oleh

Senin Mulai Ngantor, Risma Siap Bersih-bersih Kemensos

SURABAYA – Mulai Senin (28/12/2020) Tri Rismaharini memulai tugas barunya sebagai Menteri Sosial (Mensos). Mantan Wali Kota Surabaya dua periode ini melakukan perjalanan darat dari Surabaya ke kantor Kemensos RI di Jakarta, pada Minggu (27/12/2020).

“Kemarin balik Surabaya melalui jalur darat, kemungkinan ke Jakarta melalui jalur darat juga,” kata Risma kepada wartawan, Sabtu (26/12/2020).

Risma mengatakan, perjalanan darat dia lakukan karena dia ingin turun ke desa-desa untuk mengecek langsung wilayah mana yang membutuhkan bantuan dari Kemensos. 

Baca juga: Di Surabaya, Mensos Risma Beber Program Terobosan

Keinginannya itu, sebut Risma, tidak mungkin dilakukannya jika menggunakan transportasi udara. “Sekalian melakukan pengecekan pada daerah-daerah yang memerlukan bantuan,” jelasnya. 

Kepada wartawan, Risma juga menegaskan, bakal siap bersih-bersih di Kemensos. Hal ini, sebut Risma, penting dilakukan agar tidak terjerat kasus korupsi.

“Iya sebetulnya saya nggak mau ngomong detail. Karena itu pun akan saya lakukan, tapi paling penting adalah bagaimana kontrol keuangan itu bisa dilakukan dengan tepat,” ujar Risma.

Kendati demikian, Risma mengaku bersih-bersih di tubuh Kementerian Sosial tidaklah mudah. Pasalnya, anggaran Non APBN-nya cukup besar.

“Jadi, sistem itu memang berat, itu hampir seperberapa dikelola APBN. Yang non APBN itu juga besar sekali katanya. Saya belum tahu persis, kemarin saya hanya serah terima sebentar ketemu dengan para pejabatnya, kemudian saya sowan ke Bu Mega kemudian setelah itu saya kembali ke Surabaya,” ungkap Risma.

Terkait pengawasan anggaran, Risma tidak mengungkapkannya ke media. Namun Risma mengaku sudah menyiapkan cara agar kinerja Kementerian Sosial menjadi lebih baik ke depan.

“Ada lah, kalau tak sampaikan nanti ndak itu. Soalnya saya butuh internal, ada caranya,” ujarnya.

Dia menegaskan jika ingin tata kelola menjadi baik, maka yang ada di dalam harus baik. Begitu juga sebaliknya, kalau tata kelolanya tidak baik, outputnya pun menjadi tidak baik.

“Kalau mau baik, itu harus keluar baik, itu di dalam harus baik. Percaya omongan saya. Kalau di dalam nggak baik, keluar itu nggak akan baik. Pasti itu,” jelas Risma.

“Jadi tata kelola yang baik, pasti akan menghasilkan output yang bagus. Tapi kalau tata kelolanya amburadul pasti outputnya jelek. Jadi karena itu tata kelolanya itu yang harus diperbarui, harus dikelola dengan betul,” paparnya. (goek)