MADIUN — Ruwatan massal yang diikuti sekitar 200 peserta menjadi pembuka rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-53 PDI Perjuangan di Sasana Kridha Mulya, Desa Babadan Lor, Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun, Minggu (31/1/2026).
Tradisi adat ini digelar sebagai upaya menghidupkan kembali kearifan lokal yang mulai tergerus zaman.
Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Jawa Timur, Ristu Nugroho, menyebut ruwatan massal merupakan bagian dari warisan budaya yang memiliki nilai spiritual dan sosial tinggi, namun kini mulai jarang dilakukan.
“Ruwatan ini adalah tradisi leluhur kita yang perlahan mulai luntur. Karena itu kami berupaya menghidupkannya kembali, dan ternyata respons masyarakat sangat luar biasa,” kata Ristu.
Ia menjelaskan, meski persiapan kegiatan terbilang singkat, antusiasme warga justru tinggi. Hal ini menunjukkan masih kuatnya keterikatan masyarakat dengan nilai-nilai budaya dan tradisi lokal.
Lebih dari sekadar ritual adat, ruwatan massal juga menjadi sarana penyampaian pesan ideologis dan sosial. Ristu menegaskan, kegiatan ini sejalan dengan pesan Ketua Umum PDI Perjuangan agar kader dan masyarakat kembali membumikan nilai Pancasila, terutama semangat gotong royong.
Selain itu, ruwatan massal juga dimaknai sebagai pengingat pentingnya menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam. Menurut Ristu, berbagai bencana alam yang terjadi belakangan ini tidak lepas dari kerusakan lingkungan.
“Ibu Ketua Umum berpesan agar alam tidak hanya dimanfaatkan, tetapi juga dirawat dan dipelihara. Ruwatan ini menjadi simbol kepedulian terhadap harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan,” ujarnya.
Ristu berharap, melalui ruwatan massal dan rangkaian kegiatan budaya lainnya, PDI Perjuangan tidak hanya hadir sebagai kekuatan politik, tetapi juga sebagai penggerak pelestarian budaya dan perekat sosial masyarakat.
“Kami ingin PDI Perjuangan tumbuh bersama rakyat, menjaga tradisi, merawat alam, dan memperkuat kebersamaan,” tutupnya. (ahm/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










