidak ada satu rupiahpun dana kampanye yang masuk ke tim kampanye dari sumber yang tidak jelas.

“Semua dana kampanye tiap rupiahnya dari penyumbang yang jelas, bisa dipertanggung-jawabkan dan diizinkan oleh undang-undang,” tegasnya.

Tim Risma-Whisnu minta semua pihak menghormati proses dan menunggu hasil audit. “Janganlah menghakimi sebelum fakta audit keluar, yang pada akhirnya seolah adalah mencari-cari alasan kesalahan pada kemenangan Risma-Whisnu,” tuturnya. (goek)