BONDOWOSO – Pengembangan geopark tidak bisa hanya bertumpu pada pelestarian alam semata. Nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat juga harus dirawat agar keberadaan geopark benar-benar berdampak pada kesejahteraan rakyat.
Pandangan tersebut disampaikan Pembina Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Bondowoso, Sinung Sudrajad, dalam talkshow yang digelar JMSI Bondowoso bertajuk Seni dan Budaya Lokal Menuju Panggung Global, Mampukah Bondowoso Pertahankan UNESCO Global Geopark? di aula SKB, Jumat (6/2/2026) malam.
Wakil Ketua DPRD Bondowoso ini mengapresiasi peran JMSI yang dinilainya konsisten menghadirkan ruang diskusi kritis sekaligus konstruktif dalam mengawal arah pembangunan dan pemajuan daerah.
Menurut Sinung, geopark sejatinya merupakan kesatuan antara alam dan budaya. Keduanya tidak bisa dipisahkan jika tujuan akhirnya adalah kesejahteraan masyarakat.
“Geopark itu bukan hanya tentang alam. Di dalamnya ada budaya. Kalau alamnya lestari tapi budayanya tergerus, kesejahteraan tidak akan tercapai. Begitu juga sebaliknya, keduanya harus berjalan seiring,” jelas Sinung, sebagaimana keterangannya, Senin (9/2/2026).
Ia menyebutkan, Kabupaten Bondowoso memiliki posisi strategis dalam kawasan Ijen UNESCO Global Geopark, mengingat hampir seluruh hamparan warisan letusan gunung api purba berada di wilayah Bondowoso. Kondisi tersebut menjadi salah satu prasyarat penting pengakuan UNESCO.
Sinung juga mengingatkan bahwa secara administratif Bondowoso sejak awal telah menyiapkan fondasi kuat, salah satunya melalui penetapan Perda Rencana Induk Pariwisata Kabupaten (Riparkab) pada 2019 yang telah memuat klausul geopark, jauh sebelum pengakuan UNESCO pada 2022.
“Ijen UNESCO Global Geopark adalah satu kesatuan antara Banyuwangi dan Bondowoso. Seperti Gunung Sewu yang lintas daerah. Banyuwangi adalah mitra, bukan pesaing,” tuturnya.
Meski demikian, Ketua DPC PDI Perjuangan Bondowoso ini menilai masih diperlukan pembenahan tata kelola agar pengelolaan geopark berjalan lebih efektif dan selaras dengan kebijakan pembangunan daerah. Ia menekankan pentingnya penataan kelembagaan yang tepat agar pengelolaan geopark sejalan dengan perencanaan pembangunan di tingkat daerah, provinsi, hingga nasional.
Menurutnya, sinergi antarlembaga menjadi kunci agar pengelolaan geopark tidak berjalan parsial dan mampu berkelanjutan. Karena itu, ia mendorong agar pengelolaan geopark ditempatkan pada ruang perencanaan strategis daerah.
Terkait evaluasi UNESCO, Sinung menyampaikan optimisme bahwa status Ijen UNESCO Global Geopark masih dapat dipertahankan. Ia menilai kawasan ini memiliki modal kuat, terlebih dengan kesiapan Banyuwangi sebagai bagian dari satu kesatuan geopark.
“Kita masih punya waktu untuk berbenah. Dengan kerja bersama dan keseriusan semua pihak, saya yakin status ini bisa dipertahankan,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga geopark dari tarik-menarik kepentingan politik praktis. Menurutnya, pengelolaan geopark membutuhkan profesionalisme agar tujuan besarnya tetap terjaga.
Di akhir pernyataannya, Sinung menegaskan bahwa sejak awal terdapat komitmen bersama di Bondowoso untuk menempatkan kepentingan daerah dan rakyat di atas kepentingan kelompok.
“Geopark ini milik bersama. Semangatnya adalah kebersamaan untuk Bondowoso,” pungkasnya. (art/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










