Selasa
16 Desember 2025 | 10 : 28

Risma: Penutupan Lokalisasi Turunkan HIV/AIDS

ilustrasi HIV-AIDS

ilustrasi HIV-AIDSSURABAYA – Wali Kota Tri Rismaharini menyatakan, penutupan lokalisasi di Surabaya mampu menekan perkembangan HIV/AIDS. Kata Risma, jumlah pekerja seks komersial (PSK) yang sebagian besar berasal dari luar kota turut menyumbang turunnya angka HIV/AIDS di Surabaya.

“Sekitar 95 persen dari PSK yang ada berasal dari luar Surabaya. Jadi setelah lokalisasi ditutup, jumlah penderita HIV/AIDS langsung turun,” ujar Risma, Jumat (24/4/2015).

Dia menegaskan, kalau teori tentang adanya lokalisasi mampu melokalisir jumlah penderita HIV/AIDS tidak benar. Berdasarkan temuannya, 3 anak yang menderita HIV/AIDS tertular dari orang tuanya yang sering “jajan” di lokalisasi.

“Tiga anak yang kami dampingi, satu di antaranya masih hidup. Mereka menderita HIV/AIDS setelah ibunya tertular dari ayahnya yang sering ke lokalisasi,” terang wali kota yang diusung PDI Perjuangan tersebut.

Sementara itu, terkait dengan dugaan adanya peralihan praktik prostitusi di kafe, karaoke dan panti pijat, mantan Kepala Bappeko Surabaya itu memastikan kalau pihaknya secara rutin melakukan sweeping di ketiga tempat itu.

Pemkot juga melakukan sosialisasi terhadap warga dan sekolah, disamping melakukan penguatan ekonomi keluarga, terutama dari sisi perempuan.

“Yang penting bagi kami adalah mampu mengurangi penyebaran HIV/AIDS lebih dulu,” cetus wali kota perempuan pertama di Surabaya ini.

Di tempat terpisah, Direktur Yayasan Embun, Yorris mengatakan, penutupan lokalisasi tidak bisa menjamin berkurangnya penderita HIV/AIDS di Surabaya, karena tidak bisa menghentikan prostitusi.

Menurut Yorris, pasca penutupan lokalisasi prostitusi di Surabaya masih bisa berkembang, salah satunya dengan menggunakan cara online, seperti via Facebook dan Twitter.

Yorris mengatakan, pemerintah seharusnya tidak melakukan pendekatan secara ekonomi bagi PSK. Dalam penilaian Yorris, ada tiga hambatan bagi perempuan, yakni kebijakan pemerintah yang merugikan perempuan, aturan agama, budaya dan pendidikan.

” Tiga hal inilah yang membuat kaum perempuan selalu ditempatkan di kelas kedua,” ujarnya.

Yorris menegaskan, penutupan lokalisasi adalah hak Pemerintah Kota Surabaya dan itu harus dihormati. Namun, penutupan itu tidak bisa menghentikan prostitusi selama masih ada kebijakan dan cara pandang yang keliru di masyarakat.

Sekadar informasi, di Surabaya ada 6 lokalisasi “resmi”, yakni lokalisasi Dolly, Jarak, Tambak Asri (Kremil), Moroseneng, Klakahrejo dan Bangunrejo. Semuanya sudah ditutup oleh Pemkot Surabaya. (rad)

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

LEGISLATIF

Permukiman Kota Jember Dikepung Banjir, 2 Legislator Banteng Ini Langsung Gercep ke Lokasi Terdampak

JEMBER – Wakil Ketua DPRD Jember, Widarto dan Anggota Fraksi PDI Perjuangan Wahyu Prayudi Nugroho bergerak cepat ...
KABAR CABANG

Jelang Konfercab dan Konferda, DPC PDIP Surabaya Matangkan Konsolidasi Organisasi

SURABAYA – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kota Surabaya memastikan pada Desember tahun ini seluruh ...
HEADLINE

Konferda–Konfercab Serentak di Surabaya, PDI Perjuangan Jatim Mantapkan Konsolidasi Pasca Kongres

SURABAYA — DPD PDI Perjuangan Jawa Timur memastikan kesiapan pelaksanaan Konferensi Daerah (Konferda) dan ...
KABAR CABANG

Konferda-Konfercab Serentak, Momentum Berdayakan Kader Perempuan

BANYUWANGI – DPC PDI Perjuangan Banyuwangi sambut Konferensi Daerah (Konferda) dan Konferensi Cabang (Konfercab) 38 ...
KRONIK

Sonny Dorong Kemandirian Budidaya Ikan, Perkuat Pokdakan dengan Bantuan Nila

BANYUWANGI – Upaya memperkuat sektor perikanan budidaya berbasis masyarakat terus dilakukan anggota Fraksi PDI ...
RUANG MERAH

Lima Kunci Kemenangan Banteng Jawa Timur dalam Soekarno Cup 2025

Oleh Eri Irawan TIM BANTENG Jawa Timur binaan DPD PDI Perjuangan Jatim berhasil menjuarai turnamen sepak bola ...